Tips Menguatkan Hafalan

0 64

Kiblatmuslimah.com – Ilmu amatlah penting, karena ia merupakan patokan seseorang sebelum beramal. Syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan sampai kepada kita hari ini tanpa perjuangan para ulama’ yang mempelajari, menghapal, mengamalkan serta mengajarkan ilmu tersebut. Menghapal adalah cara untuk menjaga kemurnian ilmu-ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dari itulah betapa pentingnya menghapal.

Berikut ini adalah tips menguatkan hapalan:

  1. Meluruskan niat

Di dalam psikologi pendidikan modern, niat dibagi menjadi dua yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Intrinsik yakni belajar dan mengumpulkan pengetahuan untuk dirinya sendiri, sekedar untuk menambah wawasan dan untuk kepuasan diri. Sedangkan ekstrinsik, yaitu mengumpulkan ilmu untuk tujuan lain. Sebagai jembatan untuk mencari ijazah, kerja atau yang lainnya. Hal ini berbahaya, karena biasanya saat tujuannya sudah dicapai, ia akan lupa terhadap ilmu yang dimiliki.

Niat di dalam Islam memadukan kedua hal tersebut. Ketika seseorang menginginkan ilmu untuk dirinya pribadi, maka ia memiliki keterbatasan usia. Dan ketika ia menginginkan ilmu untuk kepentingan dunia, maka duniapun terbatas karena sementara. Maka, jika hendak belajar, menghapal atau melakukan sesuatu, niatkanlah pada yang tidak punya keterbatasan, yaitu niatkan kepada Allah Ta’ala! Orang yang menghapal jika diniatkan karena Allah, ia tidak akan lelah menghapalnya karena Allah yang akan tanamkan hapalan itu ke dalam jiwanya.

Manakala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk belajar, wahyu yang pertama turun adalah ayat اقرا باسم ربك . Ketika malaikat Jibril mengatakan “iqra” (bacalah), Rasulullah menjawab, “Maa ana  bi qori” (aku tidak bisa membaca). Diulang pertanyaan itu hingga tiga kali. Hingga akhirnya beliau didekap erat oleh malaikat Jibril, lalu disempurnakan kalimat itu oleh Malaikat Jibril اقرا باسم ربك الذي خلق.

Setelah kalimatnya disempurnakan, seketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bisa mengikuti bacaan. Seakan-akan ada isyarat, “Hai Muhammad, baca! Jangan karena engkau tidak punya guru yang mengajarkan, kamu tidak pernah ada kesempatan untuk belajar, tidak punya kemampuan untuk membacakan sesuatu!

Lakukan semua itu karena Allah (“bismi robbik”)! Niatkan karena Allah! Inginkan karena Allah! Yang menciptakan kamu  (“alladzi kholaq”) saja bagitu mudah, apalagi membuatmu mudah untuk mengikuti bacaan.”

Maka ketika sesuatu dilakukan karena Allah Ta’ala, Nabi yang tadinya tidak bisa  mengucapkan bacaan itu, ditanamkan oleh Allah Ta’ala Al-Qur’an di dalam dirinya. Lalu dibacakan kepada beliau, beliau seketika bisa membaca. Disini ada isyarat bahwasanya yang susah/mustahil akan dimudahkan, manakala dilakukan karena Allah Ta’ala.

  1. Kesungguhan

Dalam menuntut ilmu syar’i dibutuhkan kesungguhan. Tidak layak bagi penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencarinya. Dengan izin Allah Ta’ala maka seorang penuntut ilmu akan dimudahkan dalam mempelajari serta menghapal ilmu tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang, (1) Orang yang rakus terhadap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya, (2) Orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

Termasuk di antara kesungguhan penuntut ilmu adalah mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik, mencari posisi tempat duduk yang strategis/dekat dengan guru, mengikat ilmu dengan mencatat yang disampaikan oleh guru, menghapal dengan sungguh-sungguh serta mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang telah didapat. Sesungguhnya aplikasi ilmu akan membantu menancapkan ilmu itu kedalam jiwa. In syaa Allah.

Rajinlah berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat dan berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat.

  1. Tingkatkan Amal Shalih

Ilmu itu diturunkan kepada orang yang beramal shalih. Ketika seseorang melakukan amalan shalih sehingga meraih kecintaan Allah, maka Allah akan memudahkan segala urusannya. Termasuk untuk menghapal ilmu.

  1. Jauhi maksiat

Seseorang akan terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat, bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa Allah Ta’ala.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hapalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Kalau sudah bisa menjalankan yang ini, maka in sya Allah akan dijaga hapalannya serta senantiasa berada dalam kebaikan.

[Halimah]

Leave A Reply

Your email address will not be published.