Salman Al-Farisi (Bag. 2)

0 208

Kiblatmuslimah.com – Namun akhirnya, air susu dibalas air tuba. Ketika sampai di Wadil Quro’ Salman justru diperdagangkan kepada seorang Yahudi. Akan tetapi, Allah Ar-Rasyid menunjukkan kekuasan-Nya. Sebab jalan ini lah yang akan mempertemukan Salman dengan Nabi yang dimaksud oleh si pendeta.

Ketika Salman sedang memanjat pohon kurma, ia mendengar dari atas perbincangan antara majikannya dengan ponakannya yang berasal dari Bani Quroidhoh di Madinah. Dia sedang menceritakan orang-orang yang berbondong-bondong masuk ke agama seorang lelaki  dari Makkah yang mengaku bahwa dia adalah utusan Allah. Seketika, badan Salman bergetar hebat dan hampir membuatnya terjatuh. Segera dia turun dan menemui majikannya, namun justru cercaan yang ia dapatkan, “Apa urusanmu dengan kami? Sudah…sudah, selesaikan pekerjaanmu!”.

Karena dirundung rasa penasaran, akirnya ia mencari tahu tentang keberadaan laki-laki tersebut. Pada suatu sore ia berencana menemui lelaki yang mengaku sebagai Nabi dengan membawakannya makanan. Salman berangkat ke Madinah. Sesampainya di Quba, ia menemui lelaki itu. ketika itu lelaki tersebut sedang duduk bersama para sahabatnya. Kemudian Salman menghampirinya dan berkata,”Wahai tuan, aku dengar tuan adalah seorang lelaki shalih dan para sahabat tuan adalah orang-orang asing dari kota ini. Aku memiliki sedikit makanan, kiranya tuan membutuhkannya, aku berikan sebagai sedekah”.

Kemudian Salman memberikan makanan tersebut dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh lelaki tersebut. Lalu lelaki itu berkata kepada para sahabatnya, “Wahai sahabataku makanlah”. Saat itu ia melihat bahwa lelaki tersebut tidak menyentuh makanan yang ia berikan. Dalam hatinya bergumam, “Aku mendapatkan satu tanda kenabian ada pada diri lelaki tersebut”.

Kemudian Salman izin pamit pulang. Esoknya Salman pergi ke Madinah, menyusul lelaki tersebut. Sesampainya di sana, ia memberikannya makanan yang sama dengan ketika awal bertemu dengan lelaki tersebut. Ia berkata “Wahai tuan, aku lihat tuan tidak makan harta sedekah, ini aku bawakan makanan sebagai hadiah tanda hormat dariku kepada tuan”. Dan tetap saja lelaki tersebut menyuruh para sahabatnya memakan makanan itu.

Kejadian tersebut membuat hati Salman semakin yakin dengan kabar dari pendetanya dulu. Kemudian ia bertekad untuk menemui lelaki tersebut untuk ketiga kalinya. Sebab, ia ingin menemukan ciri/tanda kenabian pada pundaknya.

Di waktu ketiga, Salman menemuinnya sedang berada di Baqi untuk mengantarkan salah seorang sahabatnya yang meninggal dunia. Beliau memakai selendang yang diselempangkan pada kedua pundaknya yang mulia. Aku mengucap salam kepadanya, lalu berputar kebelakang badan beliau. Aku ingin memastikan perkataan pendetaku. Apakah tanda itu benar ada pada pundaknya? Saat beliau menarik ujung selendangnya yang menutupi punggungnya. Dan aku benar-benar melihat tanda kenabian itu, aku pun tiada lagi dapat menahan diri, lalu aku memeluk Nabi penuh haru.

Saat itu kami sedang berasama Nabi salallahu ’alaihi wa sallam, lalu diturunkannya kepada beliau surat Al-Jumu’ah ayat 3. Lalu Nabi membacanya, “Dan Dia (Allah) juga mengutus dia (Muhammad) kepada kaum yang lain (non Arab), yang belum berhubungan dengan mereka”.

Kemudian Salman bertanya, “Siapakah kaum yang lain itu wahai Rasulullah?” Nabi tidak menjawab hingga Salman bertanya dua tiga kali. Lalu Rasulullah meletakkan tangannya diatas telapak tangan Salman seraya berkata “Jika iman berada diatas ats-tsuroya (bintang yang sangat jauh) niscaya beberapa orang dari mereka akan mencapainya” . (H.R Muttafaqun ‘alaih)

Sejak pertemuan itu Salman menyatakan keislamannya. Ia berjanji setia kepada Rasulullah sebagai muslim setelah jauh sebelumnya ia memang sudah meyakini akan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salaam.

Demikianlah kisah perjalanan Salman mencari kebenaran sejati. Perjalanan panjang nan melelahkan tetapi berbuah manis pada akhirnya. Sebuah perjuangan yang menunjukkan semangat, kesabaran, dan kegigihan seorang pemuda pilihan dalam meraih iman.

Oliver Al Qori

Ibnu Syarqi.2016.Masa Muda Para Sahabat.Klaten.Wafa PressEditor: Irlind

Salman Al-Farisi (Bag. 1)

Leave A Reply

Your email address will not be published.