Romantisme Keluarga Pak Jendral

0 179

Kiblatmuslimah.com – “Tapi Kang Mas sedang sakit,” demikian kata Soekarno saat Pak Dirman menemuinya di Gedung Agung, “Lebih baik di dalam kota saja.”

“Yang sakit Soedirman,” tegas Pak Dirman. Saya bayangkan beliau yang ringkih itu dengan mantap melanjutkan, “Panglima Besar tidak pernah sakit!”

Kalimat ini melegenda. Ia kini terpahat pada mural Museum TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama, Yogyakarta. Bangunan itu dulu adalah markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ketika Belanda menyerang Yogya, Pak Dirman sedang terbaring di rumah sakit yang tak jauh dari markasnya. Dalam kondisi sakit itu, beliau temui Bung Karno di Gedung Agung.

Kita tahu kisah berikutnya, Pak Dirman memilih memimpin perang gerilya. Tugas dan tanggung jawab menepis seluruh sakit yang dideritanya. Ia tinggalkan keluarga yang amat dicintainya; Siti Alfiah, istri Pak Dirman, harus mengasuh tiga putra dan empat putri yang masih kecil-kecil. Selama masa gerilya itu, Sri Sultan HB IX yang menyediakan tempat berlindung bagi keluarga Pak Dirman.

Dalam “Soedirman dan Alfiah” (2017), E. Rokajat Asura mengisahkan bagaimana perhatian Pak Dirman pada keluarga. Suatu saat ia belikan satu dus baju dan bedak bagi istrinya. Siti Alfiah tentu saja terharu. “Kenapa sebanyak itu?” katanya. “Kalau ada serangan udara, toko-toko bakal tutup. Biar bagaimana pun, ibu harus tetap terlihat cantik.”

“Ibu telah merawat anak-anak dan mengatur rumah,” kata Pak Dirman suatu saat pada istrinya. “Jika ada penghargaan untuk menghargaimu, mungkin aku akan kesulitan untuk mewujudkannya.”

“Jika aku dapat penghargaan itu,” tutur Alfiah, “Pasti akan kuberikan padamu. Tugas dan tanggung jawab Bapak melampaui kemampuan Bapak sendiri. Di sela anak-anak istirahat, aku masih sempat rehat. Tapi, tidak denganmu, Pak.”

Suami istri yang disatukan oleh visi dan orientasi akan mengukir kisah romansa yang mengagumkan. Di antara jalinan visi itu, keduanya saling menguatkan. Pada Soedirman dan Siti Alfiah kita belajar, betapa di balik kerja-kerja kepahlawanan, ada peran keluarga yang tak tergantikan. Keluarga yang memiliki daya tahan akan lebih banyak memiliki peran di tengah kehidupan. Indonesia kuat ditopang oleh keluarga yang berdaya tahan. #strongfamily

 

Oleh: Dwi Budiyanto (naskah ini beliau posting di akun instagram pribadi miliknya tanggal 24 Februari 2020)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.