Renungan Pernikahan

0 348

Kiblatmuslimah.com – Ketika menikah, seorang wanita dan seorang pria semestinya telah paham yang nanti bakal dialami dan dilalui mereka pasca pernikahan. Meski belum tentu akan siap dengan segala konsekuensinya. Menikah berarti bersedia membagi sebagian kehidupannya dengan orang lain, yakni suami atau istrinya. Bersedia saling dibebani dan membebani. Bersedia saling meminta dan diminta. Bersedia disayang dan menyayangi. Bersedia dicintai dan mencintai.

Karena pernikahan bukanlah milik suami saja, atau istri saja. Pernikahan adalah milik kita, suami dan istri. Berdua. Maka apapun yang dilakukan suami pasti ada kaitannya dengan istri. Apapun yang dihadapi suami, itulah yang dihadapi istri. Begitupun sebaliknya.

Kedewasaan berpikir dan bertindak tentu saja mutlak harus dimiliki oleh sepasang suami istri. Kedewasaan berpikir tercermin oleh cara seseorang menyelesaikan suatu persoalan. Sedang kedewasaan bertindak terlihat dari tanggung jawab seseorang dalam memikul amanah.

Dengan menikah, mungkin kebebasan kita untuk bergaul dengan teman-teman sepermainan akan berkurang. Waktu untuk melakukan hobi dan kesenangan juga tidak akan sebanyak dahulu saat sebelum menikah. Semua waktu dan tenaga tentu akan lebih banyak tercurah untuk keluarga. Apalagi saat sudah memiliki bayi. Seolah semua waktu tercurah hanya untuk mengurus bayi. Dan sedikit sekali yang tersisa untuk diri sendiri.

Inilah sedikit dari potret kehidupan pasca menikah. Seringkali ketika belum menikah, orang mudah untuk menyatakan kesiapan berumah tangga. Akan tetapi banyak yang malah mendadak tak siap ketika dihadapkan dengan kenyataan hidup pasca menikah. Bahkan lidah seolah kelu untuk berkata dan kaki serasa lumpuh untuk berjalan, karena sedemikian beratnya dalam menjalani lika-liku pernikahan.

Banyak istri mengeluh suami tak peduli. Hanya sibuk dengan kegiatannya sendiri. Sementara istri letih mengurus bayi dan pernak-pernik rumah tangga, suami malah asyik kongkow bersama teman-temannya. Lain lagi dengan keluhan suami yang istrinya aktivis medsos (media sosial_red). Setiap hari sepulang berpeluh-peluh mencari nafkah, tiada sambutan penuh kehangatan dari istri yang diharapkan. Alih-alih mendapat secangkir teh manis hangat, sapaan pun tiada terucap dari lubuk hati. Hanya sekedar lip service. “Ooohh papa sudah pulang?” Sementara mata tetap tertuju ke layar kecil di genggaman.

Jika kejadian yang seperti ini terus terulang. Apalah arti dari sebuah pernikahan. Yang ada tinggal menunggu kehancuran. Oleh karenanya, semua harus kembali ke langkah awal. Meski kehidupan tidak memiliki tombol pause untuk off sejenak. Namun, bukan berarti semua mesti dibiarkan mengalir tanpa upaya perbaikan.

Kembali ke garis awal, renungi kembali hal-hal dibawah ini:

  1. Sebenarnya untuk apa kita menikah? Visi apa yang ingin kita capai bersama? Bagaimana langkah kita untuk mencapai visi itu? Buat waktu khusus, tetapkan visi dan misi keluarga bersama!
  2. Ingat yang sudah saya beri bukan yang sudah ia beri! Ingat yang sudah saya lakukan bukan yang sudah ia lakukan! Jika ingin diberi tentu harus lebih dulu memberi. Jika ingin dihargai maka harus mulai menghargai dan memberi apresiasi. Jika ingin dicintai maka mulailah mencintai.
  3. Renungi! Sudahkah diri ini menjadi pribadi yang dewasa? Kedewasaan bukanlah dikarenakan faktor usia, namun kedewasaan seseorang dapat dilihat dari cara dia berpikir dan bertindak.
  4. Tentukan prioritas berdasarkan timbangan syariat. Mana yang lebih utama dari yang utama sesuai syariat? Apakah berkumpul dengan teman-teman lebih utama daripada menemani istri dan anak-anak di rumah? Ataukah berselancar di media sosial lebih penting dari berinteraksi dengan keluarga?

Kata orang hidup adalah pilihan. Mau menjalani kehidupan pernikahan di dunia yang bahagia atau biasa-biasa saja itu pilihan. Akan tetapi, tujuan meraih kebahagiaan di akhirat itu adalah pilihan mutlak.

By. Zahwah abida

Leave A Reply

Your email address will not be published.