Semangat Islam Kaffah Santri Zaman Kemerdekaan

0 103

Kiblatmuslimah.com – Sebuah distorsi sejarah jika kemerdekaan Indonesia adalah ‘hadiah’ dari Jepang. Sudah banyak literatur dan penelitian sejarah yang mengungkap bahwa Indonesia merdeka semata-mata berkat rahmat Allah melalui perjuangan para santri dan ulamanya. Tak hanya di Pulau Jawa, kerja sama kaum santri dan ulama juga terjadi di Pulau Sumatera, terutama Medan, Sumatera Utara.

Tentara Sekutu Inggris yang berboncengan dengan NICA tercatat telah mendaratkan diri di Medan pada 9 Oktober 1945, dipimpin oleh Jendral T.E.D Kelly. Empat hari kemudian, Kolonel Ahmad Thahir, pemimpin Tentara Keamanan Rakjat (TKR) menghimpun dukungan dari santri dan ulama Al-Djamiatul Washlijah Medan untuk melakukan perlawanan menghadapi penjajah. Perlawanan besar-besaran di daerah Medan ini disebut dengan Medan Area.

Tanggal 9 Ramadhan 1364 H bertepatan dengan 17 Agustus 1945. Tanggal itu tidak sekedar melahirkan para pejuang kemerdekaan dari kalangan santri dan ulama. Juga membangkitkan semangat juang dan keberanian para wanita dan pemudinya. Sebut saja Kamsiah, muslimah pejuang 45 di wilayah Medan. Sebelumnya ia juga melakukan gerilya melawan Belanda, aktif membasmi PKI bersama Kesatuan Aksi dan Pemuda Pancasila pada saat terjadi G30-S/PKI di Jakarta. Ada pula Soemirah Jati, pejuang wanita di Bandung Lautan Api. Widajati yang berjuang di daerah Semarang.

Pertempuran besar terjadi di mana-mana, Surabaya, Semarang, Bandung, Karawang, Bekasi, Medan. Mereka mengerahkan seluruh kekuatan yang ada ketika Sekutu Inggris dan NICA memberikan ultimatum agar rakyat Indonesia menyerahkan senjata. Begitupun halnya di Padang, Bukittinggi dan Aceh, terdapat perlawanan berlandaskan Jihad fi Sabilillah. Residen Teoekoe Njak Arief menjadi pemimpin pemuda Aceh saat itu dan Tengkoe Daoed Beoeroe-eh menjadi tokoh ulama sentral yang melakukan perlawanan.

Karena besarnya pengaruh Kyai Daoed Beoeroe-eh ini, terkumpul dana yang melimpah hingga mampu membelikan pesawat terbang. Selanjutnya pesawat terbang diserahkan kepada pemerintahan Republik Indonesia. Oleh sebab itu, Presiden RI pertama, Ir. Soekarno berjanji kepada Tengkoe Daoed Beoeroe-eh bahwa di Provinsi Aceh akan diberlakukan Syariat Islam sesuai dengan permintaannya.

Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa semangat santri dan ulama dalam mengusir penjajah sejatinya agar mampu melaksanakan syariat Islam secara kaffah (sempurna) tanpa tekanan. Sebelumnya penjajah membawa pesan Gold, Glory dan Gospel, termasuk dalam hal kepengurusan negara.

Oleh: A. Madjid

Sumber: Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah jilid 2, 2010, Bandung: Salamadani Pustaka Semesta, hal. 220-222

Leave A Reply

Your email address will not be published.