Wanita Pejuang

0 11

Kiblatmuslimah.com Mengapa wanita sering disebut sebagai ratu rumah tangga? Karena secara fitrah, rumah adalah istananya. Dari sanalah para wanita melahirkan ilmuwan, politikus, ekonom, bahkan kyai, hafidz dan para mujahid. Dari rumahlah wanita mengatur segala urusan. Apalagi di jaman sekarang. Hanya dengan menekan keyboard pada ponselnya, tukang sayur sudah membawa keranjang belanja yang dipesannya. Lalu pegawai laundry telah siap dengan baju bersih nan wangi. Bahkan suami tercinta membawakan bakery yang dipesan sebelum tiba di rumah. Benar-benar jaman yang ajaib.

Mungkin tak hanya itu. Di antara para suami bahkan ada yang tak tega membiarkan sang ratu rumah tangga menyapu halaman rumahnya karena kuatir terjadi fitnah yang menimpa. Ia pun tak tega membiarkan sang istri sendiri menuju tempat mengaji berteman supir angkot meski jarak tempuhnya bisa dibilang dekat. Segala kebutuhan sang istri terpenuhi dengan sekejap mata. Benar-benar suami yang bertanggung jawab.

Tapi, tahukah Anda. Ada banyak wanita yang tak bisa mencicipi itu semua dengan mudah. Para wanita yang terpaksa dan dipaksa berjuang sendiri atau turut berjuang karena keadaan. Ia terpaksa keluar dari rumahnya untuk berbagai kepentingan. Ya, bagaimana bila yang mendorong gerobak sayur itu para janda yang harus berpanas-panas menantang terik matahari demi menghidupi anak-anaknya? Bagaimana bila yang membuat baju bersih nan wangi itu para wanita yang harus menghidupi kebutuhan keluarga karena suaminya terbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya? Meski ini menjadi tugas negara, tapi sampai sejauh mana republik ini mampu memperhatikan hal-hal remeh yang membentang dari Sabang hingga Papua sana?
Tak hanya itu. Atas nama dakwah Islam, banyak wanita yang mengajarkan dien ini tanpa pamrih. Mereka mendarmakan dirinya demi terjaganya sebuah ideologi. Tak peduli akan berbagai tantangan yang menghadang di depan matanya. Tak peduli akan teriknya matahari, bahkan hujan yang mengguyur bumi.

Maka…. Ada banyak sebab yang membuat para wanita harus keluar rumahnya. Mereka bukan ingin menjadi wanita karir. Mereka bahkan tak sempat bermewah-mewah demi menyenangkan dirinya. Mereka bekerja keras agar tak pernah ada mata rantai yang terputus begitu saja.
Mereka adalah wanita pejuang.
Mungkin kita masih ingat akan ibunda Hajar yang sendiri di tengah gurun nan panas. Berlari mencari setetes air demi bocah kecil yang terus menangis dalam buaian. Perempuan tegar ini ‘dipaksa’ menyelesaikan permasalahan hidupnya sendiri. Perintah yang langsung turun dari Tuhannya.

Kisah ibu Siti Qomariyah rahimahallah, istri pimpinan PP Muhamamadiyah yang legendaris AR. Fachrudin, juga bisa kita jadikan teladan. Wanita ini lebih suka hidup sangat sederhana asal suaminya memberi nafkah yang halal. Bahkan bila tidak mencukupi, beliau siap membantu mengatasinya dengan berdagang apa saja. Seperti dagang ikan di pasar, dagang hasil bumi dan lain-lain untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Bu AR tak pernah mengeluh apa pun yang dibawa sang suami ke rumah untuk nafkah keluarganya. Bahkan ketika Pak AR pulang tanpa membawa apapun, Bu AR tetap menyambutnya penuh rasa syukur karena bapak selamat dalam perjalanan hingga sampai ke rumah.

Bu Qom (panggilan beliau) selalu mendukung kegiatan dakwah suaminya meski tak menghasilkan uang. Beliau pun mendukung prinsip dakwah yang dipegang, bahwa dakwah harus ikhlas dan tidak boleh menerima “amplop”. Jika menerima uang, takut menjadi kebiasaan dan akhirnya mempengaruhi niat dakwah. Dan itu sangat berbahaya bagi seorang da’i yang berniat menyebarkan pesan-pesan Allah dengan ikhlas. Itulah sebab, meski laris diundang ceramah, AR. Fachrudin rahimahullah tetap miskin. Karena ceramahnya tak menghasilkan uang.

Demikian, mereka adalah wanita pejuang. Mereka tak sudi mengemis, meski berada dalam kekurangan.
(Nurul Istiqomah)

Leave A Reply

Your email address will not be published.