Sejarah Perpindahan Ibu Kota Negara Islam

0 42

Kiblatmuslimah.com “Dengan memohon ridlo Allah SWT, dengan meminta izin dan dukungan dari Bapak-Ibu anggota Dewan yang terhormat, para sesepuh dan tokoh bangsa, terutama dari seluruh rakyat Indonesia, dengan ini saya mohon izin untuk memindahkan ibu kota negara kita ke pulau Kalimantan,” kata Jokowi di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8) menurut laporan detik.com.

Menanggapi hal ini, Ketua MPR Zulkifli Hasan beranggapan bahwa pemindahan ibu kota adalah hal yang biasa. Baginya yang terpenting saat ini adalah penanganan Papua serta pemantapan sektor ekonomi di Indonesia.

Berbeda dengan Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang memprediksi keputusan Jokowi memindahkan ibu kota ke Kalimantan Timur ada kemungkinan gagal. Karena ia menganggap, kajian atas keputusan tersebut masih amatiran dan perlu dikaji lebih dalam sebelum dieksekusi. “Karena ini adalah persoalan yang sangat besar,” imbuhnya.

Pemindahan ibu kota faktanya memang bukan suatu keputusan yang ringan. Tercatat, selama negara Islam (Khilafah) berdiri lebih dari 13 abad (622-1942 M), pemindahan ibu kota terjadi sebanyak 12 kali. Maksimal luas wilayah kekuasaannya 2/3 dunia. Jika dikisarkan, setiap 110 tahun, negara Islam baru pindah ibu kota sekali. Sedangkan Indonesia, baru 74 tahun merdeka. Setidaknya perlu 36 tahun lagi untuk menyiapkan pemindahan pusat pemerintahannya, jika memang diperlukan.

Madinah (dulu Yatsrib) adalah kota pertama tujuan Nabi berhijrah. Di sana, sistem negara Islam mulai dijalankan secara penuh, tepatnya di Masjid Nabawi. Madinah Al-Munawwarah/Madinatu Nabiy dikelilingi taman, kebun kurma dan pertanian. Terletak di wilayah Hijaz, semenanjung Arabia. Pusat pemerintah tetap berada di sini hingga masa Khulafaur Rasyidin yang ketiga yakni Utsman bin Affan (656 M).

Kemudian Ali bin Abi Thalib memindahkan ibu kota ke Kufah (wilayah Iraq). Iraq merupakan kota megah nan indah dengan kondisi ekonomi yang makmur. Perpindahan ini untuk memudahkan administrasi wilayah kekhalifahan yang bertambah luas sejak kebijakan ekspansi oleh Umar (khalifah kedua).

Ketika Mua’wiyah bin Abi Sufyan menggantikan Hasan bin Ali sebagai khalifah (661 M), ia menjadikan Damaskus, Suriah sebagai ibu kota. Kota ini memiliki salju di musim dingin. Damaskus adalah ibu kota pertama bagi Dinasti Umawiyyah hingga tahun 744 M.

Setelah 6 tahun berkuasa, Khalifah Marwan II (Khalifah terakhir Dinasti Umawiyyah) memindahkan ibu kota ke Harran (Mesopotamia Utara). Terletak di antara sungai Tigris dan Eufrat (750 M).

Saat Abul Abbas As-Saffah membangun Dinasti Abbasiyah, ibu kota negara Islam dikembalikan lagi ke Kuffah. Namun 12 tahun kemudian (762 M), Abul Abbas As-Saffah “menemukan” kota Baghdad (Iraq) dihuni oleh penduduk yang terkenal akan kecerdasan, adab, pendidikan dan rupa.  Lagi pula Baghdad terletak di lokasi yang begitu strategis, yakni di tepi Sungai Tigris. Sehingga ia memindahkan ibu kota ke sana.

Kala Harun Ar-Rasyid berkuasa (786-809 M), ia membangun pusat kajian ilmu pengetahuan (astronomi, matematika, kedokteran, kimia, zoologi, geografi, kartografi, dsb) yang disebut Baitul Hikmah.  Dari lembaga ini, lahir banyak ilmuwan. Namun setelah 10 tahun berkuasa (796 M), Harun memindahkan ibu kota ke Raqqah (Suriah bagian Utara) hingga masa kekuasaannya berakhir (w. 809). Lalu ibu kota pun dikembalikan ke Baghdad selama 27 tahun.

Penguasa berganti, 836 M Khalifah Al-Mu’tashim memindahkan ibu kota ke Samarra. Sebuah singkatan dari nama kompleks istana (kota) nan megah di tepi Sungai Tigris (125 km dari Baghdad). Dibangun oleh Khalifah Al-Mutawakkil (859 M) yang masyhur dengan sebutan sarra man ra’a (menyenangkan bagi yang melihatnya).

Akan tetapi, karena kondisi politik tak berjalan baik di masa selanjutnya, ibu kota dikembalikan ke Baghdad (892-1258 M). Sehingga Samarra ditinggalkan oleh penduduknya dan menjadi reruntuhan. Lantas disebut dengan sa’a man ra’a (duka bagi yang melihatnya) dan masih disingkat dengan istilah Samarra. Baghdad pun berakhir dan lumpuh saat pasukan Mongol menyerang (1258 M).

Namun, kekuasaan Negara Islam tidak lantas hancur semuanya. Ada Kesultanan Mamluk di bawah Dinasti Abbasiyah yang masih menguasai Kairo sejak 1250 M. Kota yang terkenal dengan tanah subur dan penduduknya shaleh. Pernah dalam suatu Jum’at, satu masjid dipenuhi 10.000 jama’ah. 

Kota yang berada di tepi sungai Nil, Mesir, dulu bernama Fustat. Lantas dibangun kota baru di sampingnya bernama Kairo. Keduanya digabung dengan nama Al-Qahirah (Kairo) dan menjadi ibu kota hingga tahun 1517.

Sementara itu, ekspansi wilayah Islam menyentuh bisyarah Rasulullah. Konstantinopel bergabung dalam negara Islam tahun 1453 M melalui tangan keturunan Utsman bin Erthugrul (Pendiri Dinasti Utsmaniyyah). Saat kekuasaan Kesultanan Mamluk mampu dikuasai oleh Sultan Selim I, cucu dari Muhammad Al-Fatih pada tahun 1517, iapun memindahkan ibu kota negara ke Kontantinopel/Istanbul (Turki). Bertahan di sana hingga negara Islam berakhir (1922-1924 M).

Maka ringkasan proses perpindahan ibu kota negara Islam:

Nabi hingga Khulafaur Rasyidin ke-3: Madinah (622-656 M)

Khulafaur Rasyidin ke-4 sampai Dinasti Umawiyyah: Kuffah (656-661 M), Damaskus (661-744 M) dan Harran (744-750 M)

Dinasti Abbasiyah: Kuffah (750-762 M), Baghdad (762-796 M), Raqqah (796-809 M), Baghdad (809-836 M), Samarra (836-892 M), Baghdad (892-1258 M), kosong kekuasaan 3 tahun.

Kesultanan Mamluk: Kairo (1261-1517 M)

Dinasti Utsmaniyyah: Konstantinopel (1517-1924 M)

Oleh: Alifia M.

Sumber:

Detik.com

Irvan Setiawan Mappaseng. 2019. Seni Memanah. Jakarta: Republika. Hal: 10-17.

Leave A Reply

Your email address will not be published.