Rahmat di balik COVID-19

0 236

Kiblatmuslimah.com – Tak ada yang menyangka bahwa pandemi covid-19 bakal selama ini dan mematikan hampir di semua lini aktivitas. Tidak perlu disebutkan lini apa saja, karena satu sama lain saling terkait.

Hal yang paling parah akibatnya dan ini bisa menjadi kemunduran sebuah peradaban adalah di lini pendidikan sekolah. Sepertinya kaum ‘pengubah’ telah paham bahwa kehancuran sebuah peradaban dimulai dari sistem pendidikannya. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh ustadz Budi Ashari dalam sebuah ceramah.

Tidak hanya sebatas menghantam kurikulum, tetapi di semua aspek pendidikan mereka ‘porak-porandai’, sehingga tidak ada lagi orang tua yang berani memperjalankan anaknya ke gedung sekolah. Daring sebagai keberlanjutan kegiatan belajar-mengajar, apakah ini sungguh-sungguh menjadi solusi?

Di tengah para orang tua yang masih sedikit gaptek tentang smartphone dan laptop, menjadikan mereka putus asa untuk melakukan sistem online. Ekonomi yang semakin ‘amburadul’, masih harus membeli kuota, keterampilan mengajar yang minim, dan kemampuan akademik yang terbatas, acapkali menjadikan kegagalan tersendiri dalam membersamai anak belajar di rumah. Lebih-lebih jika sang anak adalah jenis yang termotivasi belajar jika bersama banyak teman.

Komentar anak yang mengatakan, “Ibuku lebih galak dari guruku,” ramai di media sosial. Demikian pula kejadian-kejadian lain yang intinya sekolah di rumah lebih tidak enak daripada di sekolahan. Kemudian terjadi kemacetan proses belajar dan anak lebih suka bermain.

Sampai di sini, kebiasaan baru muncul dengan semakin banyaknya anak-anak yang memegang HP. Daring belajar, berlanjut dengan game terus-menerus tak mengenal waktu. Nonton drakor dan sejenisnya menjadi agenda rutin. Ditambah dengan aplikasi tiktok, instagram, semakin ramai pengunjung.

Menghela napas sejenak untuk menjeda kekagetan dan menambah kecemasan yang merambah memanas-dinginkan badan. Kita masih harus dicekoki dengan propaganda LGBT yang mulai terang-terangan dengan sederet produk-produk pendukungnya. Ok, kita masih bernapas dan sadar bahwa kehancuran peradaban telah nyata, dan inilah fenomena akhir zaman.

Kembali ke pandemi covid-19. Entah itu karena sebuah konspirasi kaum super kaya, atau kecelakaan yang di luar perhitungan, semua terjadi tentu dengan qadar dan iradah Allah. Tidak ada yang luput dari yang telah tertulis oleh-Nya. Ini harus disadari oleh umat Islam sebagai bentuk keimanan.

Mau tidak mau, ini benar-benar terjadi dan kita alami. Tentu saja sebagai seorang muslim yang beriman, solusi terbaik adalah tetap kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih yang lurus. Di tengah kerepotan kita membersamai anak-anak belajar di rumah, harus sadar bahwa ini memang tugas orang tua.

Semua kembali ke rumah, berkumpul bersama dalam waktu yang cukup lama, bukankah itu yang selama ini terbersit dalam impian? Kita bisa mendidik mereka dengan model Islami. Mereka melihat keteladanan dari kita. Akan lebih berbekas bagi anak-anak tentu saja. Pelajaran adab yang sedikit terabaikan dari bangku sekolah dan (mungkin) pondok, kita bisa ajarkan kini di rumah. Galak? Bukankah sesungguhnya kita bisa lebih baik dari guru di sekolah? Bukankah kita lebih ikhlas tersenyum dan menyayangi anak-anak sendiri, darah daging sendiri daripada guru di sekolah?

Sesunggungnya di balik pandemi yang panjang ini, Allah menyisipkan banyak sekali pesan dan nasihat, terutama bagi keluarga. Untuk mengasah rasa kasih sayang, saling membantu, berbagi, dan empati. Untuk anak wanita yang telah remaja, menjadi kesempatan untuk berkhidmat di rumah; berlatih keterampilan kerumahtanggaan, membantu ibunda. Untuk anak laki-laki, ia bisa mempunyai waktu lebih banyak bersama sang ayah yang selama ini sibuk di luar rumah. Diberlakukannya stay at home berarti peran orang tua benar-benar penting, dan memang sangat penting.

Saat sekolah-sekolah sudah mulai membuka pintu kembali, pondok-pondok pesantren mulai aktif untuk menerima santrinya, kita merasakan betapa kebersamaan dengan anak-anak masih belum lama dan sangat pendek waktunya. Masih banyak sekali yang belum kita ajarkan. Masih banyak harapan-harapan yang belum tersampaikan. Pelukan kita setiap hari seakan masih kurang hangat. Di sini kita mulai sadar dan menikmati bahwa pendidikan terbaik adalah dari rumah. Pandemi ini sesungguhnya adalah rahmat.

لا تحسبوه شر لكم بل هو خير لكم..

“… Jangan menyangka bahwa musibah ini jelek untuk kalian, karena di situ ada kebaikan untuk kalian.” (QS. An-Nur: 11)

Oleh: Yasmin Al Asyfaqo

Leave A Reply

Your email address will not be published.