Strategi Dakwah di Mekkah

0 177

Kiblatmuslimah.com – Langkah-langkah strategis Rasulullah memenangkan dakwah di Mekkah tidak terlepas dari pemetaan. Tanpa pemetaan, tidak bisa dilakukan langkah konkrit. Analoginya dokter dan pasien, dokter butuh diagnosa pasien, penanganan bergantung pada hasil diagnosa tersebut. Hal ini bisa dilihat dari tindakan Rasulullah di lapangan.

Rasulullah memulai dari Bani Hasyim dan Muthalib. Pendekatan ini dilakukan Rasulullah secara implementasi sebanyak dua kali. Perlu dipahami bahwa wahyu hanya menyampaikan kerangka besar, bukan berkaitan teknis pelaksanaan. Teknis pelaksanaan ini menjadi ijtihad Rasulullah.

Ijtihad terkait erat dengan keteladanan Rasulullah. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah sebagai seorang nabi dan rasul bisa ditiru oleh umatnya. Proses meniru ini tentu disesuaikan dengan kemampuan atau potensi kita. Namanya meniru, pasti tidak mirip dengan aslinya. Namun, jika kita mampu meniru langkah Rasulullah bahkan untuk tingkatan KW 5 pun, sudah maa syaa Allah.

Benang merahnya adalah efektivitas. Berapa banyak organisasi yang dibangun berdasarkan misi-misi yang akan dicapai? Namun berjalan begitu saja, tanpa ada tujuan jangka pendek dan panjang. Efektivitas harus dijadikan sebagai unsur elementer dalam setiap program dan tindakan.

Bangsa Quraisy terkenal dengan ashobiyah (fanatisme suku) dan Rasulullah memanfaatkan hal ini untuk mendukung jalan dakwah. Rasulullah melindungi para sahabat ibarat unggas yang memasukkan anak-anaknya dalam sayapnya dengan kehangatan, perlindungan seperti itu. Menjaga para sahabat sebagai aset dakwah. Menguatkan mereka dengan ilmu dan tazkiyah.

Al Qur-an petunjuk bagi orang bertaqwa, yang pasti menerima semua ajaran Islam. Orang-orang kafir itu terhalang dari kebenaran. Sikap paling mendasar orang kafir adalah menolak atau melawan, pada dasarnya didakwahi tidak berefek pada mereka. Namun tetap wajib mendakwahi mereka. Ada yang abu-abu, hakikatnya kafir tetapi dzahir memperlihatkan keimanan. Ini yang paling akut.

Rasulullah berusaha memenangkan opini, beliau memiliki kemampuan magnetis. Musuh sengaja membangun stigma supaya memunculkan keributan. Terpenting adalah tetap fokus dengan mengerjakan agenda dakwah tanpa mempedulikan stigma tersebut jika tidak sesuai dengan yang disampaikan petinggi Quraisy. Penggunaan stigma, pada dasarnya menunjukkan ketidakpercayaan akan dirinya dan takut dengan sesuatu yang ada dalam diri orang lain.

Saat Rasulullah mengajak kepala suku Badui (tidak berpendidikan), menggunakan logika orang Badui. Mereka sangat senang dengan hewan ternak. Rasulullah menjanjikan kepada mereka atas keislamannya dengan memberikan rampasan perang seperti domba, kambing, dan unta. Suku Badui tersebut memutuskan memeluk Islam. Berdakwah itu mesti menyesuaikan dengan objek dakwah.

Sumber : Kelas Sirah Nabawiyah angkatan VII ditaja oleh Sirah Community Indonesia (SCI)

(Hunafa’ Ballagho)

Leave A Reply

Your email address will not be published.