Rubayyi’, Mujahidah Alim dan Perawi Hadits

0 195

Kiblatmuslimah.com – Rubayyi’ binti  Mu’awwidz bin Afra’ Al-Anshariyah adalah salah seorang shahabiyah (shahabat wanita) dan perawi hadits Rasulullah SAW. Ia perempuan Anshar dari Bani Najjar. Ibunya bernama Ummu Yazid binti Qais bin Za’wa. Ayahnya adalah salah seorang  yang menyaksikan Baiat Aqabah, Perang Badar dan bergabung dengan pamannya dalam upaya pembunuhan Abu Jahal.

Dia masuk Islam di Madinah saat usianya masih sangat muda. Rubayyi’ termasuk perempuan pertama yang berbaiat kepada Nabi Muhammad SAW di bawah sebatang pohon. Kelompok ini dikenal sebagai Bai’atur Ridwan. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Al-Fath ayat 18-19.

Pada zaman Rasulullah SAW, tidak hanya kaum Adam yang angkat senjata berperang melawan kaum musyrikin. Ada seorang shahabiyah yang dikenal bersemangat berjihad ke medan perang demi menegakkan Islam. Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin Afra Al Ansyariyah adalah salah satunya. Keberanian Rubayyi’ menjadikan sosok perempuan ini dikenal memiliki ghirah yang kuat maju ke medan perang bersama Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Ibnu Katsir berkata mengenai Ar-Rubayyi’, “Dia berangkat bersama Rasulullah SAW untuk mengikuti berbagai peperangan guna mengobati para mujahidin yang terluka dan memberi minuman bagi mereka yang kehausan, serta membawa yang luka ke Madinah.”

Ketika situasi menuntutnya untuk tampil ke tengah medan pertempuran, Rubayyi’ tidak segan segera turun. Dia menempatkan diri bergabung dengan pasukan berkuda yang gagah berani menangkis serangan musuh.

Hadist Bukhari mengisahkan keikutsertaan Rubayyi’ dalam peperangan bersama Rasulullah SAW. Namun, tidak ada riwayat lebih jelas lagi tentang Rubayyi’ ini selama berada di medan perang.

Beberapa literatur hanya menceritakan Rubayyi’ sebagai perempuan mulia yang memiliki keberanian. Maksud keberanian di sini dalam konteks perlawanan terhadap kebatilan dan kemusyrikan.

Sifat pemberani ini mengalir dari ayahnya yang ikut saat Perang Badar, serta bergabung di tim pembunuh Abu Jahal. Rasulullah mendoakan ayah Rubayyi’, “Semoga Allah  memberi rahmat kepada kedua anak Afra’ yang keduanya bergabung untuk membunuh Fir’aun umat ini (Abu Jahal).”

Keberanian Rubayyi’ dibuktikan ketika menantang ibu Abu Jahal. Diriwayatkan bahwa Ar-Rubayyi’ mengambil minyak wangi dari Asma’ binti Makhrabah, ibu Abu Jahal. Lalu Asma menanyakan nasab Ar-Rubayyi’. Lantas dia pun menyebutkan silsilah nasabnya. Kemudian Asma’ berkata, “Engkau adalah anak perempuan dari seorang pembunuh tuannya (Abu Jahal).”

Dengan berani Rubayyi’ menjawab, “Aku adalah anak perempuan dari seorang pembunuh budaknya.” Jawaban itu membuat Asma’ terdiam tidak berani meladeni keberanian Rubayyi’.

Peran Rubayyi’ tidak hanya sebagai mujahidah yang berani. Dia pun dikenal sosok yang lemah lembut, dan sangat mencintai ilmu. Karena wawasan dan keilmuannya yang luas, Rubayyi’ dipercaya sebagai shahabiyah yang menjadi referensi dalam hukum, sirah Nabi dan berbagai peristiwa dalam Islam di awal masa kemunculannya.

Kedekatan dengan Rasulullah didukung kecerdasannya, sehingga banyak hadist diriwayatkan melaluinya. Seperti hadist tentang wudhu, Rubayyi’ menjadi shahabiyah satu-satunya yang meriwayatkan secara detil bagaimana wudhu Rasulullah.

Saat itu, Rasulullah SAW tidak sekedar berkunjung ke rumah Rubayyi’. Tetapi melaksanakan wudhu. Dan bersabda kepadanya, “Tuangkan air wudhu untukku!” Selanjutnya, Rubayyi’ menceritakan wudhu Rasulullah SAW, “Beliau lalu membasuh kedua telapak tangannya tiga kali.” (HR Abu Dawud)

Rubayyi’ seringkali juga mengunjungi istri RasulullahAisyah RA, untuk menambah wawasan dan ilmu. Dari Aisyah, Rubayyi’ meriwayatkan sebanyak 21 hadits. Al-Bukhari dan Muslim yang meriwayatkan hadist-hadits darinya.

Beberapa shahabat dan tabi’in datang kepada Rubayyi’ untuk mendapatkan hadits. Sejumlah tabi’in terkemuka juga meriwayatkan hadits darinya, seperti Khalid bin Dzakwan, Sulaiman bin Yasar, Abu Ubaidah bin Ammar bin Yasir dan lainnya.

Beberapa literatur sejarah menyebutkan bahwa Rubayyi’ binti Mu’awwidz wafat pada tahun 37 Hijriyah. Namun riwayat lain menegaskan ia wafat tahun ke 45 Hijriyah, pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Dia meninggal dunia setelah memberikan teladan bagi perempuan Muslimah dalam hal kebaikan, ketaqwaan, keilmuan dan semangat perjuangan di jalan Allah.

(tiffany)

Leave A Reply

Your email address will not be published.