Ummu Muslim Al-Khulaniyah

0 133

Kiblatmuslimah.com – Ummu Muslim Al-Khulaniyah adalah seorang tabi’iyah, ahli ibadah yang zuhud dan istri shalihah yang senantiasa taat kepada suaminya, Abu Muslim Al-Khulani. “Wahai Ummu Muslim, siapkan bekalmu! Sesungguhnya tidak ada alat menyeberang di atas jembatan Jahannam,” ungkapan ini yang diucapkan oleh Abu Muslim kepada istrinya di setiap kesempatan.

Abu Muslim Al-Khulani Ad-Darani adalah pemuka tabi’in yang bernama asli Abdullah bin Tsaub. Beliau masuk Islam pada masa kenabian, tetapi tidak sempat bertemu dengan Nabi saw. Ia baru bisa memasuki kota Madinah pada masa Khalifah Abu Bakar. Sedangkan Ummu Muslim Al-Khulaniyah hanya dikenal dengan nama ini, terkenal karena kemasyhuran suaminya.

Dari mana kamu mendapatkannya?

‘Atha’ Al-Khurasani pernah bercerita bahwa suatu ketika Ummu Muslim berkata kepada suaminya, “Kita tidak memiliki tepung hari ini.”

“Apakah kamu memiliki sesuatu?” tanya Abu Muslim.

“Uang satu dirham hasil menjual kain tenun,” jawab Ummu Muslim.

“Berikan padaku dan tolong ambilkan kantong kulit itu!” pinta Abu Muslim.

Di tengah perjalanannya menuju pasar, ia memberikan satu dirham itu kepada pengemis yang mendekatinya. Ia lalu mengisi kantong kulitnya dengan ampas kayu dicampur debu, kemudian beranjak pulang. Setibanya di rumah, ia letakkan kantong tersebut di balik pintu, lalu pergi. Ummu Muslim membuka kantong yang berisi penuh, ternyata isinya adalah tepung yang sangat putih, lalu memasaknya.

Ketika Abu Muslim pulang, Ummu Muslim menyuguhkan roti kepadanya.

“Dari mana kamu mendapatkan roti ini?” tanya Abu Muslim keheranan.

“Engkau yang membawanya, wahai Abu Muslim,” jawab istrinya.

Abu Muslim segera menyantap roti tersebut sembari meneteskan air mata.

Doa yang terkabulkan

Ummu Muslim benar-benar ikhlas dalam pengabdiannya sebagai seorang istri. Pernah suatu ketika, tetangganya mengeruhkan keikhlasan dan kejernihan hatinya, tetapi berakhir dengan kebutaan. Setiap kali Abu Muslim pulang dari masjid, ia akan bertakbir di depan rumah dan pintu kamar, dan selalu disambut oleh istrinya dengan takbir pula.

Suatu malam, ia bertakbir namun tak terbalas. Ia pun masuk ke dalam rumah dan mendapati rumah gelap, tak satupun lampu menyala. Biasanya sang istri akan melepas sorban dan kedua sandalnya. Namun, kali ini tidak. Dengan heran, ia mendapati istrinya menundukkan muka sambil menggores-gores lantai dengan ranting di tangannya.

“Ada apa denganmu, wahai istriku?” tanyanya.

“Kamu memiliki kedudukan di hadapan Mu’awiyah (khalifah pada masa itu), sedang kita tidak punya pembantu. Seandainya kamu meminta Mu’awiyah agar memberimu pembantu, ia akan mengabulkannya,” jawab Ummu Muslim datar.

Abu Muslim segera menyadari ada sesuatu yang menimpa istrinya. Ia lalu menengadahkan muka ke langit seraya berdoa, “Ya Allah, butakan mata orang yang telah mempengaruhi istriku.” Sebelumnya memang ada seorang wanita datang menemui Ummu Muslim, menyuruhnya agar meminta bantuan kepada Khalifah.

Ketika doa Abu Muslim dipanjatkan, si wanita penghasut tengah duduk santai di rumahnya. Tiba-tiba pandangannya menjadi gelap. Ia lalu teringat kesalahan dan perbuatannya kepada Ummu Muslim. Segera ia menuju rumah Abu Muslim sambil menangis dan memintanya berdoa agar Allah mengembalikan penglihatannya.

Abu Muslim prihatin melihatnya, lalu berdoa kepada Allah dengan khusyu’. Kemudian Allah mengembalikan penglihatan wanita tersebut. Setelah itu, Ummu Muslim kembali hidup bersama suaminya dengan kejernihan jiwa dan hati.

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil hikmah agar lebih berhati-hati terhadap lisan dan komentar atas hidup orang lain. Jangan sampai komentar kita mengotori keikhlasan lawan bicara. Jangan sampai saran kita mengeruhkan suasana yang tadinya begitu indah dengan qana’ah dan kerelaan atas karunia Allah.

Ummu Muslim juga mengajarkan kepada kita tentang hakikat tawakal dari suaminya. Suami yang senantiasa mengingatkan istrinya bahwa barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan menjadikan solusi dari segala permasalahan. Kemenangan dan keberhasilan adalah kembali kepada Allah dalam segala hal, bukan kepada manusia yang sejatinya tidak memiliki apa-apa.

Sumber: Ahmad Khalil Jum’ah. 30 Sirah Tokoh Wanita Tabi’in. Jakarta Timur: Al-I’tishom Cahaya Umat.

-Peni Nh

Leave A Reply

Your email address will not be published.