Zainab binti Muhammad

0 188

KIBLATMUSLIMAH.COM – Zainab tumbuh dalam keluarga nubuwah dengan meneguk akhlak dan kebiasaan kedua orang tuanya secara langsung. Muhammad diutus untuk rahmat sekalian alam, sedangkan Khadijah adalah sayyidah seluruh alam. Maka tak heran, tumbuhlah Zainab menjadi teladan sifat-sifat terpuji.

Sepanjang hidupnya, Zainab menyaksikan banyak peristiwa besar. Masa kecil ia lewati bersama saudara saudarinya di bawah asuhan ayah ibunya  yang mulia dengan penuh kasih sayang. Mendekati usia 10 tahun, ia menikah dengan Abul Ash ibnu Rabi,seorang pemuda Mekah yang terkenal dengan kekayaan dan integritas moral serta kecakapan berdagang.

Pada suatu saat ketika Abul Ash berada dalam sebuah perjalanan, terjadilah peristiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia. Yaitu diangkatnya Muhammad sebagai nabi dengan membawa risalah. Bersegeralah Zainab menyambut seruan dakwah yang dibawa oleh orang tuanya tersebut. Putri-putri Rasulullah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat itu Abul Ash, suami Zainab memilih bertahan pada keyakinan yang lama. Ia khawatir orang-orang akan mengatakan bahwa ia masuk Islam karena patuh pada istri yang dicintainya.

Ketika Rasulullah diperintah untuk dakwah terbuka, Abul Ash juga ikut menjadi sasaran kebencian kaum Quraisy. Ia diminta untuk menceraikan istrinya dengan kompensasi bahwa ia bisa menikahi wanita Quraisy yang ia sukai, namun Abul Ash menolak. Sementara itu Zainab tetap tinggal bersama suaminya karena saat itu surat At-Taubah belum turun. Belum ada ketetapan dalam Islam yang mengharuskan seorang istri yang beriman dipisahkan dari suaminya yang masih musyrik.

Zainab hidup bahagia bersama suaminya, tetapi ia pun turut menderita ketika ayahnya bersama kaum mukminin mengalami tekanan dan intimidasi dari kaum Quraisy.

Tatkala perang Badar berkobar, kaum musyrikin mengajak Abul Ash ikut memerangi kaum muslimin. Dalam perang itu Abul Ash menjadi tawanan kaum muslimin. Zainab pun mengirim tebusan untuk suaminya berupa kalung pemberian Khadijah, ibunya. Melihat kalung itu Rasulullah teringat istrinya yang selalu menepati janji. Zainab tidak memiliki suatu apapun yang berharga kecuali kalung tersebut. Setelah beberapa saat terdiam, Nabi bersabda dengan lembut dan santun, “Jika kalian melihat sebagai kebaikan maka bebaskanlah tawanan tersebut dan kembalikanlah harta tersebut.” Kemudian para shahabat mengiyakan. Rasulullah pun mengambil janji dari Abul Ash agar membiarkan Zainab untuk berhijrah karena Islam telah memisahkan hubungan antara keduanya.

Zainab selanjutnya keluar dari Mekah, namun orang-orang Quraisy menghalanginya, hingga menyebabkan kandungannya keguguran. Setelah kekuatan Zainab pulih dan tatkala orang-orang Quraisy lengah, Abul Ash membawa Zainab beserta Kinanah bin Rabi saudaranya ke tempat yang aman di sisi Rasulullah.

Pada bulan Jumadil Ula tahun keenam Hijriah, Abul Ash meminta perlindungan kepada Zainab dikarenakan barang dagangannya disita kaum muslimin. Tatkala shalat fajar, Zainab berdiri sambil berteriak, “Wahai manusia, sesungguhya saya memberikan perlindungan kepada Abul Ash bin Rabi.” Kemudian Rasululllah masuk menemui putrinya dan berkata kepadanya, “Muliakan tempat untuknya, namun ia tidak boleh mendekatimu karena engkau tidak halal baginya.

Setelah barang dagangannya dikembalikan, kemudian ia kembali ke Mekah, Abul Ash pun kemudian mengikrarkan diri masuk Islam. Dengan masuk Islamnya Abul Ash, Rasulullah kemudian mengembalikan Zainab kepadanya. Kesenangan dan kebahagiaan itupun kembali menyelimuti rumah tangganya.

Setahun berlalu, Zainab meninggal pada tahun 8 Hijriah karena sakit yang membekas pada saat keguguran ketika beliau berhijrah. Semoga Allah meridhainya. [Nur]

Leave A Reply

Your email address will not be published.