Tragedi Kashmir, Kisah Hilangnya Surga Dunia (2)

0 17

Kiblatmuslimah.com – Penguasa Kashmir melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap penduduk muslim yang terjadi pada tahun 1931, ketika seorang komandan Hindustan melecehkan Al-Qur’an. Akibatnya, umat Islam bangkit melawan dan api peperangan berkobar di sana. Kekerasan yang mencengangkan pun terjadi pada 13 Juli 1931. Kaum muslimin Kashmir terdesak dan konon, kondisinya hampir mirip seperti terdesaknya para sahabat di perang Mu’tah.

Inilah yang jarang diungkap oleh media mainstream. Masyarakat muslim Kashmir hanya diberitakan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah, tapi tidak dirunut asbabul wurudnya kenapa hal itu bisa terjadi. Padahal, secara sosio-kultural, penduduk Kashmir adalah masyarakat multi rasial yang meski berbeda agama, umat Islam dan pemeluk Hindu di sana bisa hidup berdampingan: rukun dan damai. Ada semacam chemistry antara ajaran sufi dan Hindu yang menjembatani perdamaian mereka. Dinamika yang cukup unik. Ketika dua agama besar saling menghormati dan tidak terlampau fanatik. Tapi pemerintahnya justru berulah dan memicu konflik.

Salah satu kebijakan pemerintah Kashmir yang tidak bijkasana adalah penerapan undang-undang darurat dan ketika itu surat kabar pro-Pakistan diblokir. Unjuk rasa dipimpin oleh Abdul Qayyum menentang pemerintah Kashmir, Hari Singh. Tapi aksi protes ini justru dibalas dengan pembantaian yang sangat keji.

Pemerintah kerajaan melakukan pembumihangusan terhadap sejumlah desa-desa muslim. Situasi ini menyulut kemarahan muslim Kasmir lainnya yang kemudian melakukan gerakan solidaritas. Ketika itulah Pakistan pun memberikan bantuan militer demi membantu saudara-saudara seaqidah yang dibantai. Dukungan Pakistan ini sangat efektif. Wilayah Srinagar berhasil dikuasai. Karena terdesak, Singh meminta bantuan kepada India.

Seakan merasa terpanggil untuk memecahkan konflik antara India dan Pakistan, PBB menengahi dengan membagi Kashmir menjadi dua. India mendapat jatah 100.569 km persegi dari wilayah Kashmir dengan populasi 10 juta jiwa. Pakistan menguasi 78.932 km persegi wilayah Kashmir dengan populasi penduduk sekira 300 ribu jiwa. Ibu kota wilayah Jammu-Kashmir yang dikuasai India adalah Srinagar. Pusat adminisitratif Azad-Kashmir yang dikuasai Pakistan adalah Muzaffarad.

Alih-alih berdamai, meski sudah dibagi-bagi sedemikian, konflik India-Pakistan masih berlanjut. Sir Frederic Bennet, dalam tulisannya yang berjudul “Excerpts from Kashmir Today” menyebutkan beberapa faktor kegagalan resolusi PBB tersebut: Pertama, pembagian wilayah itu sarat dengan kepentingan nasional negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi strategis. Kedua, Inggris sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap Kashmir, mempunyai kepentingan lebih besar terhadap India dibandingkan Pakistan. Singkatnya, resolusi itu omong kosong belaka.

Mengharapkan PBB menjadi juru damai dan menghentikan penindasan yang menimpa umat Islam, seperti menengakkan benang basah. Pelik memang. Di satu sisi, India menuduh muslim Kashmir adalah separatis yang membuat onar. Di sisi lain, bagi umat Islam Kashmir, India adalah penjajah yang hendak merampas tanah kelahiran mereka. Sejarah yang akan membuktikan siapa yang bersalah. Faktanya, tentara India telah melampaui batas: melampiaskan kebrutalan kepada muslimin Kashmir. Toko-toko dijarah lalu dibakar. Rumah-rumah dihancurkan. Kebun-kebun dihanguskan. Hewan-hewan ternak dipanggang dalam keaadaan masih bernyawa. Siapa yang berusaha melawan, akan berakhir mengenaskan: ditembak tepat di jantung, atau ditikam di leher dengan hujaman mematikan.

Lebih dari itu, kedzhaliman paling keji yang dilakukan mereka adalah mengebiri anak-anak lelaki dan mensterilisasi anak-anak perempuan dalam rangka menghambat populasi umat Islam. Berikut daftar tragedi kemanusiaan dan korban kebiadaban penjajahan India: 35.000 muslim-muslimah meninggal, insya Allah syahid. 22.000 di antara mereka korban pembakaran hidup-hidup. 30.000 orang luka parah dan sebagian besar cacat sepanjang hayat. 69.000 disiksa dalam penjara. 25.000 hidup terlunta-lunta setelah tempat tinggal mereka menjadi objek penghancuran dan pengrusakan vandalisme India. 3.575 muslimah diperkosa secara bergilir. 110 di antara mereka meninggal akibat kekerasan seksual. Itu semua dilakukan hanya dalam waktu dua tahun, 1990-1991.

Oleh: Muhammad Faishal Fadhli

(Tulisan ini pernah dipublikasikan di akun Facebook pribadi beliau: Ichang Stranger IV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.