Resensi Siroh Nabawiyah Ar Rahiq Al Makhtum

0 130

RESENSI MEMBER
||Terjemahan 1
||Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri
||Ummul Qura
||Desember 2011, 858

Peresensi: @itsfazahraa

Hari itu Madinah guncang. Oleh suatu kabar yang begitu mengejutkan sekaligus menyedihkan —bahkan apa kata yang lebih pantas dari menyedihkan untuk menggambarkan kesedihan ini?

Sebagian dari mereka tidak percaya, sebagian terdiam membisu kehilangan kata-kata, bahkan Umar bin Khaththab yang begitu kita kenal dengan keperkasaan dan kekerasannya seketika mematung ketika mendengar kabar ini. Seluruh sendinya melemas. Betapa ia tidak percaya dengan kabar yang datang tiba-tiba itu, bahkan mengancam untuk memotong kaki dan tangan orang-orang yang menganggap bahwa kabar itu benar.

Sementara Abu Bakar langsung memacu kudanya dari tempat tinggalnya di dataran tinggi Madinah, menuju satu tujuan tanpa bicara pada siapapun. Beliau menuju rumah Rasulullah ﷺ, tempat dimana kabar itu bermula. Didapatinya Aisyah, dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa kabar itu adalah benar

Rasulullah ﷺ telah wafat
Abu Bakar mendekati jasad Rasulullah ﷺ yang diselimuti kain berwarna hitam. Beliau menyingkap kain itu lalu menutupkannya kembali, memeluk jasad beliau sambil menangis.

Kemudian Abu Bakar keluar, menemui orang-orang yang ramai di masjid, dan mereka dalam keadaan percaya-tidak percaya. Adalah beliau sahabat terdekat Nabi bahkan sebelum nubuwwah, adalah beliau yang paling kita kenal dengan kelembutan hatinya, namun pada saat paling guncang, saat dimana mungkin beliau lah orang yang paling luka hatinya dan dalam dukanya, beliau tampil sebagai sosok yang terlihat paling tegar dan menegarkan, kuat dan menguatkan. Lantas dengan lantang beliau berkata,

“Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Tetapi, barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak mati.”
Suaranya bergetar, namun begitu kokoh.

Hari itu, seluruh pelosok Madinah seketika diselimuti duka yang begitu dalam. Tidak ada hari yang lebih buruk dan lebih muram yang pernah mereka alami selain dari hari itu. Hari dimana Rasulullah ﷺ wafat berpulang ke Ar-Rafiiqul A’laa, setelah mencetak karya besar yang kebesarannya tidak pernah tertandingi oleh manusia manapun setelahnya, tidak juga sampai hari ini.

(hlm 825 dengan sedikit penambahan)

Buku ini merupakan buku yang membahas seluk beluk kehidupan Rasulullah. Kupasannya komplit, namun dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak bertele-tele. Segala hal dan peristiwa yang ingin Anda ketahui dari kehidupan Rasulullah ada didalamnya. Riwayat yang digunakan penulis pun hanya berasal dari sumber otentik. Itulah mengapa kemudian buku ini ditetapkan menjadi juara 1 lomba penulisan siroh dunia.

Buku ini berisi 858 halaman, namun isinya terdapat banyak catatan kaki.

Buku ini saya rekomendasikan untuk yang ingin memulai mempelajari siroh nabawiyah sebelum menuju buku-buku siroh “berat” yang lain.

Leave A Reply

Your email address will not be published.