Wanita dan Perubahan Peradaban

0 205

Kiblatmuslimah.com – Wanita (baca: kita) tidak perlu berpura-pura atau sengaja enggan tahu bahwa salah satu upaya musuh merusak umat Islam adalah dengan mengeluarkan wanitanya dari dalam rumah.

Ada pertanyaan dan pernyataan yang menjadi masalah, “Bagaimana nanti nasib umat? Sementara mereka butuh kita dan umat terbengkalai.” Kita harus paham makna dakwah ‘kepada umat’ sehingga tidak terkecoh dengan dalih itu. Bukankah anggota keluarga juga umat? Bahkan termasuk yang paling dekat dengan kehidupan kita. Mereka menjadi tanggung jawab dan ditanyakan kelak di akhirat.

Sangat ironi seperti peemisalan berikut. Jika seorang perawat begitu teliti dan terjadwal untuk merawat orang lain, sementara anaknya sendiri malah dititipkan. Sehingga laktasi tidak sempurna pun pengasuhannya tidak terjamah.

Selalu tidak ada penyelesaian jika beralasan: agar ilmunya bermanfaat.

Berbagai keruwetan ini bersumber dari sistem sekuler yang mengatur kehidupan. Dengan bahasa emansipasi (selain juga karena keegoisan), menginduk anak sampai sekarang ini. Akankah estafet amburadul yang kita terima dari pendahulu, akan diteruskan kepada anak cucu nanti dengan tashawur yang sama? Tentu saja sebagai hamba yang shalihah dan taat, kita harus memotong mata rantai ini agar peradaban yang gemilang segera terwujud.

Jika ini adalah sebuah proses, maka materi ushul tetap harus ditanamkan kepada generasi berikutnya. Lebih-lebih ketika kita yang menjadi contoh bagi mereka.

Harus disadari bahwa kehidupan yang akan dihadapi anak-anak nanti lebih berat daripada kehidupan saat ini. Jika penanaman cara pandang (tashawur) sejak dini telah diupayakan, diharapkan mereka bisa menjadi cikal bakal bagi tumbuhnya peradaban Islami. Sebagaimana yang dicita-citakan dan telah dicontohkan pendahulu.

Sebagai Ibu, kini harus berpikir seribu kali jika ingin beraktivitas di luar rumah. Menambah peradaban menjadi baik atau sebaliknya?

📝yasmin

Leave A Reply

Your email address will not be published.