Refleksi Cinta Rasulullah dan Jahiliyah

0 149

Kiblatmuslimah.com –  Sirah Nabawiyah adalah landasan dan kerangka ideal peradaban Islam. Membacanya dengan cinta adalah pendekatan awal secara emosional. Menguasai kerangka lebih mendalam menghantarkan kepada rasa takjub, perasaan semakin mengagumi, mengikuti dan mencintai perjuangan Rasulullah dalam mengemban dakwah.

Diperlukan langkah berikutnya, pendekatan nalar dan intelektual. Cinta itu harus beralasan. Pengikut Rasulullah harus memiliki cinta yang mutlak.

Perkara awal yang perlu diketengahkan dan dibutuhkan pemahaman yaitu tentang makna jahiliyah. Jahiliyah bukan hanya sekedar permasalahan Arab sebelum risalah Islam datang, melainkan persoalan masyarakat dunia. Tidak terpaku pada waktu tertentu, bahkan bisa berlaku kapanpun (berdasarkan karakteristik jahiliyah).

“Ketika Islam memandang watsaniyah (pemberhalaan) sebagai jahiliyah. Hal itu karena sesungguhnya hakikat kejahilan adalah pemberhalaan. Kejahilan tidak menanam pemikiran tapi memancangkan berhala.“

-Malek Bennabi dalam Syuruth an-Nahdhah

(Ilmuwan Muslim yang konsen pada persoalan Peradaban)

Pemberhalaan adalah penempatan manusia kepada sesuatu yang lebih lemah darinya. Namun dianggap atau diberikan penghormatan, bahkan lebih dari dirinya. Jadi jelas bahwa kejahilan tidak akan menanamkan pemikiran. Bagaimana mungkin orang yang berakal menggantungkan diri pada sesuatu yang lebih lemah, rendah, tidak ada ada apa-apanya dibanding dirinya?

Kondisi masyarakat Arab saat itu adalah ummiyun, tidak mementingkan baca dan tulis. Pada taraf tidak peduli. Padahal mereka adalah orang-orang cerdas. Buktinya, kumpulan ribuan syair mereka hafalkan dan wariskan kepada keturunannya. Kenapa bisa? Itu efek pemberhalaan yaitu jahiliyah atau kebodohan.

Islam datang membawa ilmu dan melawan kejahiliyahan. Saat wahyu pertama turun, disebutkan perintah membaca dua kali. Kemudian pengetahuan disebutkan tiga kali dan media disebut satu kali. Membaca adalah jendela menuju ilmu. Ilmu lawan jahil. Menuntut ilmu diperintahkan kepada masyarakat jahiliyah, maka itulah dekonstruksi.

Islam meruntuhkan kejahiliyahan yang terjadi pada 3 aspek; pengetahuan, keyakinan, dan perbuatan. Ilmu bukan sekedar pengetahuan, ia lebih dari itu. Lebih dalam dari sesuatu yang terukur oleh sains empiris. Ilmu adalah tahapan wujud dari asal-usul sampai akhir.

Para shahabat sebagai generasi terbaik, sebelumnya telah mengetahui dan merasakan jahiliyah. Mereka bersegera menjawab risalah Islam dari Rasulullah karena paham perbedaan hakikat dari jahiliyah dan Islam. Lalu mereka terlahir kembali sebagai manusia risalah.

Akhir kata, perlu kita cermati kembali dalam diri. Jangan-jangan masih terdapat jahiliyah dalam kehidupan, tanpa disadari. Sebagai bukti bahwa kita cinta Nabi dan risalahnya. (Hunafa’ Ballagho)

Leave A Reply

Your email address will not be published.