Perang Gerilya di Tanah Rencong (Bagian 3)

0 110

Kiblatmuslimah.com – Rakyat dalam gerilya perang, ibarat air bagi ikan. Taktik perang gerilya akan berhasil tatkala para mujahidin bisa menyatu dengan mereka. Sehingga rakyat bisa mendapat tempat berlindung, suplai logistik, senjata dan suplai personal.

Dampak gerakan perang gerilya ini membuat pusing Belanda. Semula Belanda hanya menerapkan strategi bertahan. Bahkan untuk melawan perang gerilya, Belanda harus memakan banyak biaya. Belum lagi ditambah banyaknya korban pasukan, sehingga Belanda mencari cara untuk melakukan kontra gerilya.

Lalu muncul sebuah gagasan membentuk pasukan khusus dalam melawan gerilyawan. Pasukan ini dikenal dengan Korps Marsose sebagai sebuah pasukan kontra gerilyawan. Anehnya, pasukan ini anggotanya orang pribumi. Hanya saja pimpinannya yang berdarah Belanda.

Keunggulan yang ditawarkan oleh pasukan ini adalah mereka pribumi yang dilatih khusus. Mereka akan lebih mengenal musuh karena sesama pribumi. Artinya, bisa dikatakan, Korps Marsose ini ditugaskan untuk membunuh saudara mereka sendiri. Pasukan ini juga berdarah dingin, sehingga banyak melakukan pengejaran terhadap para gerilyawan.

Di samping itu, Belanda mencoba taktik lain yaitu memisahkan antara ulama dan uluebalang. Belanda baru dapat menaklukkan Aceh setelah berhasil memecah belah. Hal itu dilakukan atas saran Christian Snouck Hurgronje.

Atas saran Snouck Hurgronje, Belanda berhasil mengikat kerja sama dengan sejumlah uluebalang dan segera dapat mematahkan berbagai perlawanan rakyat. Teuku Umar, suami dari Cut Nyak Dien akhirnya syahid. Panglima Polim menyerah setelah keluarganya ditangkap. Sultan terakhir, Muhammad Daud Syah, diasingkan ke Ambon pada tahun 1907.

Peresume: PramudyaZeen

Referensi: Anwar. Perang Gerilya di Tanah Rencong. Edisi 123. Rabiul Akhir-Jumadi Ula 1437H/Februari 2016. Solo: Majalah An Najah. Hal: 28-29.

Leave A Reply

Your email address will not be published.