Salman Al-Farisi (Bag. 1)

0 239

Kiblatmuslimah.com – Salman Al-Farisi Ar-Ramahurmuzi Al-Ashbahani. Mempunyai nama Kunyah Al-Muhzi Al-Ashabahani. Beliau lahir dari keluarga Zoroastrian yang dihormati dari sebuah desa Jiy di Ishfan (Persia).

Ayahnya adalah seorang tokoh agama dan pemimpin di desanya. Ayahnya begitu menyayanginya, hingga dirinya diperlakukan layaknya anak perempuan yang tidak boleh keluar rumah kecuali untuk urusan yang penting. Oleh karena itu, ia dididik menjadi seorang Majusi. Kemudian ia diamanahi menjadi penjaga api  agar selalu menyala di tempat ibadah.

Suatu saat Salman diperintahkan ayahnya untuk menjaga kebun, akhirnya ia pergi seorang diri. Singkat cerita, saat sedang berjalan menuju kebun, ia melewati sebuah gereja. Di dalamnya banyak para jama’at yang sedang berdo’a dengan khusyuk. Hal tersebut  merupakan pertama kalinya dia melihat dan bergumam,“Agama ini, sepertinya lebih baik dari agamaku”. Kemudian ia memberanikan diri untuk masuk kedalam gereja, dan bertanya kepada pendeta “Dimana aku  bisa mempelajari agama ini?”  Mereka menjawab “Di Syam”.

Salman yang belum kunjung pulang hingga matahari mulai tenggelam. Sehingga membuat khawatir  ayahnya. Kemudian sang ayah mengutus seseorang untuk mencari Salman di kebun. Setelah bertemu Salman, ayahnya bertanya, “Kemana saja kamu sepanjang hari ini? Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak terlambat pulang?” Salman pun menceritakan kejadian yang telah dilihatnya seharian di gereja. Ia berkata, “Sepertinya, agama mereka lebih baik dari agama kita”. “Tidak, jaangan kembali lagi kesana, agama nenek moyang kita lebih baik dari agama mereka”, utar ayahnya.

Karena seringnya Salman mendebat, membuat ayahnya berkeputusan untuk menyekapnya di rumah. Tidak diizinkan pergi dengan alasan apapun. Pada suatu hari, orang-orang Nasrani mengetahui kedaanya, dan mengabarkannya ada kafilah dagang dari Syam sedang berada di kota Isfahan.

Karena keinginan kuat untuk mencari sebuah kebenaran, Salman berusaha keras melepas rantai yang membelenggu kakinya. Ia memikirkan ide untuk mencari jalan keluar, agar dapat kabur dari rumahnya. Dia sangat bertekad untuk bersafar ke negeri Syam, yang merupakan pusat agama pada masa itu.

Sesampainya di Syam, Salman menanyakan kepada rombongan kafilah, siapa orang yang paling alim dikota tersebut. Kemudian mereka memberitahu Salman dengan siapa ia harus berguru. Yakni, seorang pendeta yang tinggal di dalam sebuah gereja. Salman pun bergegas pergi menemui orang yang dimaksud.

Kemudian ia tinggal dan belajar bersama pendeta itu dalam kurun waktu yang lama. Hingga akhirnya ia mendapati hal lain dari pendeta itu. Sangat berbeda dari apa yang orang-orang katakan tentangnya. Dia memerintahkan kepada jama’atnya untuk bersedekah. Namun, sedekah itu ia pakai untuk keperluan dirinya sendiri dan tidak disampaikan kepada fakir miskin satupun.

Sepeninggal pendeta pertama, kemudian digantikan dengan pendeta yang lebih baik akhlaknya. Salman kembali tinggal dan belajar dengan pendeta kedua hingga akhir hayatnya. Selama tinggal  di Syam, Salman menuntut ilmu dari lima pendeta, yang mana ia juga tinggal bersama mereka sampai batas masing-masing umur dari setiap pendeta. Adapun sejarah menjelaskan pendeta ketiga tinggal di daerah Mushil. Pendeta keempat tinggal di daerah Nashibin. Pendeta kelima tinggal di kota Amuriyah.

Pendeta yang terakhir telah mengabarkan  kepada Salman bahwa ada seorang Nabi yang diutus membawa ajaran Ibrahim. Dia memiliki ciri yang bisa dikenali, yakni dia mau menerima hadiah akan tetapi tidak mau memakan harta sedekah dan di pundaknya ada tanda/stempel  kenabian.

Sepeninggal pendeta yang terakhir, Salman masih tinggal di Amuriyah. Sampai pada suatu hari ia menemukan sebuah kafilah dagang dari Arab. Kemudian ia menawarkan kambing dan sapi miliknya dengan syarat ia bisa diajak ke Arab. Namun akhirnya, air susu dibalas air tuba.

 

Oliver Al Qori

Ibnu Syarqi.2016.Masa Muda Para Sahabat.Klaten.Wafa Press

Salman Al-Farisi (Bag. 2)

 

Editor: Irlind

Leave A Reply

Your email address will not be published.