Tiga Permata Manusia

0 235

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. al-Ankabut: 69)

 

Kiblatmuslimah.com – Sahabat, Allah menciptakan manusia dalam berbagai keadaan. Ada yang hidupnya serba kecukupan, apapun yang diinginkan akan segera terwujud. Namun tak sedikit yang serba kekurangan. Jangankan membeli barang mewah, untuk bertahan hidup saja serba sulit.

Inilah kehidupan dunia. Semuanya akan baik-baik saja ketika disikapi dengan benar. Terlebih bagi seorang muslim. Bagaimanapun keadaannya, akan senantiasa bersyukur. Ia akan menahan diri dari sikap tercela dan menjaga iffahnya, menjaga diri dari meminta-minta.

 

Dalam kitab Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Baihaqi, disebutkan ada tiga permata yang ada dalam diri manusia.

 

Pertama, ketika kamu menyembunyikan kefakiran, sampai-sampai orang menganggapmu kaya karena tak pernah meminta.

Sahabat, tokoh kita kali ini bernama Abah Ahmadun. Ia seorang lelaki bersahaja. Sehari-hari hanya disibukkan oleh dakwah di beberapa tempat berbeda tanpa pamrih. Keadaan ini membuat Si Abah tidak mampu mencari pekerjaan lain seperti berdagang, bekerja di kantor, dan sebagainya. Padahal ia memiliki istri dan beberapa orang anak.

Tetapi Abah Ahmadun tidak pernah meminta-minta, walau sesungguhnya sangat membutuhkan. Orang yang tidak mengerti pasti mengira ia kaya, karena keadaannya dianggap selalu tercukupi. Padahal bersikap demikian karena kekuatannya menjaga iffah di hadapan manusia. Meski boleh jadi, terkadang tak ada secuil makanan pun untuk keluarganya.

 

Kedua, ketika kamu mampu menyembunyikan rasa kecewa dan menunjukkan sikap legawa (mengalah).

Sahabat, orang seperti ini tidak akan peduli dengan pujian manusia. Baik dihina atau disanjung baginya sama saja. Ia tetap tersenyum, meski di depan orang yang membuat hatinya anyel (jengkel). Jiwanya benar-benar hanya bergantung kepada ridha Allah.

Kalau saja para ustadz bahkan pemimpin umat memiliki kepribadian ini, konflik akibat perbedaan pemikiran dan politik bisa diminimalisir dengan teladan para pemimpinnya. Sehingga, kehidupan masyarakat menjadi tentram.

 

Ketiga, ketika kamu menyembunyikan kesulitan, sampai-sampai orang menganggapmu hidup enak dan senang.

Sahabat, ujian adalah bentuk kasih sayang Allah. Namun, akibat terlalu fokus dengan ujian, kita lupa akan jutaan bahkan milyaran nikmat yang Allah berikan. Kamu terlalu sering mengeluh, sampai-sampai menggema ke seantero jagad. Karena kamu mengeluh di wall facebook, story wa, IG, seolah-seolah menjadi orang termiskin di dunia.

Namun tidak bagi orang yang disebut Imam Syafi’i ini. Dia sadar, segala yang dialami merupakan jalan hidup yang harus dilalui. Apa yang terjadi pada dirinya diyakini sudah tertulis di alam penciptaan. Ia juga yakin, daun kering yang jatuh tidak akan lepas dari izin-Nya.

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ وَإِن تُصِبۡهُمۡ حَسَنَةٞ يَقُولُواْ هَٰذِهِۦ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ يَقُولُواْ هَٰذِهِۦ مِنۡ عِندِكَۚ قُلۡ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلۡقَوۡمِ لَا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ حَدِيثٗا

Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mengatakan, “Ini dari sisi Allah”. Jika mereka ditimpa suatu keburukan, mengatakan, “Ini dari engkau (Muhammad).” Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?” (QS. An-Nisa: 78)

 

Ibra Hayasi

Sumber: Siapa Inspiratorku. Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si, Bupati Sumenep dan Pengasuh Ponpes Al Karimiyyah, Beraji.

Leave A Reply

Your email address will not be published.