Qolbun Salim

0 143

Kiblatmuslimah.com – Hati atau qolbun adalah segumpal daging yang bisa mempengaruhi seluruh amalan jasad.

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di setiap jasad ada sekerat daging. Manakala sekerat daging tersebut baik, akan baik pula seluruh jasad. Namun, manakala sekerat daging tersebut rusak, akan berakibat rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, sekerat daging tersebut adalah qolbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma)

Menurut Ibnu Rajab Al-Hanbali, hati itu terbagi menjadi tiga, yakni:

  1. Qolbun salim (hati yang sehat/selamat)
  2. Qolbun mayit (hati yang mati)
  3. Qolbun maridh (hati yang sakit)

Sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman membagi hati menjadi empat:

  1. Qolbun munir. Hati yang terang dan menerangi hati yang ada di sekitarnya. Ini hatinya orang beriman – qolbun salim.
  2. Qolbun manqus. Hati yang terbalik, pemiliknya adalah orang munafik. Hati ini jarang mendapat hidayah karena seperti gelas yang terbalik, tidak bisa menerima apapun yang dituangkan ke atasnya.
  3. Qolbun mughlaq. Hati yang terkunci, pemiliknya adalah orang kafir. Namun, kunci/gemboknya berbeda-beda. Ada yang kuat mengunci sampai mati. Ada pula yang rapuh, jika tersentuh hidayah maka masuk Islam; Tugas kita adalah menjadi asbab/sebab hidayah bagi hati seperti ini.
  4. Hati yang terisi dua materi; cabang kemunafikan dan keimanan. Kadang menguat dalam kebaikan, kadang melemah redup karena kemaksiatan yang dilakukan. Hati ini berbolak-balik dan tergantung sisi mana yang kuat mempengaruhinya. Ini adalah hatinya kebanyakan orang beriman.

Selanjutnya akan dibahas secara khusus tentang qolbun salim, yaitu hati yang sehat atau bersih. Hati ini merupakan syarat sebelum mencari ilmu dan menghayati Al-Qur’an. Orang yang memiliki hati yang bersih maka akan mudah menyerap ilmu dan mudah menghayati Al-Qur’an.

Sebagaimana tanah sebelum ditanami, seorang petani hendaklah bisa mengenali jenisnya. Termasuk tanah tandus, subur atau kelebihan air. Jika petani sudah mengenalinya dengan baik maka akan mendapatkan hasil yang memuaskan, dengan izin Allah.

Begitu pula bagi para pencari ilmu dan penghafal Al-Qur’an, dianjurkan untuk memiliki qolbun salim atau hati yang bersih. Agar ilmu atau ayat yang dihafalkan akan meresap di dalam hati dan mendatangkan banyak manfaat.

Orang yang memiliki hati bersih dari hasad, dengki, iri, dendam, dan pelit; hidupnya akan lebih tenang dan tentram. Segala aktivitas yang dilakukan hanya untuk mencari ridha Allah. Dia tidak akan sakit hati dengan perkataan orang lain karena hanya bertaqarub kepada-Nya.

Sebagaimana telah disebutkan di dalam surah Asy-Syu’ara ayat 88-89 yang artinya, “(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.

Qolbun salim adalah efek ibadah hati. Para ulama menyebutkan bahwa ibadah batin (hati) lebih utama dibanding zahir. Jadi jangan sampai kita memesona dalam ibadah zahir tetapi tanpa disadari batinnya rusak. Ibadah hati menduduki keutamaan yang tinggi di sisi Allah dan dicintai-Nya.

Sebagaimana di dalam hadist riwayat Imam Ahmad dari Anas bin Malik; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika mengobrol dengan para sahabat. Beliau berkata bahwa salah satu penghuni surga akan datang. Kemudian datang seorang sahabat Anshar.

Riwayat ini bercerita tentang Abdullah bin Amru bin Ash yang mengikuti sahabat Anshar tersebut. Hal ini karena penasaran dengan amalnya yang disebut Nabi sebagai penghuni surga selama tiga hari berturut-turut. Ternyata amalan sahabat Anshar ini adalah tidak pernah menyimpan hasad di dalam hati kepada dan memaafkan kesalahan kaum mukminin karena tidak mau menyimpan kebencian kepada orang lain. Cerita ini mengindikasikan bahwa hati yang bersih akan mempermudah diterimanya amalan zahir.

Maka dari itu, hendaklah ibadah secara seimbang antara amalan zahir dan batin. Jangan sampai amalan zahir bagus tetapi hatinya rusak. Sehingga ia menjadi wali Allah dalam ibadah zahir, sebaliknya menjadi wali setan dalam amalan hati.

Shalat adalah amalan zahir yang pertama kali akan dihisab. Namun sebelumnya, Allah akan menghisab amalan hati terlebih dulu.

“Allah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat berdasarkan niat-niat mereka.”

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa Abu Bakar menjadi orang paling utama setelah Nabi bukan karena shalat dan ibadah lainnya. Namun karena sesuatu di dalam, yakni kebersihan hati.

Kalau ingin dicintai Allah, yang pertama harus diperhatikan adalah kebersihan hati. Ketika hati bersih, Allah akan mencintai kita. Ini adalah cara tercepat menaikkan kedudukan kita di sisi Allah.

Orang yang selalu memperhatikan amalan hati dan kebersihannya, akan dimudahkan wafat dalam kondisi khusnul khatimah.

“Jangan terlalu benci kepada seseorang! Jangan pula mencintai/kagum berlebihan, sampai mengetahui kondisinya ketika mati. Apakah khusnul khatimah atau tidak? Ada orang yang kita lihat biasa, tetapi dipilih Allah untuk khusnul khatimah karena hatinya bersih.”

“Hati manusia lebih rapuh daripada gelas-gelas kaca”. Susah menjaga niat. Hari ini ikhlas besok belum tentu. Tugas kita adalah terus memperbaiki niat dalam beramal.

Ya Allah. Ya Muqolibal qulub, tsabit qolby ala diinika. Ya Muqolibal qulub, syarif qolbi ‘ala tho’atik.

Ya Allah, berikanlah kami qolbun salim (hati yang sehat) dari penyakit hati. Hati yang bersih dari hasad, dengki, iri hati, dan pendendam. Ya Allah, jadikanlah akhir hayat kami khusnul khotimah dan memiliki hati yang bersih. Amiin, Ya Robbal ‘Alamin.

 

Oleh: Fyrda Ummu Farhat

Leave A Reply

Your email address will not be published.