Said bin Amir al-Jumahi : Membeli Akhirat dengan Dunia

0 144

Kiblatmuslimah.com – Banyak nama yang tidak kita kenal, namun kehidupannya menjadi saksi sejarah di dunia yang fana ini. Adalah Said bin Amir. Beliau turut serta bersama Rasulullah dalam Perang Khaibar dan peperangan lain sesudahnya.

Setelah Rasulullah wafat. Said bin Amir tetap menjadi Syaifullah al-Maslul (pedang Allah yang terhunus) di tangan sahabat Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma. Beliau merupakan teladan yang mengagumkan bagi setiap mukmin yang telah membeli akhirat dengan dunia, dan mementingkan ridha Allah di atas segala keinginan jiwa dan hawa nafsunya.

“Dunia mendatangi mereka, tetapi mereka lari darinya. Dan dunia lari dari kalian, namun kalian mengejarnya.” (Ibrahim At-Taimi)

Di awal kekhilafahan Umar bin Khaththab, Said bin Amir mendatanginya dan terjadi percakapan di antara mereka:

Said bin Amir berkata, ‘Wahai Umar, aku berpesan kepadamu agar engkau bertaqwa kepada Allah dan jangan takut kepada manusia. Janganlah kata-katamu menyelisihi perbuatanmu, karena kata-kata yang baik adalah yang dibenarkan oleh perbuatan. Wahai Umar, perhatikanlah orang-orang dimana Allah menyerahkan perkara mereka kepadamu dari kalangan kaum muslimin yang dekat maupun yang jauh. Cintailah untuk mereka apa yang kamu cintai untuk dirimu dan keluargamu. Bencilah untuk mereka apa yang kamu benci untuk dirimu dan keluargamu. Hadapilah kesulitan-kesulitan untuk menuju pada kebenaran. Jangan takut pada Allah karena rasa takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela.’

‘Siapa yang mampu melakukannya, wahai Said?’ Tanya Umar

Said bin Amir menjawab, ‘Hal itu bisa dilakukan oleh orang-orang sepertimu. Allah serahkan perkara umat Muhammad Rasulullah kepadamu.’

Kemudian Umar berkata,‘Wahai Said, aku menyerahkan kota Himsh padamu.’

‘Wahai Umar, aku memohon kepadamu dengan nama Allah agar mencoret namaku.’ Jawab Said bin Amir

Kemudian Umar marah dan berkata, ‘Celaka kalian, kalian meletakkan perkara ini dipundakku kemudian kalian berlari dariku. Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu.’

MasyaAllah. Begitulah generasi para sahabat. Saling mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. Mereka menukar dunia ini dengan akhirat. Membeli akhirat yang kekal abadi sebagai tempat kembali.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kehidupan para salafus shalih. Meski mereka telah tiada, akan tetapi tapak sejarah hidup mereka tetap membekas sampai sekarang. Banyak sekali ibroh yang bisa kita ambil dari sejarah hidup mereka.

(Hunafa’ Ballagho)

 

Sumber :

  1. Abdurrahman Ra’fat Basya. 2010. Mereka adalah Para Shahabat (Kisah-Kisah Manusia Pilihan dari Generasi Terbaik Umat Muhammad Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam). Cetakan ke 2. Solo: At-Tibyan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.