Puasa bagi Ibu hamil dan Menyusui

0 230

Kiblatmuslimah.com – Ramadhan akan hadir dalam hitungan hari. Setiap muslim sudah bersiap menyambut bulan mulia ini. Dinamakan pula syahru shiyam karena memang sebulan penuh Allah mewajibkan setiap muslim untuk berpuasa, tanpa kecuali ibu hamil dan menyusui.

 

Walaupun memiliki rukhsah (keringanan) dalam menjalankan ibadah puasa. Namun, setiap muslim pasti (tanpa terkecuali ibu hamil dan menyusui) ingin berusaha maksimal demi memperoleh predikat hamba yang bertakwa. Jika secara medis tidak memiliki gangguan, ibu hamil dan menyusui boleh berpuasa. Tetapi perlu memperhatikan hal-hal di bawah ini

 

  1. 1. Asupan Gizi Seimbang

Ibu harus bisa makan makanan dengan konsep gizi seimbang saat buka dan sahur. Gizi seimbang yang dimaksud adalah ibu harus bisa mengombinasikan bahan makanan. Tidak ada satu bahan pangan saja yang bisa mencukupi kebutuhan gizi seseorang. Tidak harus mahal, yang penting ada variasi menu untuk kecukupan gizi.

 

Di sisi lain, ibu juga tidak perlu berlebihan makan. Secukupnya dan tidak perlu sampai kekenyangan. Pastikan berkualitas, bukan hanya kuantitas. Makan berlebihan akan membuat perut sebah, selain itu bisa mengganggu aktivitas ibadah (selain puasa).

 

  1. Jangan Sampai Kurang Minum

Kebutuhan air putih ibu hamil dan menyusui saat puasa, tetap dua liter. Jadi ibu harus memastikan kebutuhan air putih ini agar tidak dehidrasi. Dua liter air setara dengan 8-10 gelas. Jika ibu memiliki tumbler (tempat minum) dengan ukuran volume, akan membantu mengukur asupan air putih yang diminum setiap hari.

 

  1. Istirahat yang Cukup

Merasa lemas saat berpuasa adalah hal yang lumrah. Melakukan qailulah (tidur siang) menjadi solusi agar tidak kelelahan.

 

  1. Perhatikan Sinyal Tubuh

Ibu perlu memperhatikan sinyal tubuh saat puasa karena ibu hamil dan menyusui memiliki rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa. Berikut tanda bahwa ibu mulai waspada saat berpuasa.

  1. Ibu mulai pusing dan tidak hilang sakitnya walaupun sudah istirahat. Ini merupakan salah satu tanda dehidrasi yang membuat ibu perlu berpikir untuk membatalkan puasa. Apalagi jika melihat air seni yang lebih pekat dari biasa. Mari kenali sinyal tubuh agar puasa maksimal, tubuh pun tetap sehat.

 

  1. Jangan melanjutkan puasa jika ibu melihat frekuensi buang air kecil berkurang (pada bayi ASI eksklusif). BAK normal pada bayi ASI eksklusif > 6x, jika kurang dari itu ibu perlu waspada. Selain itu, ibu juga perlu memperhatikan sikap bayi apakah dia rewel/gelisah atau berperilaku di luar kebiasaan dan tanda dehidrasi lain. Maka, ibu perlu mempertimbangkan untuk membatalkan puasa.

 

  1. Saat bayi sedang sakit dan membutuhkan asupan optimal ASI maka ibu perlu memperhatikan pola makan. Jika perlu, mengambil rukhsah untuk tidak berpuasa terlebih dahulu. Wallahu A’lam.

 

Sumber : Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia

Penulis : Nur Fadhilah

Leave A Reply

Your email address will not be published.