Warisan: Surat untuk Adik Afi

1 108

Kiblatmuslimah.com – Jujur setelah membaca tulisanmu yang katanya viral itu (viral atau sengaja diviralkan itu tergantung kebutuhan ya), saya sendiri cenderung setuju dengan pernyataan bahwa agama adalah warisan. Yesss, itu memang benar adanya menurut saya. Agama saya, Islam, adalah warisan luhur sejak Adam as diciptakan di muka bumi.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam) sesuai fitrah Allah! Disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30)

Seperti yang disebutkan ayat di atas, kebanyakan manusia tidak mengetahui. Bahwa Islamlah agama fitrah. Agama yang telah ada sejak pertama kali nenek moyang kita diciptakan. Semua manusia meyakini bahwa Adam as adalah nenek moyang kita, bukan? Kecuali ya, kalau yang beranggapan manusia itu keturunan kera, pasti akan sangat berbeda pemikirannya.

Sayangnya manusia itu sendiri yang menghapus jejak warisan tersebut. Dengan kesombongan dan keangkuhannya, manusia merasa akalnya lebih utama daripada wahyu yang sudah ada sejak jutaan tahun lalu, berusaha memanipulasi ayat dengan logika.

Hakikatnya mereka mengetahui kebenaran, akan tetapi kesombongan akut telah merusak nurani mereka. Hingga pada akhirnya menolak kebenaran. Memang begitulah sebenarnya kaidah sombong, sejatinya “Sombong ialah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Kenyataannya, sombong ternyata juga merupakan warisan. Ya, warisan dari iblis laknatullah. Semua tentu tahu kisah nabi Adam dan iblis. Mengapa iblis tidak mau menuruti perintah Allah untuk bersujud kepada Adam? Jawabannya satu, sombong. (QS. 7: 11-18)

Jadi jelas bukan, bahwa Islam adalah warisan? Begitu juga upaya penolakan terhadap Islam adalah warisan. Kata siapa, kita tidak bisa memilih warisan yang sudah diwariskan secara turun-temurun? Kita bisa kok memilih warisan yang benar. Syaratnya cuma satu, mengikis sifat sombong.

Sebagai emak-emak, melihat fenomena dirimu yang di-blow up sedemikian rupa, hati ini semakin gigih. Perjuangan untuk mendidik generasi begitu nyata berat dan susahnya. Tidak hanya akhlak yang perlu kami hiasi semanis mungkin. Tapi yang jauh lebih berat dari itu, yakni pemikiran yang harus kami kawal sedini mungkin.

Terima kasih adik Afi, dirimu telah mengingatkan kami (para ibu dan ayah) untuk senantiasa waspada, untuk kembali lagi ke rumah-rumah kami. Merengkuh hangat jiwa anak-anak kami. Membantunya agar senantiasa menetapkan diri pada warisan yang benar. Warisan fitrah para Nabi, bukan warisan kesombongan iblis.

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam) orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh. Zahwah Abida, emak beranak 3

 

1 Comment
  1. mamakRi says

    semoga si dedek di beri hidayah Allah dan mau mempelajari Al Qur’an dan Assunnah

Leave A Reply

Your email address will not be published.