Tabi’iyat Cerdas Abdah binti Ahmad

0 121

Kiblatmuslimah.com – Ketika diri sedang merasa lemah, jiwa maupun raga, ada baiknya kembali tenggelam dalam kisah para salaful ummah. Melalui kisah-kisahnya, dapat mengobati keresahan yang sedang dirasa.

Mari kita mengenal sosok tabi’iyat yang mempunyai kecerdasan dan pemahaman ilmu agama mumpuni. Ialah Abdah binti Ahmad binti Athiyah Al-Ansi, saudara perempuan Abu Sulaiman Ad-Darani. Abdah tinggal bersama saudaranya, Abu Sulaiman, di desa Daraya,  Damaskus. Menurut pendapat yang lain, ia tinggal di suatu daerah yang bersebelahan dengan Damaskus. Abu Sulaiman Ad-Darani termasuk imam di antara para ulama berbagai negeri.

Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan, “Aku menceritakan kepada saudara perempuanku (Abdah) tentang jembatan Jahannam hingga membuatnya berteriak seharian, kemudian berhenti sendiri. Namun, begitu teringat lagi pada jembatan itu, ia kembali berteriak. Aku menanyakan tentang sebab teriakannya, ia membayangkan dirinya di atas jembatan itu yang membuatnya terombang-ambing.”

Pada lain kesempatan, ada kisah tentangnya soal cinta dunia. Abdah binti Ahmad mengatakan bahwa Abu Sulaiman Ad-Darani menuturkan, “Saat itu aku berada di Baitul Maqdis bersama para sahabat di masjid. Tiba-tiba aku sudah bersama seorang gadis yang mengenakan baju dan kerudung dari wol. Ia mengatakan, ‘Tuhanku dan Pelindungku, betapa sempit jalan ini bagi orang yang tidak mengikuti pentunjuk-Mu. Betapa sepi khalwat bagi orang yang tidak berada di dekat-Mu.’

Aku mengajukan pertanyaan kepadanya, ‘Hai gadis, apa yang membuat makhluk terputus dari Allah?’ Ia menjawab, ‘Cinta dunia. Ketahuilah sesungguhnya hamba-hamba mendapatkan seteguk cinta-Nya, membuat hati mereka dimabuk cinta hingga tidak ada yang mereka cintai bersama Allah.’ Kemudian ia mengungkapkan bait-bait syair berikut:

Berbekallah dengan amal perbuatan yang akan mendampingimu

Sesungguhnya pendamping orang di kubur hanya amalnya

Ketauhilah bahwa manusia hanya tamu bagi keluarganya

Ia tinggal sebentar di tempat mereka kemudian pergi.

Ada beberapa perkataan Abdah yang dapat menjadi renungan bersama. Abdah mengatakan, “Berbahagialah orang yang mewaspadai keinginan hawa nafsu yang menggoyahkan jiwa dan ledakan kemarahan. Gembira dengan sedikit dunia dan sabar dalam menghadapi pahitnya ketakwaan. Berbahagialah orang yang senantiasa meniti jalan yang lurus dengan kewaspadaan dan kehati-hatian. Membebaskan diri dari dunia dengan membawa pahala seperti melarikan diri dari binatang buas dan anjing.

Bahagialah orang yang dapat mempertahankan sikap yang lurus, mengukuhkan kebaikan saat kembali, menjadikan dunia sebagai lahan tempat menabur benih untuk menuai hasil yang menggembirakan kelak. Berbahagialah orang yang mengalihkan hatinya dari negeri keterpedayaan dan tidak berusaha untuk melibatkan diri di dalamnya yang dapat mengantarkan pada keterjerumusan dunia serta penghuninya dan membuatnya mengalami kehancuran.

Barang siapa yang meninggalkan dunia demi akhirat, maka ia mendapatkan keuntungan keduanya. Barang siapa yang meninggalkan akhirat demi dunia, maka ia mendapatkan kerugian keduanya. Setiap ibu diikuti anak-anaknya. Anak-anak dunia justru dijerumuskan pada kenistaan yang mendalam, belenggu besi, dan minuman darah bercampur nanah. Sementara, anak-anak akhirat diantarkannya kepada kehidupan sejahtera, kenikmatan abadi, dalam tempat teduh lega, air dituangkan, dan sungai-sungai mengalir tanpa saluran.

Bagaimana akan menjadi bijak orang yang menginginkan dunia? Bagaimana akan menjadi rahib ketika teringat perbuatan yang telah dilakukan namun hatinya tidak luluh? Memikirkan dunia adalah tabir yang menutupi akhirat dan hukuman bagi kalangan yang mencapai tingkat kewalian. Sementara, memikirkan akhirat menumbuhkan hikmah dan menghidupkan hati. Barang siapa yang melihat dunia berpaling darinya, dapat menyadari bahwa memang mempedayakan. Siapa yang melihat dunia datang kepadanya dengan berbagai hiasannya, maka cinta dunia pun tumbuh di hatinya sampai di hari tua. Barang siapa yang ma’rifahnya telah paripurna, maka terhimpun tekad dalam dirinya terhadap perintah Allah dan menjadi kesibukannya.”

Referensi: Dr. Abdul Aziz Asy-Syinawi. 2016. Biografi Tabi’in dan Tabi’iyat. Solo: Zam-zam. Hal. 416.

(qonita)

Leave A Reply

Your email address will not be published.