Tidak untuk Valentine’s Days

0 158

Kiblatmuslimah.com – Dari Ibnu ‘Umar, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

 

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

 

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka termasuk bagian dari mereka”. (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Muhadist Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.

 

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah ﷺ bersabda,

 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

 

“Bukan termasuk golongan kami yang menyerupai selain kami”. (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

 

Valentine’s day merupakan perayaan yang selalu muncul setiap tahun, tepatnya tanggal 14 Februari. Perayaan ini biasa disebut dengan hari kasih sayang. Oleh sebab itu, orang-orang ramai merayakan hari valentine bersama yang dicintainya, seperti kekasih atau pacar.

 

Mereka saling bertukar hadiah, serta melakukan aktivitas menuju ke arah seks (zina), seperti ciuman, dan sebagainya. Ironisnya, aktivitas ini dilakukan juga oleh para remaja yang masih duduk di bangku pendidikan, konon mereka lakukan atas nama cinta pula.

 

Jika mencermati fakta Valentine’s Day di seluruh dunia, terkuak bahwa inti perayaan valentine adalah melakukan segala perbuatan yang mendekati zina. Bahkan sampai ber-zina pun merupakan hal yang biasa.

 

Negara Amerika menjadikan pekan Valentine’s Day sebagai The National Condom Week (Pekan Kondom Nasional)/ Safe Sex. Inggris menjadikan 14 Februari sebagai The National Impotence Day (Hari Impoten Nasional). Di Meksiko beberapa tahun lalu, perayaan valentine dilakukan dengan ciuman massal oleh sebanyak 40.000 pasangan. Di Amerika bahkan ada kompetisi ciuman terlama untuk meramaikan hari valentine ini.

 

Lalu, bagaimana di Indonesia? Ternyata tak jauh berbeda. Menjelang tanggal 14 Februari tiba, penjualan alat kontrasepsi menjadi lebih laris daripada hari-hari biasa. Bagj yang sudah punya pacar, sama-sama mempersiapkan diri untuk menyambut hari yang dinanti. Bagi yang belum punya pacar, gelisah sambil terus mengobral diri agar tidak sendiri dalam merayakan hari valentine nanti.

 

Persiapan itu biasanya dilakukan dengan hadiah yang identik dengan coklat. Para pelaku pasar pun memanfaatkan momen ini dengan berjualan coklat ala valentine.

 

Persiapan lain yang dilakukan para pasangan juga dengan memburu tempat mesum. Hal yang lebih memprihatinkan, pemilik tempat-tempat mesum ini pun memanfaatkan momen ini demi kepentingan bisnis mereka. Beberapa hotel bahkan ada yang menawarkan diskon khusus perayaan valentine.

 

Fenomena penjualan kondom dan coklat –sebagai hadiah valentine– yang laku keras, dan larisnya tempat-tempat penginapan mesum, sejatinya menunjukkan bahwa Valentine’s Day di Indonesia pun identik dengan seks bebas, sebagaimana di Barat. Padahal, Indonesia merupakan negeri yang mayoritas umat Islam.

 

Kenapa sebagian muslim ikut merayakan valentine? Mereka melihat banyak orang lain merayakannya, kemudian ada rasa tertarik, akhirnya ikut merayakan. Tanpa berpikir esensi dan latar belakang adanya hari valentine.

 

Kemudian bagaimana Islam memandang perayaan valentine? Sama sekali tidak ada kepedulian untuk berpikir ke sana. Inilah gaya hidup hedonis yang lahir dari akidah sekuler.

 

Seharusnya, seorang muslim wajib menjadikan Islam sebagai standar untuk menentukan baik dan buruk dalam melakukan aktivitas. Bukan ikut-ikutan budaya Barat. Ingat akan hadist ini, dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

 

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

 

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah ﷺ, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)

 

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

 

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

 

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669)

 

Anda Muslim? Say No to Valentine’s Days. Semoga bermanfaat, barakallahu fikum.

 

Salam ukhuwah fillah,

Ummu Ali Yusron (Aktivis muslimah, domisili Sukoharjo, Jawa Tengah)

Ummu Fayadh Indah Sari, S.Pd (Pengamat anak dan pengajar Matematika di SMA Negeri Kabupaten Bekasi serta domisili di Bekasi Kota, Jawa Barat, Istri dari Al Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani)

 

Muroja’ah dan diedit oleh:

Al Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd.I -Hafidzhahulloh Ta’ala-

(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Praktisi dan Pengamat PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Aktivis Pendidikan dan Kemanusiaan).

 

 

Referensi:

 

  1. Tulisan Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani tentang V-Day: https://www.remajaperubahan.com/2020/02/tadzkirohnasehat-bagi-remaja-islam.html?m=1 , https://kiblatmuslimah.com/merayakan-hari-valentine/ dan https://www.nahimunkar.org/haram-bagi-umat-islam/

 

  1. Buku Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Halloween. So What?, Penulis: Rizky Ridyasmara, Terbitan: Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.