Tetap Menyisakan Trauma

0 103

KIBLATMUSLIMAH.COM- Jam menunjukkan angka 10.40 ketika kami tiba di pelataran rumah sederhana alm. Siyono, di desa Brengkungan, Klaten. Sambutan hangat membuncah. Kami berjabat erat. Meski ini kali pertama bagi saya untuk bertemu.

Sosok yang cerdas. Demikian aku menilai perempuan bernama Suratmi yang biasa dipanggil Mufida itu. Setiap untai kata yang keluar dari lisannya, seolah bukan jawaban yang sembarangan terlontar. Patah-patah katanya tertata rapi. Tak asal bicara. Mencerminkan sosok yang telah tertarbiyah oleh tempaan lelaki istimewa.

Dua anak lelaki kecil nampak berada di dekatnya. Benar, mereka anak-anak Mba Fida. Dialah Hilmi yang masih menyusu dan Ibrahim yang belum genap 4th. Keduanya terus menggamit sang ummi. Seolah enggan berpisah.

“Apakabar mba?” sapaku.
“Alhamdulillah…” jawabnya.
“Apakabar anak-anak, mba?” tanyaku lagi.

Tak bisa dipungkiri. Bagi anak-anak (dan juga orang dewasa), kedatangan Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian Republik Indonesia, Densus 88, adalah peristiwa besar. Bagaimana tidak. Sekumpulan orang berseragam hitam dan bersenjata lengkap merangsek masuk ke dalam rumah yang juga dipakai sebagai tempat anak-anak TK belajar. Moncong-moncong senapannya, meski tak langsung berhadapan dengan mereka, cukup membuat sesiapa saja terkencing-kencing. Aduhai…. Jangankan Densus. Bertemu polantas di jalan saja tak sedikit yang dilanda cemas. Apalagi ini pasukan burung hantu yang bersenjata lengkap. Tentu menyisakan trauma panjang, yang tak mudah terobati.

Secara fisik, aku melihat si bungsu Hilmi masih nampak ceria. Wajahnya yang kentara bagai copy paste dengan almarhum ayahnya, seakan tak peduli dengan beban berat yang dialami sang ummi. Dia tampak enjoy saja dengan tamu-tamu yang datang.

Berbeda dengan si kakak, ibrahim. “Dulu, anak ini ceria. Dia selalu bersama saya,” tutur mbah putri, ibunda Siyono. “Kalau uminya pergi kemanapun ga klayu (ga ingin ikut, pen). Tapi sejak pernah ditinggal uminya untuk beberapa saat (demi menenangkan diri setelah kepergian suaminya dan akibat tekanan aparat), anak ini maunya jadi ingin selalu dekat dengan umi. Bahkan tidur pun, harus dengan umi. Padahal dulu tidak begitu.”

Trenyuh. Hatiku jadi bertanya. Apakah yang dipikirkan anak itu? Mungkin bukan sekadar rasa sedih yang tertanam dalam hatinya. Mungkin ia takterima ketika sang bunda berkata, bahwa ayahnya sudah berada di alam kubur. Bahwa ayahnya telah pergi menghadapNya dengan segenap amal sholih yang ditanamnya. Mungkin ia juga takrela bila sang bunda harus juga meninggalkannya. Karena tak ada lagi orang dewasa yang bisa mendengar keluh kesahnya.

Hari beranjak siang. Si kecil Hilmi merengek ingin dibuai. Setelah pulas, berganti Ibrahim mendekap sang umi. Terus didekap. Meski telah terlelap.

Leave A Reply

Your email address will not be published.