Rentannya Self-Healing Idola Korea

0 44

 

Oleh: Ummu Farah (Pemerhati Remaja, Ibu Rumah Tangga)

 

Kiblatmuslimah.com – Dunia K-Pop kembali dihebohkan dengan sebuah berita mengejutkan. Bukan sebuah berita yang sarat prestasi, akan tetapi … ‘lagi-lagi’ berita tentang kematian bintangnya yang tidak wajar. Ya … kematian Sulli eks F(x). Dia meninggal dengan menggantung dirinya. Tidak kalah menghebohkan adalah surat wasiat yang dia tulis dan live instagram-nya (dalam kondisi habis menangis) sebelum meninggal, isinya tentang kejamnya bully (perundungan) terhadap dirinya.

Belajar dari kasus Sulli, “begitu mudah” satu nyawa hilang di Korea Selatan “hanya” karena bunuh diri. Sedemikian tinggi angka bunuh diri warga Korsel, The Korean Times mencatat, bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor empat di sana. Data World Economic Forum juga menyebutkan bahwa Korea Selatan merupakan negara anggota APEC, yang penduduknya paling banyak bunuh diri. Pada 2012, tercatat tidak kurang 15.000 kasus bunuh diri. Artinya, setiap hari ditemukan 30-40 kasus bunuh diri!

Tingginya angka bunuh diri membuat pemerintah Korsel mencari berbagai cara untuk mencegahnya. Mulai dari menempatkan ratusan bahkan ribuan pengawas di sejumlah lokasi yang dikenal sebagai tempat bunuh diri yang paling disukai. Mereka bertugas membujuk para pelaku untuk mengurungkan niat dan menjelaskan betapa berharganya nyawa manusia.

Jembatan Hannam menjadi lokasi bunuh diri favorit orang Korea. Dari 2009 hingga 2011, tercatat 485 kasus bunuh diri di tempat tersebut. Itu artinya setiap hari ada tiga orang yang melompat dari jembatan.

Begitu menjijikkannya kondisi tersebut. Nyawa seakan bisa dipermainkan, kalau ‘bosan’ bisa langsung ‘dibuang’ dengan kematian (bunuh diri). Ternyata hal ini ditunjang kondisi keagamaan di Korea Selatan. Agama di Korea Selatan dikarakteristikan dengan kenyataan bahwa hampir setengah (46.5%) orang Korea Selatan tidak memiliki agama. Menurut sensus tahun 2005, 22.8% dari penduduknya mengidentifikasikan dirinya sebagai penganut Buddha, 18.3% sebagai penganut Protestan dan 10.9% sebagai penganut Katolik Roma, dengan total 29.2% penganut Kristen.

Kalau kita lihat dari angka di atas, terlihat jelas, Islam belum menjadi pilihan spiritual bangsa Korea, bahkan hampir separuh penduduk memilih tidak beragama, na’udzubillahi min dzalik. Ini yang menjadi penyebab terbesar, melonjaknya angka bunuh diri di sana, Islam masih belum dijadikan “Standar Perbuatan” bagi individunya. Padahal Islam sarat dengan aturan-aturan lengkap dan sempurna, termasuk tentang cara mengatasi depresi atau stres. Seperti firman Allah SWT:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih  hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu  orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139).

Dalam Islam, bunuh diri merupakan tindakan terlarang yang sangat dibenci Allah. Ancaman dosanya pun tidak tanggung-tanggung dan begitu mengerikan. Bahkan dalam hadist dijelaskan bahwa pelaku bunuh diri akan kekal mendekam di neraka jahanam.

Dalam Islam, bunuh diri dengan alasan apapun adalah haram. Orang yang melakukan perbuatan ini terancam akan mendapatkan dosa yang sangat besar. Sebab hidup dan matinya seseorang itu berada di tangan Allah SWT dan merupakan karunia dan wewenang dari Allah.

Allah SWT melarang umatnya untuk melakukan pembunuhan ataupun bunuh diri. Bagi mereka yang melanggarnya akan diancam dengan neraka dan ia akan kekal di dalamnya. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. Kecuali jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’ ayat 29)

“Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa’ ayat 30)

Semoga dengan membaca ini, para penggemar budaya K-Pop, termasuk di negeri ini (yang mayoritas Muslim/Muslimah) tidak lagi terbujuk rayu dengannya. Seorang remaja atau anak muda Islam adalah para calon ayah dan ibu penanggung jawab peradaban mulia, Islam. Mereka nantinya tidak hanya cukup mendidik diri dan keluarganya, akan tetapi wajib peduli pada komunitasnya, mengkaji Islam, dan mendalaminya. Hal tersebut agar tidak terjerumus pada budaya liberal seperti yang diusung Generasi K-Pop, Korea Selatan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.