Wanita Berkarir Surga  

0 141

||Wanita Berkarir Surga

||Felix Y. Siauw & Tim Da’wah HijabAlila

||Al Fatih Press

||Cetakan Keempat, Juni 2020

 

Kiblatmuslimah.com – Sebenarnya isu feminisme di Indonesia sudah booming (meledak) semenjak kurang lebih enam tahun yang lalu. Namun menjadi booming kembali semenjak ada seorang influencer (pemberi pengaruh) yang menyuarakan pilihan hidupnya untuk “childfree”(bebas tanpa anak).

Oleh karena itu, pada bulan ini saya ingin merekomendasikan sekaligus me-review (meninjau) sedikit tentang buku keren yang membahas tentang feminisme dengan bahasa yang mudah dipahami.

Buku yang berisi 181 halaman dengan ilustrasi yang colorfull diawali dengan pendobrakan latar belakang dari suatu pertanyaan tentang definisi wanita sukses yang ada dalam benak kita. Jawabannya sudah jelas bahwa kebanyakan orang meletakkan standar kesuksesan wanita dalam segi materi, tingginya karir atau hal yang sifatnya duniawi. Pemikiran seperti itu sejalan dengan yang dikampanyekan feminisme.

Nah, akhirnya dijelasin tuh awal mula feminisme. Dimulai dari sejarah kaum wanita di masa lalu. Dahulu, wanita elite Yunani dijadikan tahanan. Wanita kalangan bawahnya dijadikan komoditi untuk diperjualbelikan. Di Romawi, tidak jauh berbeda. Wanita bertugas untuk menyenangkan dan menguntungkan tuannya.

Di India, wanita diharuskan memanggil suaminya dengan sebutan “yang mulia”, bahkan “Tuhan”. Kalau suaminya meninggal, setiap janda harus melakukan tradisi yang bernama sati, yaitu membunuh dirinya sendiri sebagai bukti pengabdian terhadap suaminya. Di Cina, wanita diperjualbelikan. Di Arab, perempuan adalah aib. Jika lahir anak perempuan, maka ia akan dikubur hidup-hidup.

Dari hal-hal di atas, feminisme bermula. Berawal dari keterpojokan karena adanya diskriminasi dan dominasi kaum pria. Tuntunannya sederhana. Kalau pria boleh, wanita juga boleh. Kalau pria bisa, wanita juga bisa. Mereka menuntut kesetaraan. Pada kenyataannya,  muncul kebebasan tanpa batas, hingga wanita menjadi lepas dari fitrahnya.

Dijelaskan dalam buku tersebut bahwa feminisme bukan solusi, malahan musibah yang sama buruknya. Dampak feminisme banyak sekali, dari free sex, aborsi, broken home, LGBT dll.

Islam datang sebagai solusi. Dalam buku tersebut dijelaskan cara Islam memandang wanita dan pria. Menyamaratakan keduanya adalah suatu bentuk ketidakadilan karena memang antara wanita dan pria kodratnya berbeda. Kebutuhannya berbeda. Tubuhnya berbeda. Amat sangat tidak adil jika standar pencapaiannya disamakan.

Kemudian dijelaskan lebih lanjut tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang wanita dalam perspektif Islam. Terakhir, saya ingin menutup review ini dengan sebuah ayat Al-Qur’an QS. An-Nisa’ ayat 32 yang terdapat di halaman 95 yang artinya,

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan(pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah karunia-Nya. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

 

Peresensi: zehraasyff

Leave A Reply

Your email address will not be published.