Persiapan Ramadhan agar Tak Sibuk di Dapur

0 219

Kiblatmuslimah.com – Tak terasa selangkah lagi kita akan memasuki bulan suci. Ketika seluruh amalan dilipatgandakan. Saatnya berlomba-lomba meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri pada Ilahi. Namun para emak seperti saya, Ramadhan juga akan menambah seabrek kegiatan terutama urusan dapur yang menyita waktu. Menjelang berbuka dan sepertiga malam terakhir sibuk berkutat dengan bumbu dapur. Hhmmm, yuks Mak, kita siasati agar waktu emas tidak habis di dapur saja.

Jangan sampai waktu-waktu berharga itu terbuang karena kesibukan meracik bumbu dapur. Walaupun menyiapkan makanan bagi yang berpuasa juga pahala, alangkah baiknya jika kita bisa mendapat combo. Pahala menyiapkan makanan, juga dari ibadah pribadi kita.

Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu saya mendapat broadcast cara membuat bumbu instan untuk persiapan jelang Ramadhan. Jujur saya sedikit trauma dengan bumbu instan kemas dalam bentuk serbuk yang diiklankan di tv. Saya adalah emak-emak muda yang kerap menggunakan bumbu instan. Selain karena praktis, sebenarnya saya memang tidak jago masak.

Bumbu instan sup ayam dan berbagai masakan lainnya lumayan lengkap di kotak bumbu saya. Namun suatu ketika, saya sengaja memasak sup ayam sekaligus banyak karena akan ada adik dan istrinya ke rumah. Ternyata mereka batal datang. Alhasil sup pun tak sekali habis. Sore hari usai dipanasi, saya icip-icip ternyata sudah berubah rasa. Ada sedikit rasa pahit mirip obat. Meski tak sepahit jika langsung menggigit paracetamol. Mungkin itulah efek sebuah bahan kimia. Bumbu instan pasti mengandung beberapa ekstrak yang terbuat dari bahan kimia.

Untuk itu, saya harus bertaubat dari yang instan serbuk semacam itu. Beralih ke olahan rumah yang asli dan masih berbentuk layaknya bumbu baru diracik. Dapat ditemui di pasar-pasar tradisional.

Kembali pada persiapan Ramadhan. Kali ini saya ingin berbagi tiga resep dasar yang perlu dipersiapkan agar tidak terlalu sibuk di dapur. Bumbu dasar putih, oranye/jingga, dan merah. Masing-masing memiliki fungsi dan kreasi masakan berbeda. Ok, sekarang kita bahas satu persatu:

Bumbu Dasar Putih

  • Digunakan untuk bahan dasar: semur, rawon, tumisan, aneka olahan mi, sayur sup, dan lain-lain.
  • Bahan yang digunakan: Bawang putih 150 gr, bawang merah 400 gr, jahe (sedikit saja) kira-kira 3 cm, kemiri 50 gr, garam, gula pasir. Jika ingin menambahkan lada bubuk juga bisa, namun kali ini saya tidak memakai.

Bumbu Dasar Oranye

  • Digunakan untuk bahan dasar: sayur santan, terik daging, daging atau telur bumbu merah khas Kalimantan, bumbu Bali dan sebagainya.
  • Bahan yang digunakan: cabai merah besar (saya menggunakan cabai merah kering khas Kalimantan, jika tidak ada bisa menggunakan cabai merah besar biasa dan buang bijinya) 250 gr, bawang putih 100 gr, bawang merah 200 gr, kemiri 50 gr, jahe dan kunyit (masing-masing 3 cm), garam, dan gula.

Bumbu Dasar Merah

  • Digunakan untuk bahan dasar: Sambal instan, sambal goreng, ikan balado, nasi goreng, dan masakan pedas lainnya.
  • Bahan yang digunakan: Cabai tiung 250 gr, cabai keriting 250 gr, tomat 250 gr, bawang putih 50 gr, bawang merah 150 gr, garam, dan gula.

Pada dasarnya pengolahan bumbu-bumbu tersebut sama dan tidak dibeda-bedakan. Masing-masing bahan setiap jenis bumbu dihaluskan secara terpisah. Agar lebih praktis diblender saja, ya. Walau ada yang mengatakan bumbu diulek akan lebih sedap. Namun jika memasaknya diramu dengan cinta dan kasih sayang, diblender juga tetap enak.

Blender bumbu pakai air bersih saja. Saran tidak pakai minyak goreng. Pada dasarnya seluruh bumbu segar itu mengandung air. Jika diblender dengan minyak, maka akan terjadi percampuran air dan minyak yang konon katanya tak bisa bersatu selamanya. Hingga saat proses pengeringan bumbu akan terjadi gencatan senjata antara air dan minyak. Bumbu yang  ditumis akan muncrat ke sana, kemari.

Air untuk memblender pun secukupnya saja. Agar proses pengeringan bumbu tidak terlalu lama. Setelah semua bahan dihaluskan menjadi satu, tuang pada wajan tambahi garam. Garam juga berfungsi sebagai pengawet alami. Jangan pernah menambahkan MSG, ya.

Nyalakan api sedang, cenderung kecil pada kompor Anda. Sesekali aduk-aduk hingga kandungan air berkurang dan bumbu mulai mengering. Kegunaan mengaduk juga agar bagian bawah tidak gosong dan sangit. Saat dirasa kandungan air sudah mulai habis, barulah dituang minyak goreng secukupnya untuk menumis hingga bau harum keluar. Kurang lebih 5-10 menit.

Matikan kompor dan biarkan hingga suhu bumbu turun, baru dipindah pada wadah bertutup. Menaruh makanan panas pada wadah plastik sangat tidak baik untuk kesehatan. Jika sudah hilang seluruh hawa panasnya, tutup wadah tersebut dan simpan pada lemari es. Bumbu instan ini bisa bertahan hingga 3 bulan dalam suhu lemari es. Oh iya, pastikan benar-benar tak ada lagi suhu panas saat akan menyimpan di lemari es. Jika masih terasa hangat maka akan membuat keringat dalam wadah yang nanti berakibat bumbu tersebut kecut atau berubah rasa.

Terakhir, jika membuat jangan pas-pasan ya, Mak. Buat sekalian banyak agar nanti saat Ramadhan bisa disedekahkan pada tetangga yang mungkin mau masak tapi tidak punya bumbu, atau tidak sempat bikin bumbu karena anaknya rewel dan lain-lain.

Selamat mencoba, Emak-emak tersayang. Mari persiapkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya!

Penulis: Ekadeffa (deffa.my.id)

Editor: Halimah

Leave A Reply

Your email address will not be published.