PKI di Desa Cemetuk

0 275

Kiblatmuslimah.com – Tanggal 30 September 1965 adalah hari ketika Partai Komunis Indonesia melancarkan aksi pemberontakan. Ini adalah pergerakan internasional, kaum komunis berkeinginan menguasai dunia.

 

Komunis adalah paham yang dicetuskan oleh Karl Marx. Paham ini hendak menghapuskan hak pribadi dan menggantinya dengan hak bersama milik negara. Jika menengok sejarah maka kita dapati kaum komunis tidak berperikemanusiaan terhadap siapapun yang berseberangan dengan paham mereka.

 

Pun di Indonesia. Sejak dimulainya pemberontakan ini, ada 10 perwira TNI yang diculik dan banyak ribuan rakyat mati tanpa dikasihani.

 

Jika melihat demografi Indonesia yang memiliki penduduk mayoritas muslim, bisa dikatakan umat Islam adalah musuh bebuyutan kaum PKI. Untuk melancarkan aksinya, kadang kala mereka menyamar sebagai ormas Islam. Seperti kisah pembantaian massal di kabupaten Banyuwangi.

 

Kisah pembantaian terjadi di Dusun Krajan, Desa Cemetuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pada tanggal 18 Oktober 1965, warga mendapat undangan pengajian di rumah Pak Lurah.

 

Mengatasnamakan pengajian NU, warga pun antusias datang berbondong-bondong ke rumah Pak Lurah. Padahal undangan ini adalah aksi PKI yang sedang menyamar sebagai anggota Banser dan Fatayat NU. Warga tidak tahu bahwa Lurah Desa Cemetuk adalah seorang dedengkot PKI. Dia sengaja menjebak warga desa, aktivis Banser dan Ansor di acara pengajian itu.

 

Ada pula organisasi wanita PKI bernama Gerwani yang bertugas di bagian konsumsi. Mereka mengenakan kerudung, berseragam hijau khas Fatayat NU dan ikut bershalawat bersama warga.

 

Tak ada kecurigaan dari warga. Mereka menikmati, bershalawat bersama dan pengajian diakhiri dengan acara makan besar. Tak berapa lama kemudian, tamu undangan terlihat memegang perut dan leher seraya kejang. Benar, mereka diracuni dan tampak kesakitan di rumah Lurah Matulus, dedengkot PKI. Aksi ini berjalan lancar, PKI berhasil membunuh anggota Anshor dan Banser Banyuwangi.

 

Tampak para Gerwani tertawa melihat anggota Banser sekarat. Mereka tidak lagi berpura-pura menjadi anggota Fatayat NU yang bershalawat. Mereka berubah menjadi Gerwani yang mendendangkan lagu genjer-genjer. Tak ada perlawanan berarti, racun makanan mampu membuat ‘musuh’ tumbang bersamaan.

 

Di saat anggota Banser dan Anshor sedang sekarat, mereka digelandang ke rumah Mangun Lehar, seorang tokoh utama PKI di desa Cemetuk. Pembantaian pun terjadi.

 

Rumah Mangun Lehar banjir darah, PKI membunuh tanpa belas kasihan. Bahkan Gerwani yang beranggotakan wanita PKI pun turut andil dalam pembantaian tanpa gentar.

 

Mereka pun telah menyiapkan tiga lubang besar untuk mengubur jenazah anggota Banser dan Anshor. Lubang pertama dan kedua berisi masing-masing 10 jenazah. Lubang ketiga berisi 42 jenazah. Na’udzubillah. Sampai hari ini, ketiga lubang tersebut masih ada di Desa Cemetuk, Banyuwangi.

 

Untuk mengingat peristiwa kejahatan PKI di Desa Cemetuk, Banyuwangi ini, telah dibangun monumen Pancasila Jaya. Terdapat daftar 62 orang yang dibantai dan tiga lubang kuburan massal tadi dinamakan Lubang Buaya.

 

Sebuah kisah yang penuh pelajaran tentang sejarah kelam bangsa Indonesia. Paham komunis mampu mengubah hati dan sikap manusia, menjadi buas dan tidak berhati nurani.

 

Sebaliknya, Islam merupakan ajaran rahmatan lil ‘alamin. Seharusnya mampu membuat manusia menjadi generasi Rabbani yang jujur dan menjaga petuah Qur’an serta sunnah dalam interaksi terhadap sesama.

 

Sumber: dibahasakan ulang dari tulisan Widi Astuti (Aktivis kemanusiaan dan pemerhati sejarah PKI) https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=562553658502323&id=100042430805522

 

Oleh: Ulfah Nadirah

Leave A Reply

Your email address will not be published.