Perempuan yang Menolak Perjodohan

0 195

Kiblatmuslimah.com – Khansa’ binti Khadzam al-Anshari merupakan sosok perempuan yang hidup di zaman Rasulullah SAW. Ia berasal dari keturunan Bani Amr bin Auf bin Aus. Ketika masih belia, pernah bertemu dengan Rasulullah SAW saat datang ke Madinah. Khansa’ juga salah seorang shahabiyah yang juga meriwayatkan beberapa hadis dari Rasulullah SAW. Dalam kisahnya, ia pernah menolak perjodohan dari orang tuanya.

Khansa’ binti Khadzam adalah perempuan yang menjadi korban pernikahan paksa oleh ayahnya, karena dinikahkan dengan lelaki yang tidak diinginkan. Pada waktu itu, ada dua laki-laki yang melamar Khansa’ binti Khadzam. Pertama, Abu Lubabah bin Abdul Mundzir, salah seorang pejuang dan sahabat Nabi SAW. Kedua, seorang laki-laki dari Bani Amr bin Auf, yang masih kerabatnya sendiri.

Khansa’ sejatinya lebih tertarik pada Abu Lubabah, sedangkan ayahnya lebih tertarik kepada laki-laki yang masih ada hubungan kerabat dengannya. Memang, ketika perjodohan itu, usianya masih belia dan akhirnya dinikahkan dengan anak pamannya.

Setelah kejadian, Khansa’ menemui Rasulullah SAW sambil berkata, “Sesungguhnya bapakku telah memaksaku untuk menikah dengan orang yang diinginkannya, sedangkan saya tidak mau”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada pernikahan dengannya. Menikahlah dengan orang yang kamu cintai”. Kemudian Khansa’ menikah dengan Abu Lubabah.

Dalam riwayat lain, terkait kalimat yang diucapkan Khansa’ ketika menghadap Rasulullah SAW, “Sesungguhnya bapakku memaksaku menikah dengan keponakannya”. Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Laksanakan saja yang dimaui bapakmu!” Kemudian Khansa’ mengatakan kembali kepada Rasulullah SAW, “Saya tidak suka dengan hal tersebut.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Kalau begitu, pergilah dan nikahlah kamu dengan orang yang kamu sukai.”

Dari kisah di atas menunjukkan bahwa Islam sebagai agama yang tak mengekang dalam menentukan calon pasangan hidup. Ruang lingkup perempuan dalam Islam pun tak sempit. Dalam kesehariannya, para perempuan diperbolehkan untuk menyatakan pendapat. Hal ini jauh berbeda ketika Nabi Muhammad SAW belum mengajarkan tentang Islam di jazirah Arab.

Hikmah lain yang dapat dipetik dari perjuangan keteguhan hati Khansa’ adalah pernikahan bukan sesuatu hal yang dapat dipaksakan. Apalagi berdasarkan asas penipuan. Rasulullah juga menegaskan, “Orang tua tidak berhak memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang tidak dicintainya.”

Kedatangan Islam melalui dakwah Nabi Muhammad SAW memang tak hanya berfokus pada kemaslahatan satu kaum tertentu saja. Tentang perempuan, misalnya, Rasulullah tidak mengajarkan umatnya untuk melakukan pengekangan atau eksploitasi perempuan. Padahal, sebelum Islam datang, tak sedikit perempuan yang ditempatkan pada posisi yang rendah.

Perempuan mempunyai hak dalam memilih pasangannya, dan mempunyai prioritas dalam menentukan pilihan. Rasulullah SAW yang dimintai pendapat tentang masalah tersebut tidak serta merta menyalahkan orang tua Khansa’. Di lain pihak tidak memaksa Khansa’ agar memenuhi permintaan orang tuanya.

Tetapi Rasulullah SAW memberikan sebuah pilihan kepada Khansa’ sebagai orang yang akan menjalaninya dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Walaupun begitu, Rasulullah SAW tetap memberikan saran agar mengutamakan dan  menuruti bapaknya terlebih dahulu, sebagai wujud bakti anak kepada orang tuanya. Namun, dalam urusan perjodohan, bakti juga ada batasnya, yaitu kebahagiaan sang anak itu sendiri. Bila bakti harus mengorbankan perasaan sang anak, Rasulullah SAW menyarankan untuk menikah dengan seseorang yang mampu membuat hati tentram.

Sumber: Muhammad Ibrahim Saliim. 2002. Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah. Depok: Gema Insani Press. Cet.1.

-Peni Nh

Leave A Reply

Your email address will not be published.