Umat Butuh Femininitas

0 190

Kiblatmuslimah.com – Kita punya sekian banyak masalah yang hanya bisa diselesaikan dengan menyuburkan kembali femininitas. Feminin atau femininitas berasal dari Bahasa Prancis. Femininine adalah sebuah kata sifat yang berarti “kewanitaan” atau menunjukkan sifat perempuan (ed). Memandang narasi femininitas, terlihat bahwa kegagalan kita dalam membentuk umat disebabkan pendekatan yang terlalu maskulin. Memang dengan maskulinitas, telah mampu membuat gerakan, mendirikan yayasan, membentuk jamaah, mengelola perusahaan dan perkumpulan, tetapi masih tidak mampu membangun umat. Banyak orang yang mampu menyusun visi-misi, masterplan, rencana-rencana jangka panjang dan pendek, juga bisa mendesain AD-ART dan dengan mudah membangun organisasi.

 

Femininitas itu telah diredupkan oleh sekolah, yakni sejak tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Selama itu kita diguyur dan dicekoki dengan intelektualitas. Diajari tentang fakta, logika, nalar, argumentasi, hal empirik; semua yang tergapai oleh indra. Kita telah menjadi manusia kasat mata, bersandar pada bukti, mengandalkan observasi dan begitu terukur. Begitu tersurat, sangat denotatif. Belajar bahwa tiga tambah tiga adalah enam. Terkejut tak siap menerima kenyataan lain bahwa tiga tambah tiga adalah bahagia.

 

Modernitas dan industri juga tak bersahabat dengan femininitas karena lebih akrab dengan profesionalitas. Industri lebih percaya pada ikatan bisnis daripada dedikasi. Modernitas menggantungkan dirinya tolok ukur daripada rasa. Dalam modernitas dan industri, setiap hari berkutat dengan sistem, prosedur, mekanisme dan SOP atau alur kerja. Di pekerjaan femininitas tumbuh rasa meranggas dan merana karena pekerjaan hadir atas alasan ekonomi, bukan welas asih.

 

Terkadang kerasnya hidup, seakan memaksa femininitas untuk menepi. Kerasnya hidup hanya untuk super hero saja. Hidup itu ‘kejam’ dan tak ada tempat bagi rintihan dan air mata. Hidup itu ‘keras’,  hanya cocok bagi yang macho lagi berotot. Kegemulaian akan disisihkan kejamnya kenyataan. Jargon evolusionisme semacam “Natural Selection” atau “Survival of the Fittest” seakan memastikan bahwa hidup hanya untuk batu karang. Belum lagi sampah emansipasionisme telah sepakat memusuhi kata “lemah”.

 

Namun dalam pembentukan umat, kita lebih membutuhkan femininitas daripada maskulinitas. Kata ‘ummah’ atau sering disebut ‘umat’, satu akar dengan kata “ummun” yang berarti ibu. Oleh karena itu, yang bisa membangun ummah adalah orang yang punya karakter feminim, yaitu imam. Imam adalah ummul ummah, ibunya umat. Kita telah menghasilkan banyak amir, leader, komandan, tetapi gagal membentuk imam. Imam adalah laki-laki yang memimpin dalam kerangka pendekatan feminim. Dengan penekanan atas cinta, kasih sayang, empati, kepedulian, perasaan, nurani, keikhlasan, dan ketulusan.

 

Pemimpin tempo dulu, khususnya di masa khulafaurasyidin memiliki kapasitas sebagai pemimpin umat. Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Al Khaththab, Utsman bin Al Affan, dan Ali bin Abu Thalib adalah para pemimpin yang berurai air mata dalam mengurus urusan umat. Mereka adalah pemimpin yang mencapai kapasitas itu dengan penggunaan firasat dan perasaan. Cukup ironis bahwa kita sekarang ini malah berkata, firasat itu tidak keren. Keren itu logika dan problem solving. Padahal, firasat dan perasaan adalah kekuatan mukmin yang ditakuti musuh Allah. Hal ini karena perasaan dan firasat orang mukmin dituntun oleh Allah. Rasul pernah berkata, “Hati-hati dengan firasat mukmin. Firasatnya adalah cara ia melihat sesuatu dengan menggunakan cahaya Allah.”

 

Peresume:

PramudyaZeen

 

 

Sumber:

Adriano Rusfi. 2019. Femininitas Jalan Pulang Fitrah Bunda. Tangerang: Ihsan Media Group.

Wikipedia (femininitas).

Leave A Reply

Your email address will not be published.