Visi dan Misi Sebuah Pernikahan

0 218

Kiblatmuslimah.com – Visi adalah gambaran mental, rencana jangka panjang dan jalan yang akan diraih. Sedangkan misi adalah langkah atau metode untuk mencapai yang diinginkan agar menjadi nyata.

 

Dalam kasus sebuah pernikahan, fenomena banyaknya perceraian disebabkan dua faktor. Pertama, keluarga yang tidak punya visi dan misi. Asal bertemu dan suka, melihatnya senang, cocok dengan perangai lalu menikah. Tanpa ada alasan kuat untuk mempunyai tujuan menikah, visi dan misi yang harus dibangun. Kedua, tidak ada proses mendidik di dalam rumah tangga. Tidak ada proses untuk membuat suasana menjadi hidup dan berkembang.

 

Lalu, bagaimana menentukan visi dan misi keluarga? Ada 4 aspek bagi pasutri untuk membuat visi dan misi keluarga, yaitu:

  1. Latar belakang historis suami dan istri sebelum menikah. Misalnya, suami-istri tersebut memiliki visi “keluarga harmonis” karena berasal dari keluarga broken home yang tidak ingin hal itu terjadi kembali.
  2. Given factorsatau faktor terberi, yang melekat pada diri. Misalnya, Suku Batak terkenal temperamental, ini bisa menjadi pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam menentukan visi.
  3. Realitas atau kondisi saat ini, yaitu kekurangan dan kelebihan keluarga yang bisa mendukung terwujudnya visi.
  4. Mimpi, yaitu keinginan keluarga, membentuk pandangan keluarga dll.

 

Kunci dari merumuskan visi dan misi ini adalah mendefinisikan dengan jelas. Misalnya, jika visi keluarga adalah bahagia, maka definisikan dulu maksudnya. Bisa saja, bahagia menurut keluarga yang satu adalah ketika mampu berkarya bersama. Sementara keluarga yang lain mendefinisikannya sebagai rekreasi rutin setiap pekan.

Adapun tiga hal yang perlu direnungkan dalam sebuah pernikahan dalam mewujudkan bahtera rumah tangga yang sevisi dan semisi, yaitu:

Pertama, yang kita inginkan dan yakini itu seperti apa? Misalnya, persepsi pasutri dalam memandang konsep harta. Istrinya memandang jika mempunyai harta yang banyak, ia akan gunakan untuk performa kecantikan. Sedangkan suaminya merasa harta itu dicukupkan untuk keperluan sehari-hari saja, adapun sisanya untuk amal. Maka perbedahaan konsep  ini perlu dibicarakan.

Kedua, mengenali diri satu sama lain yang melibatkan latar belakang dan perjuangan dalam pernikahan. Dalam berumah tangga, pihak yang berkompeten untuk mengatur adalah suami karena sifatnya yang qowwam (pemimpin). Kedudukan istri sifatnya sebagai pendukung. Jika madrasah pertama bagi anak adalah istri, maka suami menjabat kepala sekolah yang bertugas membuat kurikulum, mengawal, dan menjaga keseimbangan madrasahnya.

 

Al-Qur’an mengajarkan bahwa peran ayah layaknya arsitek peradaban. Seperti keluarga Nabi Ibrahim yang ternukil visi dan misinya dalam QS. Al-Baqarah: 128,

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

رَبَّنَاۤ اِنِّىۡۤ اَسۡكَنۡتُ مِنۡ ذُرِّيَّتِىۡ بِوَادٍ غَيۡرِ ذِىۡ زَرۡعٍ عِنۡدَ بَيۡتِكَ الۡمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيۡمُوۡا الصَّلٰوةَ

 Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat,”

اَلۡحَمۡدُ لِلّٰهِ الَّذِىۡ وَهَبَ لِىۡ عَلَى الۡـكِبَرِ اِسۡمٰعِيۡلَ وَاِسۡحٰقَ‌ؕ اِنَّ رَبِّىۡ لَسَمِيۡعُ الدُّعَآءِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (QS Ibrahim: 39)

Visi dan misi Nabi Ibrahim menjadikan keluarga beserta anak keturunannya menjadi generasi yang tunduk pada Allaah dan menjadi orang shalih yaitu nabi dan rasul, lagi mendirikan shalat.

Jadi, gambaran idealisme sebuah pernikahan yaitu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah di dunia juga di akhirat. Serta perlu mempersiapkan bekal ilmu. Adapun ilmu sendiri dibagi menjadi tiga yaitu ilmu syar’i, medis, dan seni komunikasi yang baik antar pasangan. Di antara bekal lain yang perlu dipersiapkan adalah mental, harta, dan fisik.

 

Sumber:

Ustadz Abu Fatiah Al Adnani. 2020. Visi dan Misi Sebuah Pernikahan. Solo: Kiblatmuslimah.com. Resume kajian Sekolah Pra-Nikah Kiblat Muslimah “Bersiap Menjadi Istri Idaman”.

 

Pramudyazeen

Leave A Reply

Your email address will not be published.