Perang Diponegoro (Bagian 1)

0 104

Kiblatmuslimah.com – Perang Diponegoro adalah sebuah perlawanan untuk merebut kekuasaan politik di Kesultanan Yogyakarta. Perang ini direncanakan secara cermat, rahasia, dan lama. Tujuannya membangun balad (negeri) Islam yang berlandaskan Al-Qur’an di tanah Jawa. Sifat agamis perang ini mengandung banyak sisi sebagai perang suci, atau perang sabil (jihad fi sabilillah).

 

Sultan Ngabdulkhamid (nama lain Diponegoro) telah mempunyai keberanian dan tekad yang kuat untuk melawan kekuatan militer yang belum pernah terkalahkan di Jawa saat itu. Berani melawan kezaliman dan hegemoni penjajah Belanda. Berusaha merubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islami. Ia telah berusaha sekuat tenaga mencurahkan segala potensi yang ia miliki untuk mengerjakan perintah Allah dalam Al-Qur’an, memuliakan agama Islam di tanah Jawa.

 

21 Ramadhan sebelum pecahnya perang Jawa, tatkala Diponegoro sedang menyepi, menyendiri untuk mendekatkan diri dengan sang Pencipta (iktikaf), seolah-olah ada orang yang datang dan mengaku utusan Ratu Adil menyampaikan pesan agar menghadap padanya.

 

Diponegoro mengikuti utusan itu. Dalam dialog, Ratu Adil berkata, “He Ngabdulkhamid, kupanggil kau kemari, rebutlah tanah Jawa. Bila ada orang bertanya dasarnya adalah ayat Qur’an. Cari itu di ayat Qur’an (nawanalina Kuran)!” Ngabdulkhamid menjawab, “Mohon maaf saya tidak sanggup, saya tidak memiliki prajurit.” Di sini terjadi “perang batin” dalam diri Diponegoro, antara keinginan yang kuat (ambisi) dan keraguan.

 

Keputusan yang digambarkan secara simbolis sebagai “perintah” Ratu Adil, sebenarnya merupakan kemenangan ambisinya terhadap keraguannya. “Perintah” dipahami sebagai kewajiban dan tugas yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan.

 

Tugas membangun masyarakat baru dalam balad Islam sudah tiba saatnya. Demikian yang ditulis dalam Babad Diponegoro. Penolakannya terhadap tawaran Residen John Crawfurd untuk menjadi putra mahkota dan dari Residen Baron de Salis untuk diangkat sebagai Sultan, adalah suatu sikap yang konsisten dengan cita-citanya. Cita-cita mengubah masyarakat jahiliyah ke sebuah balad Islam.

Peresum: PramudyaZeen

Subroto, K. 2018. Syamina. Strategi Belanda Menghancurkan Network Diponegoro. Edisi 4.

Leave A Reply

Your email address will not be published.