Tiga Penuntut Ilmu

     Tiga Penuntut Ilmu

0 220

                                                        

 

Kiblatmuslimah.com – Wahai saudaraku, jika dalam menuntut ilmu hanya berniat untuk mencari kemegahan, kedudukan, atau jabatan; artinya sedang menjual agama untuk membinasakan diri, menjual akhirat hanya untuk mendapatkan dunia. Ketahuilah, ini adalah perniagaan rugi, hancur yang menghancurkan dunia dan akhirat.

Jikalau niat untuk mencari ilmu hanya mencari keridhaan Allah dan menjemput hidayah maka berbahagialah. Malaikat akan mengembangkan sayapnya apabila engkau berjalan. Ikan di dalam lautan akan memintakan ampunan jika engkau melangkah untuk menuntut ilmu.

Sebelum itu, hendaklah diketahui bahwa hidayah itu merupakan buah dari ilmu. Setiap hidayah pasti ada bidayah (permulaan) dan nihayah (kesudahan). Ada zahir (tampak) dan batinya. Tidak akan pernah sampai nihayah sebelum mengerti bidayahnya. Begitu pula, tidak akan tahu batinnya kecuali sudah menyempurnakan zahirnya.

Manusia di dalam menuntut ilmu ini terbagi dalam tiga keadaan:

Pertama: Orang yang mencari ilmu untuk menjadikannya sebagai bekal ke negeri akhirat. Tidak bemiat mencari ilmu kecuali untuk keridhaan Allah dan negeri akhirat. Orang ini termasuk golongan orang yang beruntung.

Kedua : Orang yang mencari ilmu hanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang segera (dunia), kemuliaan, pangkat dan harta benda. Namun, sebenarnya dia menyadari hal ini. Merasakan di dalam hatinya ada kejahatan dan kehinaan yang sedang dialaminya. Maka orang ini adalah berada di dalam golongan yang berbahaya.

Jikalau mati sebelum sempat bertaubat, maka dalam keadaan “su-ul khatimah”. Kemudian urusannya terserah kehendak Allah (dimaafkan atau disiksa). Kalau dia mendapat taufik sebelum matinya lalu bertaubat dan sempat mengamalkan ilmu yang telah dituntutnya, dikumpulkan bersama golongan yang beruntung. Orang yang bertaubat dari dosanya, sama seperti orang yang tidak berdosa.

Ketiga: Orang yang telah dikuasai oleh setan. Menjadikan ilmu yang dituntutnya sebagai alat untuk menghimpun harta benda dan bermegah-megah dengan kedudukan serta merasa bangga dengan banyaknya pengikut.

Dia menggunakan ilmu yang dituntut itu untuk mencapai segala hajatnya dan mengait keuntungan dunia. Walaupun demikian, masih terpedaya lagi dengan sangkaan bahwa dia mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Merasa bahwa zahirnya menyerupai para ulama, tetapi batinnya telah lalai dikuasai oleh setan. Orang seperti ini akan binasa yaitu jahil dan tertipu. Sangat tipis kemungkinan untuk bertaubat, karena menyangka termasuk orang yang baik.

Wahai para penuntut ilmu, jadikanlah dirimu bersama dengan golongan yang pertama. Berhati-hatilah supaya tidak termasuk di dalam golongan yang kedua. Banyak sekali orang lalai telah direnggut oleh kematian sebelum sempat bertaubat maka rugilah dia. Jangan sama sekali termasuk ke dalam golongan yang ketiga, terjerumus ke jurang kebinasaan yang tidak diharapkan dapat diselamatkan atau diperbaiki keadaanya.

Oleh:Fyrda Ummu Drajat

Sumber: Kitab Bidayatul Hidayah karangan Al-Immam Al-Ghazali (kajian kitab bersama ustadz Khoiru Da’i)

Leave A Reply

Your email address will not be published.