Pusat Kebahagiaan

0 111

Kiblatmuslimah.com – Mari kita merenungi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini,

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah Tuhan Semesta Alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.” (QS. Al-An’am: 162-163)

Hidup adalah ibadah, itulah semboyan umat Islam. Karena ibadah bukan hanya seputar di masjid atau di majlis ta’lim saja, tapi segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla baik berupa perkataan, perbuatan yang dzahir ataupun yang bathin. Jadi, “semua” yang kita kerjakan di dunia ini bisa bernilai ibadah kepada Allah dengan syarat ikhlas semata-mata karena Allah dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Berjuta jiwa melalang buana, mencari kebahagiaan di pucuk-pucuk dunia. Membuang harta dan merebut tahta, atau juga berburu wanita. Namun, kiranya terlupa bahwa kebahagiaan berada di dalam dada, yang di dalamnya bersemayam iman dan taqwa sejati.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Barangsiapa mengerjakan kebaikan dari laki-laki ataupun perempuan, sedang dia beriman maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan kami beri balasan pahala kepada mereka dengan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Berdasarkan ayat di atas, Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan secara gamblang bahwa hakikat kebahagiaan adalah apabila kita beriman dan beramal shalih. Pusat kebahagiaan itu terletak di hati. Apabila hati seseorang itu dipenuhi dengan cahaya keimanan sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, maka dia akan bahagia di dunia dan akhirat.

Sebaliknya, bagi mereka yang berpaling dari jalan Allah dan mengikuti jalan lain dengan konsepsi setan dan konco-konconya, maka pasti (cepat atau lambat) ia akan mendapatkan kesengsaraan dunia apalagi di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaaha: 124)

Allah hanya menerima hati yang bersih, tulus dan ikhlas, yang semua perbuatannya dipersembahkan hanya untuk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“(yaitu) pada hari saat harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’araa: 88-89)

Sebagian ulama salaf menggambarkan bahwa hati ini seperti rumah yang mempunyai pintu dan jendela. Apabila penjagaan pintu dan jendela tidak ketat, bisa dipastikan seisi rumah akan dikuras oleh maling. Pintu dan jendela tersebut adalah mata, telinga, dan seluruh anggota tubuh. Sedangkan malingnya adalah setan dan kroninya. Lalu kewajiban kita adalah menjaga hati dan mengisinya dengan kesucian sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Sumber: Okbah, Farid Ahmad. 2011. Hidup Hanya Sekali Jangan Salah Jalan. Jakarta: Perisai Qur’an. hal. 50-52.

Al-Qowarir

Leave A Reply

Your email address will not be published.