Runtuhnya Pemerintahan Mamluk di Raydania

0 116

Kiblatmuslimah.com – Sultan Salim I atau  Yavuz Salim merupakan salah seorang sultan Turki Utsmani yang mampu merubah kesultanan menjadi kekhalifahan. Pada masa beliau, Dinasti Mamluk berhasil ditaklukkan usai peperangan Raydania pada 3 Muharram 932 H (28 Januari 1517) antara Yavuz Salim dan Thuman Bey.

Berawal dari tekad Yavuz Salim untuk menyatukan seluruh kaum muslim di dunia dalam satu kepemimpinan Utsmani, ia memutuskan untuk menundukkan kesultanan Mamluk. Setelah berhasil menaklukkan wilayah Mamluk Syam, selanjutnya ke Mamluk Mesir yang dipimpin Thuman Bey.

Pada bulan Desember 1516, Yavuz Salim mengirimkan seorang delegasi ke Kairo untuk menyampaikan pesan yang memerintahkan Mamluk agar tunduk kepada Sultan Utsmani. Syaratnya dengan mencetak nama Yavuz Salim pada koin mata uang, membaca namanya dalam khutbah, dan membayar upeti setiap tahun.

Namun Thuman Bey menolaknya, bahkan mulai mempersiapkan kekuatan pasukan dan senjata. Dalam waktu yang relatif singkat, berhasil menghimpun pasukan Mamluk yang semula terpisah-pisah. Dia juga berupaya untuk mencari peralatan perang termutakhir di zaman tersebut, termasuk meriam-meriam.

Sultan Thuman Bey akan menerapkan strategi perang terhebat dalam menghadapi pasukan Utsmani. Dia ingin langsung melakukan serangan saat pasukan Utsmani masih dalam perjalanannya di titik akhir gurun pasir daerah Sahiliya. Namun, beberapa panglima perangnya tidak setuju dengan ide itu dan menyarankan agar memusatkan pasukannya di desa Raydania yang berada di Utara kota Kairo, di luar ibu kota Mamluk.

Thuman Bey memerintahkan pasukannya agar menggali parit-parit pertahanan, menempatkan banyak penghalang dan memosisikan meriam. Dia juga melengkapi kekuatan militernya dengan 6000 serdadu untuk mengamankan gerbang Kairo.

Pada 22 Januari 1517 M, Yavuz Salim menetapkan strategi militer dengan membagi pasukan yang berada di Kairo dan Khanka. Tujuannya untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Mamluk di satu sisi dan mengepung musuh dari sisi lain.

Ketika pasukan Utsmani memasuki perbatasan Kairo, Thuman Bey bersama pasukannya sudah berada di garis pertahanan dan siap menyerang. Dengan segera, Yavuz Salim memerintahkan kepada 200 serdadu artileri Utsmani untuk segera menyerang. Pertempuran antara dua kekuatan pun akhirnya pecah di Raydania pada 3 Muharram 923 H (28 Januari 1517).

Sebagian pasukan Thuman Bey melakukan serangan hebat terhadap pasukan Utsmani di bawah pimpinan Sinan Pasya. Namun, pasukan Utsmani masih mampu melakukan serangan bertubi-tubi ke arah lawan dengan meriam. Serangan-serangan ini membuat 25.000 serdadu lawan terbunuh dan membuat kacau sisa-sisanya. Sedangkan meriam statis pasukan Mamluk tidak mampu menahan serangan.

Thuman Bey bersama sisa pasukannya mundur untuk menghimpun kekuatan kembali. Pada malam harinya kembali ke kota dengan pengawalan 7.000 atau 10.000 tentara. Kekuatan pasukan tidak sebanding. Thuman Bey mengirimkan surat agar diadakan perjanjian damai. Yavuz Salim mengirim surat balasan yang dibawa para utusannya, akan tetapi justru dibunuh oleh pengawal Sultan Mamluk saat dalam perjalanan.

Thuman Bey ditempa rasa takut, sehingga melarikan diri ke wilayah Terru. Dengan demikian Kairo pun jatuh ke tangan Yavuz Salim. Hancurnya pasukan Thuman Bey dan pelariannya menunjukkan kemenangan pada pihak Utsmani. Perang Raydania berlangsung selama 3 hari. Perang diakhiri dengan diumumkannya nama Sultan Salim I pada saat shalat Jumat dari atas mimbar masjid-masjid di Kairo. Wallahu A’lam bish Shawab.

 

Oleh: Istiqomah elhaura

Referensi: Rachmad Abdullah, S.Si., M.Pd. 2019. Yavuz Salim Sultan Pendiri Khalifah Utsmani (918-926 H/ 1512-1520 M). Sukoharjo: Al-Wafi Publishing. Hal: 108-119.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.