Viral, Menilik Persalinan Tiup-tiup

0 186

Kiblatmuslimah.com – Persalinan merupakan sebuah proses alami yang dilalui setiap wanita. Allah pun telah merancang organ-organnya sedemikian rupa untuk mengemban tugas mulia itu. Setelah 9 bulan 10 hari mengandung maka tiba saatnya melahirkan janin yang telah dikandungnya. Bukan hal yang mudah jika dibayangkan saja. Namun mudah bagi Allah. Mudah jika setiap wanita hamil mulai memberdayakan diri dan emosionalnya untuk menciptakan persalinan yang aman, lancar dan menyenangkan.

 

Novel Damanikseorang bidan di daerah Depok, Jawa Barat memperkenalkan persalinan tiup-tiup minim trauma. Beliau menyebutkan persalinan tiup-tiup adalah proses melahirkan yang menggunakan metode penekanan atau dorongan yang kuat pada vagina tanpa ada tarik napas panjang pada saat kontraksi. Menurut beliau, dengan metode tiup-tiup ini maka persalinan menjadi minim trauma atau robekan. Metode ini adalah warisan dari nenek moyang, menurut pengalaman dari leluhur bahwa persalinan zaman dahulu dengan meniup-niup tanpa mengejan, meniupnya seperti meniup botol.

 

Syarat dalam mempraktikkan persalinan tiup-tiup ini tak lepas dari provider (Bidan/dokter) yang profesional dan pasien yang memberdayakan diri. Pasien harus konsultasi pada provider terlebih dahulu terkait janin yang dikandungnya, posisi dan tafsiran berat janin. Selanjutnya, jalan lahir ibu sehat dan memungkinkan untuk dilewati. Setelah syarat terpenuhi, selanjutnya ibu mulai memberdayakan diri dengan bergerak aktif selama hamil dan banyak minum air putih.

 

Kurang aktifnya ibu saat hamil sangat berpengaruh terhadap jalan lahir ibu. Bidan Novel pun menambahkan dengan cara sederhana bahwa mengepel sambil jongkok dapat membantu penurunan kepala bayi. Dengan posisi jongkok maka rongga panggul terbuka dan ada proses tiup-tiup yang mendorong perut ibu sehingga kepala janin turun.

 

Masya Allah, betapa mudahnya persalinan dengan metode tiup-tiup ini. Dari pengalaman bidan Novel, dapat disimpulkan bahwa untuk mewujudkan persalinan minim trauma butuh dukungan dari provider yang profesional, pasien yang memberdayakan diri dan lingkungan yang positif.

 

-Fauza R-

Leave A Reply

Your email address will not be published.