Tsumamah, Penyuplai Sembako yang Tertawan

0 83

Kiblatmuslimah.com – Tsumamah bin Utsal Al-Hanafi, nama yang mungkin tak banyak orang ketahui. Bukan membahas tentang sosoknya, namun hegemoni yang ia miliki sebelum dan pasca masuk Islam. Agama yang tak pernah merendahkan para pemeluknya. Kecuali yang memang ingin merendahkan dirinya sendiri dengan membelot dari syariat yang diyakini atau bahkan memang enggan mempelajari.

Berawal di tahun ke-6 hijriyah, hari ke-10 Muharram, Rasulullah mengirim ekspedisi menuju Dhariyyah. Dhariyyah adalah sebuah tempat yang membutuhkan waktu tempuh tujuh malam dari Madinah, terletak di tengah jalan menuju Bashrah. Ekspedisi dipimpin oleh Muhammad bin Maslamah bersama 30 pasukan berkuda. Mereka memperoleh ghanimah berupa unta dan kambing serta berhasil membunuh 10 orang Bani Bakr bin Killab, sedang sisanya lari tunggang langgang.

Dalam perjalanan pulang, salah seorang pasukan muslim menawan seorang keturunan Bani Hanifah, ia adalah Tsumamah bin Utsal Al-Hanafi. Sebelumnya tak ada satupun kaum muslimin yang mengenalnya hingga dihadapkan pada Rasulullah dan beliau langsung mengenali sosok yang ditawan ini. Tiga hari terlewati, ia tetap menolak untuk masuk Islam meski akhlak muslim begitu memuliakan tawanan.

Setelah dilepaskan, justru hidayah itu datang. Ia berpikir, “Untuk apa tetap menuruti hawa nafsunya dengan menolak agama yang penuh dengan adab sopan santun lagi terpuji?” Lalu ia bersyahadat dan menyatakan bahwa dahulu tak ada wajah, agama dan negeri yang paling ia benci melainkan wajah, agama dan negeri nabi. Namun setelah masuk Islam, ketiganya menjadi hal yang paling ia cintai.

Bagaimana mungkin Rasulullah tak bahagia? Tsumamah adalah penyuplai biji-bijian terbesar dari Yamamah yang sering diekspor ke Makkah. Bukan karena kekayaannya, namun hegemoninya dengan banyaknya pengikut terutama pedagang yang taat padanya. Saat umrah ke Makkah, Tsumamah menampakkan keislamannya. Meskipun begitu, semua nyali pembesar kafir Quraisy ciut dan berpikir seribu kali jika ingin mengganggunya. Ia dibiarkan begitu saja.

Tak dinyana, kaum kafir Quraisy ternyata mendatangi Nabi. Mereka melobi Rasulullah agar Tsumamah mencabut sumpahnya mengenai pemberhentian ekspor biji-bijian Yamamah ke wilayah Makkah. Pemasok ini enggan jika barang dagangannya memenuhi kebutuhan kaum kafir Makkah. Namun akhirnya Rasulullah berhasil membujuknya melalui surat yang beliau kirimkan. Lalu Tsumamah mencabut sumpahnya dan kafir Quraisy lega.

Penyuplai sembako berupa biji-bijian yang disegani lawan ternyata takluk oleh mulianya ajaran Islam. Hegemoni tetap kuat, kemuliaannya bertambah seiring sapaan hidayah. Terukirlah sejarah emas bahwa Islam pernah menguasai perekonomian yang mencengkram lawan.

Penulis: Alifia M.

Editor: UmmA

Sumber: Muhammad Khudhari Bek. 2018. Nurul Yaqin. Solo: Ummul Quro. Halaman: 260-262.

Leave A Reply

Your email address will not be published.