Ummu Fadhl Lubabah binti Al-Harits radhiallahu ‘anha

0 433

Kiblatmuslimah.com – Ummu Fadhl Lubabah binti Al-Harits. Beliau adalah bibi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam yang menikah dengan Abbas radhiallahu ‘anhu, paman Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam. Beliau mempunyai putra bernama Fadhl. Namanya selalu disertakan dalam panggilannya.

Pada suatu hari Ummu Fadhl yang telah hamil sedang berjalan dan bertemu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam. Kemudian Rasulullah menyapanya, “Hai, ummu Fadhl”

“Ya, wahai Rasulullah” Jawab Ummu Fadhl

Kemudian Rasulullah berkata, “Sesungguhnya engkau sedang mengandung seorang anak laki-laki”

 

“Apa maksudnya? Apakah karena orang-orang Quraisy telah bersumpah tidak ingin mendapat anak perempuan?” Tanya Ummu Fadhl

 

Kemudian Rasulullah menjawab, “Bukan karena itu. Tetapi, memang seperti yang kukatakan tadi (anak yang dikandungnya adalah laki-laki). Jika engkau melahirkannya, maka bawalah ia kepadaku”.

Setelah Ummu Fadhl melahirkan, beliau membawanya kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah memberinya nama Abdullah seraya berkata, “Bawalah anakmu ini. Kelak, engkau akan mendapatinya sebagai seorang anak yang pandai dan bijaksana”.

Abdullah bin Abbas dilahirkan ketika kaum muslimin sedang menjalani masa pemboikotan yang dilakukan oleh Quraisy terhadap Bani Hasyim

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah mendo’akannya dengan do’a sebagai berikut, ‘Ya Allah, pahamkanlah dia tentang agama ini dan ajarkanlah ta’wil (tafsir) kepadanya’. Ketika Rasulullah wafat, usia Ibnu Abbas sekitar 13 tahun. Dia dikenal sebagai ulama terbesar umat dan digelari Al-Bahr (laut), karena memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas. Itulah cara Allah azza wa jalla memberikan kesejukan ke dalam hati ibunya (Ummu Fadhl), ketika beliau menyaksikan sendiri keutamaan dan keunggulan ilmiah yang dimiliki putranya yang terus bertambah setiap harinya.

Ummu Fadhl menyibukkan dirinya dengan belajar berbagai hal dari Rasulullah baik itu petunjuk, kesabaran, akhlak, maupun ilmu hingga beliau menjadi salah seorang wanita yang banyak meriwayatkan hadits.

Ketika kebahagiaan hati diisi dengan iman yang menggelora, maka ketika beliau mengetahui bahwa Rasulullah telah kembali ke sisi-Nya, hatinya menjadi sedih. Namun, beliau tetap sabar dan menyerahkan segalanya kepada Allah agar meraih pahala orang-orang yang sabar. Beliau tetap berpegang teguh dan tetap rajin beribadah, hidup zuhud, qiyamul lail, dan berpuasa. Bahkan beliau giat menuntut ilmu dan bekerja keras untuk berdakwah di jalan Allah.

Setelah melalui perjalanan begitu panjang dalam hidupnya. Beliau terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Beliau telah berjasa untuk Islam dengan karya dan pengorbanannya demi tegaknya dienul Islam. Salah satu jasanya adalah perannya yang sangat besar dalam melahirkan dan mendidik ulama terbesar umat ini, Abdullah bin Abbas. Ibnu Abbas adalah pundi kebaikannya yang akan beliau rasakan hasilnya kelak di hari kiamat. Semoga Allah memberi karunia kepada kita untuk dapat melahirkan dan mendidik generasi akhir zaman yang berjuang demi tegaknya dienul Islam.

“Apabila manusia telah meninggal dunia, maka pahala seluruh amal perbuatannya akan terputus, kecuali tiga perkara; shadaqah yang terus mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendo’akannya”

 

-Hunafa’ Ballagho-

 

Sumber:

Mahmud Al-Mishri. 2013. 35 Sirah Shahabiyah Jilid 2 Cetakan ke-8. Jakarta Timur: Al-I’tishom.

Leave A Reply

Your email address will not be published.