Subyektivitas Ummu Madrasatun

0 12

Kiblatmuslimah.com – Kala pendidikan anak terbentur ideologi sekuler, sebagai guru dan orang tua yang paham akan fitrah manusia, akan melakukan penyaringan materi pendidikan yang menjadi beban pelajaran dalam keseharian anaknya di sekolah.

Para guru yang telah ‘tertarbiyah’ tentu saja tidak membiarkan anak didiknya termakan ideologi sesat dan terkesan laghwu. Beberapa guru bahkan tidak mengajarkannya dan memberi dispensasi nilai jika materi seperti itu keluar dalam soal-soal ujian.

Hal seperti ini masih sering kita jumpai di sekolah-sekolah IT (Islam Terpadu), karena masih menggunakan kurikulum yang acap kali tidak sejalan dengan pendidikan Islami.

Para orang tua yang memperhatikan kemurnian fitrah anaknya, tidak akan rela materi seperti itu dipelajari.

Beberapa bahkan memindahkan anaknya bersekolah di sekolah yang menurutnya lebih ‘bersih’. Tidak sedikit yang lebih memilih menyekolahkan anaknya di rumah (home schooling).

Sampai di sini kita menyadari bahwa peran ibu sebagai ummu madrasatun sangatlah penting. Di saat tertentu, anak tetap harus mendapat pendidikan walau tidak harus melalui jalur formal (sekolah).

Keadaan tertentu seperti dalam peperangan, pengungsian, saat pendidikan sekuler menjadi dominan, maka sosok ibu yang cakap dan pandai menjadi sebuah kebutuhan.

Ya, menjadi ibu harus pandai, terutama masalah Din.

الأم مدرسة إذا أعددتَها

أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق

“Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.” (Syaikh Shaleh al-Fauzan dalam kitab “Makaanatul mar-ati fil Islam”, hal. 5)

Setelah semua ibu (umahat) berperan sebagai ummu madrasatun, satu masalah mulai muncul. Sebagai contoh, mengenai pendidikan untuk anak perempuan saat memulai memakai kerudung.

Umahat A: “Mendidik anak perempuan untuk memakai kerudung adalah sejak bayi, agar anak terbiasa, tidak gerah, sampai dia dewasa nanti.”

Umahat B: “Mendidik anak perempuan mulai memakai kerudung adalah sebagaimana perintah shalat, menyuruhnya saat usia 7 tahun, diwajibkan mulai usia 10 tahun.”

Umahat C: “Anak belum baligh berarti belum wajib memakai kerudung. Jadi tidak ada larangan sebelum baligh untuk tidak berkerudung.”

Jika umahat A, B, dan C dipertemukan dan masing-masing merasa paling benar, maka tidak akan mendapatkan titik temu karena masing-masing memiliki dalil.

Belum lagi hal yang lain seperti, pendidikan sains, olah raga, adab, perjodohan, dan sebagainya, akan mendapatkan perbedaan konsep pendidikan antara umahat satu dengan yang lain.

Hal ini disebabkan karena memang tidak ada standarisasi ummu madrasatun yang baku. Sehingga jika terbentuk home schooling, sekolah pribadi yang memang tidak ada ujian paket (persamaan)nya.

Keragaman metode mendidik anak adalah wajar. Karena masing-masing keluarga memiliki latar, pengalaman, kecerdasan, lingkungan, sifat, kultur yang berbeda-beda. Sehingga metode mendidik akan mengikuti berbagai unsur tersebut.

Jadi, sangat naif apabila kita menilai tepat dan kurang tepat dari metode-metode yang dipakai berbilang umahat ini. Masing-masing memosisikan diri sesuai potensi dan hambatan yang dimiliki dan ditemui.

Masihkah perlu adanya sharing (pembagian, red) untuk masing-masing metode yang dipakai dari beberapa ummahat? Perlu, dalam rangka mengambil pengalaman dan pengayaan pengetahuan pendidikan walaupun belum tentu cocok untuk diterapkan.

Teladan dari generasi salafush shalih tentang cara mendidik anak adalah referensi terbaik, dengan menyelaraskan kekompleksan masalah yang muncul di tiap generasi.

Ini berarti umahat harus tanggap posisi, cerdas masa dan mampu memprediksi masalah yang dihadapi anak kita nanti. Umahat tidak boleh egois dengan menjadikan pengalaman pendidikannya di masa lalu untuk diterapkan di masa anaknya.

Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”

Jika kita menyadari bahwa kini tengah berada di akhir zaman, maka arah pendidikan ke sana. Perubahan di tiap lini yang terjadi serba cepat, memaksa kita untuk mempersiapkan kekuatan minimal:

  1.  Ruhiyah (ruh/hati)
  2.  I’tiqodiyah (keyakinan)
  3. Aqliyah (akal/kognitif)
  4. Jismiyah (jasad)
  5. Iqtishodiyah (ekonomi)
  6. Ijtima’iyah (sosial).

Sebagaimana generasi salafush shalih, mendidik anak memang membutuhkan partner (rekan, red). Jujur saja, jika merasa tidak mampu seorang diri, pada sebuah kasus, keluar dari sekolah IT bisa jadi bukan sebuah solusi. Sekali lagi bergantung situasi dan kondisi.

�yasmin

Leave A Reply

Your email address will not be published.