Teruntuk Adik Afi…(Lagi)

0 100

Kiblatmuslimah.com – Begitulah Dik, saat dirimu masih berstatus sebagai ‘anak’ dan bukannya ‘orang tua’. Merasa dilumat, bukannya disayang.

Manusiawi sih, Dik. Mana kita percaya kalau kita sebenarnya disayangi? Jika cara orang-orang menyayangi kita tidak menggunakan ungkapan rasa sayang yang kita harapkan. Yang ada kita merasa ditekan dan disalahkan. Merasa dilumat.

Jangankan ungkapan sayang dari sesama manusia. Teguran cinta dari Allah saja banyak yang maido. Padahal Allah Maha Benar dan Adil. Tapi ya itu tadi. Kalau sudah berhadapan dengan sisi manusiawi manusia, jadinya ya seperti ini. Merasa dilumat.

Padahal orang-orang yang menyampaikan nasihat atas tulisan Adik, tidak sembarangan nulis. Ada seorang kakak yang memosisikan dirinya tengah menghadapi adik sendiri. Ada seorang ibu yang sambil mengelus dada menahan tangis, tak rela jika Dik Afi dengan pemikiran demikian. Menganggap Dik Afi itu anak sendiri. Ada seorang guru yang di satu sisi berbangga punya anak didik yang peka, namun di sisi lain was-was jika lantaran anak didiknya berjalan di sisi yang membahayakan keselamatan akhiratnya. Sama sepertimu, dengan adanya hasil pemikiranmu yang demikian, kamipun sebenarnya merasa dilumat.

Tapi kembali lagi pada fitrah manusia. Adakalanya berbuat benar. Adakalanya merasa benar meski tak berbuat benar. Ada pula yang Allah Selamatkan dengan kesadaran bahwa ia berbuat tak benar ketika ia memang tidak sedang berbuat benar. Dan semoga kesadaran tersebut berlanjut dengan kesediaan untuk berbenah.

Apalagi Dik Afi yang meski muda belia tapi kan sudah baligh. Iya tho, Dik? Sudah baligh kan? Artinya tulisan dan ungkapan perasaan Dik Afi apapun bentuknya pasti dimintai pertanggungjawaban di pengadilan akhirat.

Makanya kami-kami ini hanya bisa menyampaikan tulisan yang diniatkan sebagai nasihat, bukannya ulegan. Karena tulisan Dik Afi yang entah bagaimana tersampaikan di layar kami, kelak akan ditagih juga di hari pembalasan: “Ada anak Muslim yang kamu tahu punya pemikiran seperti ini, trus apa yang kamu lakukan?” Dan di sinilah kami, Dik. Putar otak, peras hati berupaya menyampaikan nasihat lembut meski otak dan hati panas meradang. Etapi, memang sudah takdirnya, yang kami bisa hanya ‘melempar’, sedangkan Allah-lah yang menyampaikan lemparan itu ke tujuan. Sampai-sampai Adik merasa dikeroyok oleh ulegan. Merasa dilumat.

Ya sudah Dik, hanya segini yang bisa kami lumatkan. Eh… sampaikan. Karena kita sama-sama sudah baligh. Kita kembalikan penilaian pada se-Adil-adil Hakim, Dia yang Maha Bijaksana dan tak pernah menutup mata. Apakah tulisan Dik Afi merupakan sebentuk sikap kritis yang perlu diapresiasi atau sewujud kondisi krisis yang perlu segera dilurus-nasihati? Dan apakah tulisan kami bernilai hujat ataukah nasihat?

Mohon maaf dan terima kasih, sebelum dan sesudahnya.

 

Salam sayang,

Alláhummahdinii ash-shiraath al mustaqiim

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.