Tragedi Kashmir, Kisah Hilangnya Surga Dunia (1)

0 11

Kiblatmuslimah.com – Yusjanul ‘Ushfuuru didzanbil Jamaali. Seekor burung dipenjara dalam sangkar, tersebab dosa keindahan. Maksud dari ungkapan ini adalah, “Terkadang, keindahan bisa menjadi sebab datangnya petaka. Perempuan, karena kecantikannya, ia diperkosa oleh lelaki bejat. Sebagaimana Nabi Yusuf yang harus mendekam di dalam sel tahanan. Ketampanannya seakan menjadi ‘dosa’ yang karenanya ia harus dipenjara.” Sunguh, pengibaratan ini sangat relevan untuk menggambarkan nasib buruk yang menimpa Kashmir: lembah bersalju yang pesonanya sangat menyihir. Orang-orang menyebutnya sebagai; “Surga dunia”, “Paradise on the earth”, “Jannatu Al-Ardh.”

Secara geografis, Kashmir merupakan wilayah yang sangat strategis: terletak di antara tiga Asia; Asia Tengah (India-Pakistan), Asia Selatan (Afghanistan), dan Asia Timur (China). Kashmir dikenal sebagai objek wisata yang menyajikan pemandangan eksotis di sebelah selatan Gunung Himalaya. Resor ski menjamur di sana. Tanahnya subur. Hijau. Asri. Udaranya pun sejuk. Dialiri air lembah. Dilewati sungai-sungai besar. Dikelilingi gunung-gunung. Kebun-kebun dan taman-taman bunga pun ikut mempercantik wajah Kashmir. Keelokan itu yang kemudian membuatnya diperebutkan. Selama 72 tahun, konflik berdarah di bumi Kashmir terus berlangsung. Selalunya yang menjadi korban adalah umat Islam.

Pada tahun 94 H (712 M), dakwah Islam sudah mulai menyentuh Kashmir. Seorang Jenderal Daulah Umawiyah, Muhammad bin Al-Qasim Ats-Tsaqafi, memasuki wilayah Sind dan melanjutkan ekspedisinya sampai Kashmir. Ia dikenal sebagai Fatih Bilad As-Sind: pembebas negeri Sind. Penyebarluasan Islam di wilayah Sind dan India semakin gencar di masa Daulah Abbasiyah, yakni ketika Al-Mu’tashim menjabat sebagai Khalifah pada tahun 218-225 H (833-839 M). Pemerintahan Islam di Kashmir berlangsung selama berabad-abad lamanya. Pada masa Sulthan Agung Jalaluddin Akbar, di tahun 1587, Kashmir pun masuk ke dalam wilayah Kekaisaran Islam Mughal.

Keindahan Kashmir terawat dengan baik selama Islam berkuasa. Namun wajah cantiknya mulai tercabik-cabik ketika Sikh Ranjit Singh; pemeluk Hindu dari Punjab, menaklukkan Kashmir pada tahun 1819. Ia hanya bisa menumpahkan darah dan tidak cakap mengelola negara hingga akhirnya Kashmir jatuh ke tangan Inggris. Kemudian Inggris menjual Kashmir kepada Maharaja Galuh Singh: tuan tanah keturunan Dogra dari Jammu. Galuh hanya mengeluarkan 7,5 juta Rupee untuk mendapatkan Kashmir.

Dari sini bisa dilihat, walaupun pada akhirnya Inggris meninggalkan wilayah India dan sekitarnya, tetapi sebenarnya bukan semata-mata karena ingin memberi kemerdekaan. Inggris pergi sebab misi utamanya telah selesai: menyebar fitnah dan memecah belah. Dalam perkembangannya, masyarakat jajahan Inggris yang beragama Hindu, membuat negara Republik India. Sedangkan mereka yang memeluk Islam, mendirikan negara Pakistan. Saat kedua negara itu berdiri, tersisa satu wilayah potensial bernama Kashmir yang sebelumnya telah dijual dengan harga murah.

Inilah cara Inggris melecehkan dan menyudutkan umat Islam. Bagaimana pun juga, apabila suatu wilayah bisa dibeli dengan uang, hal tersebut mengindikasikan bahwa kemerdekaan rakyatnya setara dengan secuil harta. Inggris seakan sudah memprediksi, kelak dua negara yang baru lahir itu akan berperang memperebutkan wilayah Kashmir. Ya, secara dzhahir, ketika Inggris pergi, Kashmir memang diberi hak untuk memilih ikut India atau Pakistan. Namun pada hakikatnya, ia dijebak dalam satu kondisi yang sangat dilematis: pemimpinnya yang beragama Hindu pasti akan memihak India, sementara mayoritas masyarakatnya yang beragama Islam, sudah barang tentu akan condong ke Pakistan.

Anggaplah secara politis, umat Islam Kashmir kalah dan harus menerima pemimpin mereka yang bergelar raja. Mau tidak mau, Kashmir harus mengakui pemerintah yang sah secara de jure dan de facto. Hanya saja masalahnya, di mana pun berada, dan dalam kondisi selemah apapun, kaum muslimin tidak akan tinggal diam jika didzhalimi. Apalagi ketika ajarannya dihina.

Oleh: Muhammad Faishal Fadhli

(Tulisan ini pernah dipublikasikan di akun Facebook pribadi beliau: Ichang Stranger IV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.