Seni Memilih Pasangan

0 114

Kiblatmuslimah.comDalam perspektif agama, sudut pandang dan prinsip dalam mencari jodoh secara islami serta barakah itu mudah dan tidak rumit. Prinsipnya sederhana. Prinsip sederhana yaitu jangan mempersulit yang dimudahkan oleh agama. Alias jangan merumitkan yang sederhana. Sebagaimana tidak memudah-mudahkan yang sudah jelas aturannya. Islam itu mudah tapi jangan dimudah-mudahkan.

Prinsip kedua, sebaik-baik perkataan adalah kalamullah. Sebaik-baik petunjuk yaitu jalan dari Rasulullah SAW. Perlu perhatikan keduanya dengan seksama dan sungguh-sungguh karena pasti ada kebaikan. Hendaknya tidak melebih-lebihkan yang tidak disuruh karena dapat mengabaikan yang diutamakan.

Pernikahan merupakan salah satu dari tiga perjanjian yang paling berat di sisi Allah. Tidak mungkin sesuatu yang paling berat dan serius di sisi Allah lalu tidak ada tuntunannya. Parameter dan hal yang paling mendasar pada pemilihan jodoh terdapat pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

 

نْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

 

“Wanita dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, maka kalian akan beruntung.” (HR. Bukhari)

 

Agama atau dzaatiddiin yang diperintahkan Rasul adalah berupa komitmen dan kecenderungan keagamaan kepada Allah Swt. Dzaatiddiin-nya bagus walaupun ilmu agamanya sedikit. Dalam segala kejadian dan urusan, selalu mengikat kepada Allah.

 

Selanjutnya pilih agama dan adab yang baik. Bagaimana dapat melihat kadar agama dan adab yang baik pada seseorang? Cerminan kadar keberagamaan yang tinggi dan adab yang yang baik tergantung pada komitmennya kepada Allah yakni dinul Islam. Dorongan mempelajari agama Allah swt secara sungguh-sungguh dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, walaupun dia mempunyai ilmu agama yang sangat luas dan bagus tetapi komitmennya terhadap Allah rendah maka tidak bisa dikatakan dzaatiddiin. Orang seperti ini hanya mencari kepuasan intelektualnya saja.

 

Meninggalkan khabaits yaitu segala yang buruk dan dilarang oleh syariat serta diketahui secara umum termasuk keburukan. Urusan terpenting kaitannya dengan menikah yaitu memilih seseorang dengan memperhatikan dzaatiddiin. Menegaskan kembali bahwa komitmen itu memudahkan orang untuk menyempurnakan agamanya. Pembicaraan tentang khabaits berkaitan denga kafa’ah (sekufu). Komitmen, kecondongan kepada Allah sederajat bukan pada pengetahuannya.

 

Memilih pasangan yang shalih/shalihah adalah salah satu cara meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Secara umum, sumber kebahagiaan dapat ditengok pada hadits riwayat Ibnu Hibban, Nabi Saw bersabda,

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ.

“Ada empat perkara termasuk kebahagiaan yaitu istri yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, teman atau tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman.”

  1. Memiliki pasangan yang shalih/shalihah dan baik

 

Di antara sumber kebahagiaan dalam hidup adalah memiliki istri yang shalihah. Sebaliknya berlaku juga pada calon suami. Ketika hendak memilih pasangan hidup, dianjurkan untuk memprioritaskan agama, kebaikan dan keshalihannya terlebih dulu. Sepantasnya pula kita memantaskan diri agar menjadi calon istri shalihah.

Kita akan merasakan kebahagian rumah tangga karena kebaikan dan keshalihan pasangan, bukan karena yang lain. Sebagaimana sabda Nabi Saw yang menyatakan bahwa istri shalihah adalah sebaik-baik perhiasan di dunia.

Dalam hadis lain, Nabi Saw. memberikan gambaran pentingnya memiliki istri shalihah yang dapat mendatangkan kebahagian. Ketika dipandang, menyejukkan. Jika diperintah, mau menaati. Istri shalihah dapat menjaga dirinya sendiri dari godaan orang lain meski tanpa pengawasan suami.

  1. Rumah yang shalih yaitu memiliki tempat yang nyaman

 

Di antara sumber kebahagiaan yang lain adalah memiliki tempat tinggal atau rumah sendiri, nyaman dan lapang. Standarnya bisa berbeda tiap orang. Rumah tersebut tak harus mewah. Bahkan, rumah Rasulullah sendiri sangat sederhana. Kebahagiaan standarnya memang bukan ukuran dunia.

Dalam Islam, sangat dianjurkan untuk membangun rumah sebagai tempat istirahat ketika lelah dan silaturahmi bagi sanak famili. Nabi Nuh ketika berada di atas perahu pada saat banjir besar memohon kepada Allah agar diberi tempat yang berkah. Ini menunjukkan bahwa tempat tinggal yang lapang dan berkah termasuk hal penting dalam hidup.

  1. Memiliki teman dan tetangga yang baik

 

Kehadiran teman dan tetangga dalam kehidupan sehari-hari sangat dibutuhkan. Manusia adalah makhluk sosial. Islam sangat memperhatikan betul agar menjadi teman dan tetangga yang baik bagi orang lain. Demikian pula akan sangat beruntung jika memiliki teman dan tetangga yang baik. Kita dituntut untuk menghormati teman dan tetangga dengan harapan agar Allah memberikan balasan serupa. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya.”

  1. Kendaraan yang nyaman.

 

Kendaraan yang nyaman bukan berarti harus mewah. Maksudnya adalah kendaraan yang berfungsi dengan baik dan normal. Muslim dituntut untuk bermanfaat kepada orang lain. Terjadang untuk melakukan hal tersebut, membutuhkan kendaraan yang lancar. Sebaliknya, apabila kendaraan sering rusak dan mogok, tentu hal ini sangat mengganggu kegiatan. Di antara penunjang kebahagiaan hidup adalah memiliki kendaraan yang nyaman digunakan.

 

Sumber:

Ustadz Mohammad Fauzil Adhim. 2020. Seni Memilih Pasangan. Solo: Kiblatmuslimah.com. Resume kajian Sekolah Pra-Nikah Kiblat Muslimah “Bersiap Menjadi Istri Idaman”.

PramudyaZeen

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.