Sukaynah yang Tenang

0 195

Kiblatmuslimah.com – Sukaynah lahir tahun 47 H dan meninggal pada usia sekitar 70 tahun (117 H). Keturunan manusia-manusia mulia. Berasal dari Bani Hasyim dan Kabilah Qudho’ah. Permata Bani Hasyim di zamannya. Mengalir darah Rasulullah pada dirinya.
Keluarga
Sukaynah adalah julukan kesayangan ayahnya, artinya sakinah atau ketenangan. Nama aslinya Aminah binti Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ibunya adalah Rabbab binti Imriil Al-Qayiish bin Adi Al-Qalbi. Selain ibunya, dia dibesarkan oleh dua bibinya yang hebat yaitu Muhayya dan Salma.
Kakeknya, Imriil Al-Qayyish masuk Islam di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu. Umar langsung mengangkatnya sebagai pemimpin Kabilah Qudho’ah. Waktu itu ada beberapa kabilah andalan Umar untuk melawan Romawi. Bagian Kabilah Qudho’ah dipilih Imriil Al-Qayyish sebagai salah satu panglima jihad. Orang-orang menyebutnya sebagai seorang muslim yang diangkat sebagai panglima sebelum shalat satu rakaat pun.
Imriil Al-Qayyish memiliki tiga putri yang dinikahi Ali bin Abi Thalib dan putranya. Imriil Al-Qayyish berkata kepada Ali, “Aku akan menikahkan putriku Muhayya kepadamu. Putriku yang lain (Salma) kepada Hasan bin Ali. Dan Husain, aku akan menikahkannya dengan Rabbab.”
Husain menikahi beberapa wanita dan memiliki enam orang anak. Anak tertua Husain dari Rabbab adalah Abdullah. Sedangkan anak tertuanya secara umum adalah Ali Al-Akbar, ibunya adalah Laila binti Abi Murrah bin Urwah bin Mas’ud. Istri Husain ini adalah putri dari pembesar Tha’if yaitu Urwah bin Mas’ud. Sementara ibunya Laila adalah Maimunah binti Abi Sufyan bin Harb. Keluarga ini merupakan keturunan dari para pembesar.
Di antara putra-putri Husain yang paling dicintai adalah Sukaynah. Pernah ada anggapan bahwa sikap Husain berlebihan dalam mencintainya dan ibunya. Husain pun berpuisi:
“Aku bersumpah, aku sungguh mencintai rumah yang didiami Sukaynah dan Rabbab.”
“Aku menyayangi keduanya. Akan terus kuberikan segalanya tak peduli siapapun yang menyalahkanku.”
“Aku tak akan menuruti teguran mereka sepanjang hidupku, hingga tanah menyelimuti sekujur tubuhku.”
Salah satu yang menegur Husain adalah Hasan bin Ali. Padahal seorang Husain selalu menurut dengan kakaknya, namun tidak dalam hal ini.
Sifat
Sukaynah dikenal dengan sifatnya yang periang. Ia memiliki jiwa sosial yang tinggi, dan banyak peristiwa-peristiwa besar yang ia alami dalam hidupnya. Sampai pernah ditanya, “Engkau banyak bercanda, tidak seperti saudaramu Fatimah”. Karena memang Fatimah adalah wanita pendiam dan tidak suka bercanda.
Sukaynah lalu menjawab, “Ya kalian sendiri yang menginginkannya. Kalian menamainya dengan nama nenek kita yang mukminah itu (Fatimah binti Muhammad). Sedangkan kalian menamaiku dengan nama nenek yang lain (Aminah)”.
Sukaynah tampil sebagai seorang yang menonjol dalam hal intelektual, sosial dan kepribadiannya. Mandiri dan kokoh sehingga bisa menempatkan diri di tengah kehidupan bersama suami dan saudara-saudaranya. Kasih sayang ayahnya tidak lantas membuat Sukaynah menjadi manja. Husain berhasil mendidiknya menjadi sosok muslimah yang luar biasa.
Karena sifat periang, jiwa sosialnya menjadi kuat. Di sisi lain, Sukaynah memiliki sikap zuhud dan dekat dengan Allah. Kedua terakhir semakin bertambah setelah peristiwa Karbala. Kemasyhuran Sukaynah dengan segala sifat yang ada pada dirinya membuat banyak lelaki menginginkannya.
Suami
Kelebihan lain Sukaynah adalah memiliki kecantikan yang luar biasa dan langka. Meski di waktu itu semua laki-laki menginginkan Sukaynah sebagai istri, ternyata tidak banyak yang berani melamar. Al-Hasan bin Hasan menghadap sang paman Husain, meminta untuk dinikahkan dengan salah satu putrinya. Sebenarnya yang diinginkan Hasan adalah Sukaynah.
Husain menjawab, “Jika demikian, aku akan menikahkanmu dengan Fatimah. Kalau Sukaynah, sekarang ia sedang dekat dengan Allah.” Fatimah pun seorang wanita yang cantik jelita.
Laki-laki yang beruntung menikahi Sukaynah adalah Mush’ab bin Zubair. Disebutkan ada pertemuan 4 pemuda yaitu Urwah bin Zubair, Abdullah bin Zubair, Mush’ab bin Zubair dan Abdullah bin Umar. Mereka saling mengungkapkan cita-citanya.
Mush’ab bin Zubair mengungkapkan cita-citanya, “Aku ingin menjadi Gubernur Irak, dan aku ingin menikahi dua wanita (secara bersamaan). Keduanya adalah Aisyah binti Thalhah dan Sukaynah binti Husein.”
Mush’ab adalah laki-laki hebat pada zamannya dalam kepribadian maupun nasab. Ketika ia melamar Sukaynah, langsung diterima. Mush’ab memberikan mahar sekitar 80.000 dinar (sekarang satu dinar sama dengan tiga juta rupiah). Mahar ini diberikan untuk menghargai kemuliaan Sukaynah.
Sebelum dinikahi Mush’ab bin Zubair, Sukaynah dinikahi oleh Abdullah bin Umar. Setelah Mush’ab meninggal, Sukaynah dinikahi 3 laki-laki yaitu Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Utsman, dan Zaid bin Amr bin Utsman bin Affan. Semua suaminya luar biasa.
Sebelum terjadi peristiwa Karbala, Sukaynah pernah tinggal di Mekkah. Seusai peristiwa Karbala, Sukaynah pernah menemani Zainab binti Husain di Mesir. Kemudian ke Madinah, menghabiskan banyak waktu di sana. Dalam kehidupan bermasyarakat, Sukaynah menunjukkan kemandiriannya dalam bingkai iffah, menjaga kehormatan. Bersama para ahli dalam bidang keilmuwan, Sukaynah aktif mengoreksi dan mndebat para ulama. Termasuk menjadi seorang kritikus sastra.
Sukaynah merupakan wanita yang luar biasa, mulia dari sisi nasab, keimanan, ilmu dan akhlak.

*Peni Nh
Sumber: Resume Kelas Webinar Sirah Community Indonesia, Belajar dari 5 Tokoh Wanita 5 Generasi, Ustadz Asep Shobari, L.c

Leave A Reply

Your email address will not be published.