Umar dan Abdul Malik, Ayah dan Anak yang Mulia

0 84

Kiblatmuslimah.com –  “Bukankah Anda tahu bahwa setiap umat itu memiliki orang yang mulia? Orang mulia bagi Bani Umayyah adalah Umar bin Abdil Aziz dan dia akan dibangkitkan pada hari kiamat menjadi umat yang satu”. (Muhammad bin Ali bin Al-Husein)

Umar bin Abdul Aziz memiliki 15 anak, tiga diantaranya adalah wanita. Mereka seluruhnya memiliki prestasi dalam hal taqwa dan tingkat keshalihannya. Akan tetapi, Abdul Malik bagaikan inti kalung di antara saudara-saudaranya atau seperti bintang di tengah-tengah mereka. Beliau adalah seorang yang sopan, mahir dan cerdas. Umurnya masih muda namun akalnya begitu dewasa.

Beliau tumbuh dalam ketaatan kepada Allah sejak memasuki usia remaja. Beliau adalah orang yang paling mirip dengan Abdullah bin Umar, di antara keturunan Al-Khathab. Khususnya dalam hal ketaqwaan, rasa takutnya bermaksiat dan taqarrubnya kepada Allah dengan ketaatan.

Telah diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah mengumpulkan para penghafal Kitabullah dan para fuqoha’ di Syam, lalu berkata, “Sesungguhnya aku mengundang kalian untuk suatu urusan kezhaliman yang terjadi dalam keluargaku (yakni pada masa khalifah Sulaiman). Bagaimana pendapat kalian?”

Mereka menjawab, “Wahai amirul mukminin, sesunguhnya hal itu bukanlah tanggung jawab Anda dan dosanya ditanggung oleh orang yang merampas hak tersebut”. Namun jawaban tersebut belum bisa memuaskan hati Umar.

Kemudian salah seorang di antara mereka yang tidak sependapat dengan pendapat tersebut berkata, “Undanglah Abdul Malik, wahai amirul mukminin! Beliau layak untuk Anda undang karena ilmu, kefakihan dan kecerdasannya”. Tatkala putra Umar, yakni Abdul Malik masuk, amirul mukminin bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang harta yang diambil oleh anak-anak paman kita (Sulaiman) secara zhalim? Padahal orang-orang yang memiliki hak tersebut telah datang dan menuntutnya, sementara kita mengetahui hak mereka.”

Abdul Malik berkata, “Menurut hemat saya, hendaknya Anda mengembalikan barang tersebut kepada yang memiliki, selagi Anda mengetahui urusannya. Karena jika Anda tidak melakukannya maka Anda telah berserikat dengan orang yang mengambil hak dengan cara yang zhalim”. Menjadi teranglah hati Umar, menjadi tenanglah jiwa beliau dan hilanglah rasa gelisah yang menyelimuti hatinya.

Pemuda keturunan Umar ini lebih memilih hidup di bumi ribath (perbatasan untuk menjaga serangan musuh) dan menetap di salah satu desa yang dekat dengannya daripada tinggal di Syam. Beliau menuju ke sana dan tinggalkan Damaskus yang penuh dengan taman subur, pepohonan yang rindang dan sungai-sungai yang indah.

Ayahanda beliau –kendati telah mengetahui betul akan keshalihan dan ketaqwaannya- masih merasa khawatir jika anaknya tergelincir oleh tipu daya syetan. Umar amat mendambakan jika anaknya senantiasa menjadi pemuda yang tegar. Beliau selalu ingin mengetahui urusannya, selagi mampu. Beliau sama sekali tidak meremehkan urusan ini.

Maimun bin Mahran, menteri Umar bin Abdul Aziz sekaligus penasihatnya bercerita, “Aku menemui Umar bin Abdul Aziz, sedangkan aku lihat beliau tengah menulis surat yang ditujukan untuk putra beliau Abdul Malik. Beliau bermaksud menasihati putranya, memberikan pengarahan, peringatan dan kabar gembira.”

Di antara yang Umar bin Abdul Aziz tulis adalah,

“Amma ba’du, sesungguhnya orang yang paling berhak untuk menjaga dan memahami perkataanku adalah engkau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala –alhamdulillah- telah mengaruniakan kebaikan kepada kita sejak kecil hingga sekarang. Maka ingatlah wahai anakku akan karunia Allah kepadamu dan juga kepada kedua orang tuamu! Jauhilah olehmu sifat takabur dan merasa besar! Karena hal itu adalah perbuatan setan. Sedangkan setan adalah musuh yang nyata bagi orang-orang yang beriman.

Ketahuilah, sesungguhnya aku mengirim surat ini untukmu, bukan karena aku mendengar suatu berita tentangmu. Aku tidak mendengar berita tentangmu kecuali yang baik-baik. Hanya saja telah sampai kepadaku tentang kebanggaanmu terhadap dirimu. Seandainya rasa ujub ini muncul pada dirimu hingga menyebabkan aku tidak menyukainya, maka engkau akan melihat sesuatu yang tidak kau sukai dariku”.

Maimun berkata, “Kemudian Umar menoleh kepadaku dan berkata, ‘Wahai Maimun, sesungguhnya dalam pandangan mataku Abdul Malik begitu baik. Namun aku khawatir jika kecintaanku kepadanya mengalahkan pengetahuanku terhadapnya. Sehingga aku mendapatkan diriku seperti orang tua yang buta, pura-pura tidak tahu terhadap kekurangan anaknya. Maka datanglah kepadanya, selidikilah keadaannya dan lihatlah jika melihat tanda-tanda kesombongan dan kebanggaan pada dirinya! Karena dia masih terlalu muda, belum tentu aman dari tipu daya syetan’.

Maka Maimun melakukan perjalanan menemui Abdul Malik hingga bertemu dengannya. Maimun meminta ijin lalu masuk. Ternyata dia adalah seorang pemuda yang masih belia, gagah, tampan dan tawadhu’. Dia duduk di atas alas dari rambut. Dia mendekat kepada Maimun, kemudian berkata,

Abdul Malik           : “Aku telah mendengar ayah menyebut-nyebut kebaikan Anda. Saya berharap agar  Allah memberikan manfaat karena Anda”.

Maimun                 : “Bagaimanakah keadaan Anda hari ini?”

Abdul Malik           : “Mendapatkan kebaikan dan nikmat dari Allah. Hanya saja saya takut jika terpedaya oleh sikap husnuzhon ayah kepadaku. Padahal saya belum mencapai keutamaan sebagaimana yang beliau duga. Aku khawatir jika kecintaan beliau kepadaku, telah mengalahkan pengetahuan beliau tentang diriku. Sehingga hal itu menjadi bencana bagiku”.

Maimun                 : (Aku sungguh heran bagaimana keduanya bisa sepakat pemikirannya) “Aku belum pernah melihat seorang anak dan orang tua semisal keduanya, semoga Allah merahmati keduanya”.

Semoga Allah meridhai Khalifah Rasyidin yang kelima, Umar bin Abdul Aziz. Semoga Allah memberikan kebahagiaan kepada beliau di kuburnya dan juga Abdul Malik putera dan jantung hatinya. Semoga keselamatan menyertai mereka di hari perjumpaan dengan Ar-Rafiqul A’la, keselamatan menyertai keduanya di hari kebangkitan bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.

     (Hunafa’ Ballagho)

Ref:  Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya. Jejak Para Tabi’in. Terjemahan: Shuwaru min Hayati At-Tabi’in. Solo: Pustaka At-Tibyan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.