Ummu Hakim Binti Al-Harist: Pahlawan yang Mengagumkan pada Malam Pengantin

0 169

Kiblatmuslimah.com – Dia adalah Ummu Hakim binti Al-Harits bin Hisyam Al-Qurasyiyyah Al-Makhzumiyyah. Ibunya adalah Fatimah binti Al-Walid, saudara perempuan dari Khalid bin Al-Walid.

Sebelumnya dia adalah istri dari Ikrimah bin Abi Jahal. Dia masuk Islam sebelum suaminya, yaitu pada peristiwa Fathu Mekah. Ketika ia masuk Islam, suaminya melarikan diri ke Yaman. Maka dia pun meminta jaminan keamanan bagi suaminya dari Rasulullah. Lalu dia meminta izin kepada beliau untuk pergi mencari suaminya. Rasulullah pun mengizinkannya sehingga dia berhasil membawa suaminya kembali, lalu suaminya masuk Islam dan terbunuh sebagai syahid di medan perang.

Kemudian dia dinikahi oleh Khalid bin Sa’id, dan pernikahan ini memiliki kisah yang menarik. Sejarah telah menuliskan untuk kita tentang kisah Ummu Hakim sebagai seorang pahlawan yang mengagumkan pada malam pengantinnya bersama Khalid bin Sa’id.

Al-Waqidi mengatakan: Sebelumnya Ummu Hakin bin Al-Harits adalah istri dari Ikrimah bin Abi Jahal, lalu Ikrimah terbunuh sebagai syahid di Ajnadin. Ummu Hakim pun melalui masa iddahnya selama empat (4) bulan sepuluh (10) hari. Kemudian Yazid bin Abi Sufyan melamarnya dan Khalid bin Sa’id pun mengirimkan utusan kepadanya untuk menawarkan lamaran kepadanya. Dia pun menerima lamaran Khalid bin Sa’id dan dinikahi dengan mahar empat ratus (400) dinar.

Ketika kaum muslimin sudah sampai di Marajush Shuffar dan Khalid termasuk orang yang ikut dalam perang Ajnadin dan Marajush Shuffar, Khalid bin Sa’id ingin menikahi Ummu Hakim. Maka Ummu Hakim pun berkata, “Bagaimana jika engkau mengakhirkan pernikahan ini hingga Allah membubarkan kumpulan (pasukan) ini?” Khalid menjawab, “Sesungguhnya jiwaku mengatakan bahwa aku akan terbunuh dalam peperangan ini.” Ummu Hakim pun berkata, “Kalau begitu lakukanlah!” Maka Khalid bin Sa’id pun menikahinya di atas jembatan yang ada di Marajush Shuffar. Setelah itu jembatan tersebut dikenal dengan jembatan Ummu Hakim.

Lalu Khalid pun melaksanakan walimah pernikahannya, dia mengundang shahabat-shahabatnya dan menjamu mereka. Namun sebelum mereka selesai menyantap hidangan, pasukan Romawi datang menyerang. Salah seorang di antara mereka maju dan mengajak berduel, maka Khalid bin Sa’id pun maju dan bertanding dengannya hingga terbunuh.

Melihat hal tersebut, Ummu Hakim langsung mengikat baju pengantinnya bahkan masih ada bekas wewangian padanya. Dia pun ikut bertempur dalam peperangan dahsyat yang berlangsung di atas sungai tersebut, kedua pasukan bertempur dengan gagah berani dan saling menyerang dengan pedang. Pada hari itu Ummu Hakim berhasil membunuh musuh dengan menggunakan tiang pasak dari tenda yang digunakannya untuk bermalam pertama dengan Khalid.

Seorang pengantin berperang pada malam pengantinnya. Sungguh keberanian dan kekuatan yang luar biasa!!! Renungkanlah wahai saudariku, sang pengantin wanita itu membela agamanya dalam menghadapi musuh-musuh Islam dari kalangan bangsa Romawi. Serta menunjukkan keberanian dan kekuatan yang telah membuatnya berhasil membunuh tujuh orang laki-laki Romawi. Padahal dirinya adalah seorang wanita yang lemah secara fisik namun menjadi kuat karena keimanannya terhadap Rabbnya.

Ialah cinta karena Allah, dari Allah, kembali pun pada Allah. Tak ada sesal saat perpisahan. Tak ada jeritan meronta saat kehilangan. Kita, wanita muslimah akhir zaman dengan segala sikap dan perilaku yang jauh dari sempurna. Namun, tidak ada kata tidak mungkin jika tekad telah tertanam kuat hingga melahirkan amalan indah pada diri. Berharap bahwa kita dapat menjadi penerus para musllimah yang telah berhasil mengukir sejarah. Bukan karena kecantikannya, bukan. Bukan karena tahtanya, bukan. Namun karena padu padan akhlaq yang elok dan menawan dengan balutan syari’at.

Begitulah kiranya kita, menghisabi diri pada malam-malam indah. Berharap agar esok dapat menjadi lebih baik. Jika malam itu pun tak terbangun, insyaAllah kita berakhir dengan keadaan yang menawan.

Semoga Allah menjadikan tiap lelaki shalih menjadi imam dalam menegakkan cita-cita agama yang mulia yakni Islam. Pun sebaliknya, menjadikan tiap wanita shalihah menjadi istri yang dapat memperkokoh perjuangan para lelaki shalih. Barakallahu fikum

Ref: Ummu Isra’ binti Arafah. 2017. 66 Muslimah Pengukir Sejarah. Solo: Aqwam. Hal: 23-25.

(Qonita)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.