Penyimpangan Pergaulan pada Remaja Islam

0 296

Kiblatmuslimah.com – Berbicara tentang cinta memang tidak akan ada habisnya. Dengan cinta-Nya, Allah menciptakan manusia dan melimpahkan rahmat. Dengan cinta pula, ayah dan ibu melahirkan generasi penerus untuk kelangsungan hidup manusia. Sayangnya, dalam realitas kehidupan hanya sedikit orang yang menyadari dan memahami peringkat-peringkat cinta.

 

Ada orang yang sangat cinta kepada harta. Ada pula yang sampai jatuh bangun memuja kekasih pujaannya. Padahal dalam Islam, telah diatur peringkat-peringkat cinta itu. Sebagaimana yang terdapat dalam Surat At-Taubah yang artinya, “Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum kerabat, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik“. (QS. At-Taubah: 24)

 

Hal yang lazim terjadi sekarang, Allah hanya didekati bila butuh pertolongan. Ketika sedang di atas angin maka dengan segera pula Allah disingkirkan (QS. Yunus: 12).

 

Para remaja kerap mengkonotasikan cinta pada lawan jenis. Sedemikian membudayanya cinta dengan lawan jenis (ikhtilat) ini sehingga kemudian dikenal istilah pacaran (budaya kafir). Sebenarnya normal apabila ada rasa suka antara wanita dan pria. Hal ini merupakan fitrah, sesuai dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam QS. Ar-Rum: 21 yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tentram kepadanya, dan dijadikan di antaramu kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.“

 

 

Apa itu Pacaran?

 

Pacaran adalah salah satu cara terpopuler untuk mencari pasangan hidup dewasa ini. Cara ini muncul di Negara-negara Barat, kemudian diperkenalkan ke berbagai penjuru dunia melalui bacaan, film, novel, majalah, radio, internet, dll sehingga mewabah ke seluruh dunia, termasuk yang penduduknya mayoritas muslim. Seseorang bisa berpacaran dengan lawan jenisnya tentu melalui berbagai tahapan.

 

Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziah rahimahullah Ta’ala merumuskan tiga faktor yang menyebabkan gejolak cinta yaitu:

 

  1. Sifat-sifat yang dimiliki sesorang yang membuat ia mencintai kekasihnya.
  2. Perhatian sang kekasih terhadap sifat-sifat tersebut.
  3. Pertautan antara seorang dengan kekasihnya.

 

 

Dengan tercapainya pertautan, maka gejolak akan melemah. Sedangkan Murstein menemukan bahwa pacaran terdiri dari tiga tahap yakni:

 

  1. Tahap stimulus, yaitu mulai dari pertemuan dan saling tertarik.
  2. Tahap nilai, yaitu masing-masing mulai membandingkan dan bereksplorasi (menampilkan) tentang nilai-nilai yang dianut. Bila terdapat kesamaan, maka biasanya hubungan akan makin berlanjut.
  3. Tahap peran, yaitu dengan saling berjanji, memecahkan masalah bersama-sama, dst.

 

Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh remaja untuk berpacaran yakni:

 

  1. Sekedar hura-hura/rekreasi.
  2. Tekanan/kritik sosial, karena tidak punya pacar dianggap aneh dan tidak normal.

 

Faktor penting dalam mencari pasangan: Mekanisme (Pelajaran), Sosialisasi (Berhubungan) Seksual.

 

Namun pacaran tidak dapat menjamin akan mendapat pasangan yang benar-benar sesuai. Dalam penelitian lain disimpulkan bahwa pacaran sebentar atau bertahun-tahun punya dampak kegagalan dalam perkawinan.

 

 

Dampak Pacaran

 

Pacaran termasuk dalam pengumbaran nafsu syahwat yang tidak dirahmati Allah. Perasaan hati/cinta itu menyatu di luar perkawinan. Hal ini karena rata-rata orang berpacaran akan menemukan kecocokan bila terdapat hal-hal berikut:

 

  1. Senang bila dapat berduaan, tidak dapat/tahan untuk berpisah dalam waktu pendek.
  2. Merasa cocok satu sama lain, memecahkan masalah bersama.
  3. Berusaha untuk memenuhi/menuruti kemauan kekasih dalam rangka mempertahankan hubungan.

 

Seorang pakar Psikologi UI, Prof. Dr. Singgih Gunarsa, Psi. mengatakan bahwa:

 

“Rata-rata pelaku pacaran masih tergolong usia muda, sehingga mereka kadang-kadang belum dapat mempertimbangkan dengan baik sifat dan pacaran dalam batas-batas kesopanan, terutama soal kedisiplinan diri dalam waktu ibadah, belajar, bekerja dan rekreasi. Prestasi belajar menurun. Belajar seringkali dijadikan alasan untuk pacaran karena mereka menikmati suasana berduaan.“

 

Dalam buku Pendidikan Seks dalam Islam karangan Syaikh Dr. Abdullah Ulwan, mengungkapkan kejahatan seks yang menimpa Rusia dan Amerika.

 

Di Rusia, Presiden Chruschor tahun 1962 berkata, “Masa depan Rusia dalam bahaya karena pemuda-pemudinya bodoh, tidak terarah dan hanyut akan seks. Di lain pihak, Presiden USA juga mengatakan khawatir akan masa depan Amerika. Di antara 7 pemuda yang mendaftarkan diri menjadi tentara, 6 di antaranya tidak layak. Keasyikan mereka dengan syahwat telah merusak fisik dan jiwa mereka”.

 

Pada kenyataannya, sekarang sederet bukti kejahatan seksual sudah tampak di Negara-negara barat terutama Amerika. Pemerkosaan terjadi tiap detik dan calon pemerkosanya 86% adalah orang-orang yang telah dikenal termasuk ayah, abang, paman, tetangga, maupun pacar.

 

Hal ini menyebabkan wanita AS tidak lagi merasa aman tinggal di rumah. Sekarang juga marak yang dinamakan pelecehan seksual (seksual harassement), mulai dari siulan, ejekan, sampai mengajak tidur. Sudah umum di Barat, tidak hanya pelecehan pria terhadap wanita, terjadi pula sebaliknya.

 

Apa saja yang dilakukan selama pacaran? Data yang disusun oleh Dr. Sarlito Wirawan Sarwono terhadap 417 responden remaja Jakarta, membuat kita merinding:

 

 

Tindakan, Jumlah, dalam Persen (%)

 

1). Berkunjung/dikunjungi di rumah pacar, 186 (64,6)

 

2). Saling mengunjungi, 124 (43,1)

 

3). Berjalan berduaan, 164 (57)

 

4). Berpegang tangan, 157 (54,5)

 

5). Mencium pipi, 136 (47,2)

 

6). Mencium bibir, 119 (41,3)

 

7). Memegang buah dada, 51 (17,7)

 

8). Memegang alat kelamin di balik baju, 35 (12,1)

 

9). Memegang kelamin di atas baju, 29 (10,1)

 

10). Senggama, 17 (5,9)

 

11). Tidak menjawab, 18 (6,3)

 

Dari mereka yang bersenggama, ternyata 80% dilaksanakan di rumah; 11% di hotel; 4,9% di taman; 2,8% di sekolah, dan sisanya di mobil atau ditempat yang kurang jelas. Tidak mengerankan bila Klinik Raden Saleh menerima 15 permintaan aborsi tiap pekannya. Dampak lain yang lebih jauh adalah munculnya sikap seks bebas dan free love, menjadi pemicu AIDS.

 

Islam Menyikapi Pacaran

 

Islam mengambil jalan tengah dalam segala hal, tidak mempersulit dan tidak membebaskan tanpa aturan. Islam bukan Din (agama) yang mengharamkan segala bentuk hubungan antara pria (ikhwan) dan wanita (akhwat). Namun, tidak membuka pergaulan bebas antara pria dan wanita.

 

Dasar diperbolehkannya pergaulan antara pria dan wanita terdapat dalam QS. 49: 13 yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan wanita; serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya saling mengenal“. Tujuan utama dari pergaulan dalam Islam ialah untuk meningkatkan nilai-nilai takwa dan kebajikan, sebagaimana yang tercantum dalam QS. Al-Maidah: 2.

 

Islam berorientasi (berpedoman) pada pendekatan presentatif (yang baik) dari kuratif (yang jelek/buruk), telah sejak dini mengantisipasi dan mengatur hubungan antara lelaki dan wanita agar tidak terjadi berbagai macam kejahatan seksual yang melemparkan manusia dalam jurang kehinaan.

 

Islam tidak mengenal istilah pacaran, sebab di dalamnya terdiri dari hal-hal yang dimurkai/dilaknat oleh syari’at Islam (Al-Qur’an dan As-Sunnah) seperti:

 

1) Berkhayal/Zina Hati

 

Ingatan yang terus menerus, rasa rindu, dsb menyebabkan pikiran dan perasaan disibukkan dengan urusan pacar (duniawi). Akibatnya lupa untuk berdzikir pada Allah ‘Azza wa Jalla, Rab semesta alam.

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Telah tertulis atas anak Adam nasibnya dari hal zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tidak dapat tidak. Zina dua mata adalah melihat, zina dua tangan adalah menyentuh, zina dua kaki adalah berjalan, zinanya hati adalah menginginkan dan berangan-angan dan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakan.“ (HR. Muslim dari Abu Hurairah dengan Sanad Shahih).

 

2) Memandang dengan syahwat

 

Hai Ali, janganlah sampai pandangan yang pertama diikuti pandangan lagi. Sesungguhnya buatmu pertama, bukan yang kedua, dan dosa atas yang kedua.“ (HR. Abu Dawud dengan Sanad Hasan Shahih). Islam menyuruh umatnya untuk menundukkan pandangan (ghadul bashar). Berawal dari pandangan biasanya ketertarikan muncul. Lihat QS. An-Nuur: 30-31.

 

3) Pembicaraan yang manja/dibuat-buat untuk merayu

 

Firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Jangan kalian rendahkan (merdukan) dalam berbicara, sebab akan tergoda orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan ucapkanlah kata-kata yang baik (biasa).“ (QS. Al-Ahzab: 32).

 

Kalaupun kesannya diam, akan tetapi mengatur gerakan anggota tubuh, sehingga membuat orang terpesona juga dilarang. Dalam QS. An-Nuur: 30-31 yang artinya, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan yang demikian lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla Maha Mengetahui yang kamu kerjakan. Janganlah hentakan kaki mereka (dengan maksud) agar diketahui yang tersembunyi dari perhiasan mereka.”

 

4) Bersentuhan

 

Menyentuh lawan jenis dengan sengaja dalam keadaan tidak darurat hukumnya haram. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sungguh, kepala salah seorang di antara kamu ditikam dengan jarum besi lebih baik baginya daripada menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya.“ (HR. Tirmidzi dan Baihaqi dengan Sanad Hasan Shahih).

 

5) Memakai parfum/wangi-wangian. Hukumnya haram kecuali kepada suami dan mahramnya.

 

Parfum merupakan sarana yang paling halus dalam menyebarkan maksiat. Bentuk tubuh atau kecantikan bisa disembunyikan. Namun, dengan berparfum, orang yang di dekatnya dapat merasakan semerbak harumnya dan berkhayal jauh.

 

Syari’at Islam melarang penggunaan parfum yang tidak pada tempatnya. Diambil dari fatwa Al-Imam Al-Allamah Syaikhuna Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah. Rasulullah Muhammad ibnu Abdillah Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam bersabda, “Siapapun wanita yang memakai parfum, melewati sekumpulan laki-laki maka wanita itu sudah berzina“. (HR. An-Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi dengan Sanad Jayyid).

 

6) Khalwat

 

Khalwat ialah menyendiri atau bersepi-sepi dengan lawan yang bukan mahram. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki dan seorang perempuan bersepi-sepi, sebab setan laknatullah ‘alaik menemaninya. Dan janganlah seorang di antara kami bersepi-sepi dengan seorang perempuan kecuali dengan disertai mahramnya.” (HR. Muthafaqun ‘Alaih yakni Imam Bukhari & Imam Muslim dengan Sanad Shahih).

 

7) Ikhtilat (campur baur antara pria dan wanita)

 

Fatwa Lajnah Ad-Da’imah, Kerajaan Saudi Arabia (KSA) dan Fatwa Al-Imam Al-Allamah Syaikhuna Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berpendapat bahwa ikhtilat yaitu bercampur baurnya laki-laki dan perempuan dalam satu tempat yang memungkinkan saling berinteraksi satu sama lain.

 

Menurut ulama salaf, orang yang belum menikah dianjurkan (wajib) untuk bershaum (puasa). Kalau melanggar dari norma ajaran Islam maka harus didera 100 kali. Lalu diarak, ditonton keliling kota/desa serta dilempari batu hingga meninggal.

 

8) Memperlihatkan Aurat

 

Wanita diawajibkan menutup auratnya, sesuai dengan QS. An-Nuur: 30-31 yang artinya, “Dan hendaklah menutupkan kain ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka ….”

 

9) Berhias/Tabaruj

 

Menurut Al-Allamah Syaikh Zamakhsyari rahimahullah, tabaruj ialah memperlihatkan sesuatu yang seharusnya disembunyikan. Bisa berupa gerakan, cara bicara, berdandan, dll. Firman Allah ‘Azza wa Jalla, “… Dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah dulu .…” (QS. Al-Ahzab: 33)

 

10) Homo Seks/Lesbi (Liwath)

 

Firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri mereka, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barang siapa mencari di balik itu, maka mereka melampaui batas.“ (QS. Al-Mu’minun: 5-7).

 

11) Onani/Istimta’

 

Onani yaitu mencapai kepuasan seksual dengan menggunakan tangan. Jadi ini termasuk zina tangan. Supaya tidak melakukan, Rasulullah mengingatkan dengan sebuah hadist yang artinya, “Wahai sekalian pemuda, barang siapa yang sudah mempunyai bekal untuk kawin maka kawinlah sebab itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barang siapa yang belum mampu maka berpuasalah itu sebagai pelindung baginya“. (HR. Bukhari & Muslim)

 

12) Zina/hubungan seks

 

Puncak petaka dari pacaran ialah adanya hubungan seks di luar nikah. Islam sejak dini telah melarangnya, bahkan untuk mendekatinya saja sudah dilarang. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“. (QS. Al-Isra’: 32).

 

Hukuman bagi sang pezina dalam Al-Quran sangat berat, yaitu didera seratus kali bagi yang belum menikah atau dirajam sampai mati bagi yang sudah menikah.

 

13) Tasyabuh (mengikuti budaya orang kafir)

 

Rasulullah Muhammad Ibnu Abdillah Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam bersabda, “Barang siapa mengikuti suatu kaum, maka ia termasuk golongannya“. (HR. Imam Muslim dengan sanad Shahih).

 

Jadi intinya pacaran dalam kaca mata Islam itu hukumnya haram dan melanggar norma-norma hukum. Menurut metodologi pemahaman Rasulullah dan para ulama Salaf maupun Khalaf, menerangkan bahwa pacaran itu bertasyabuh (mengikuti orang kafir-red). Baik dalam berpakaian, tingkah laku serta bercampur baur antara laki-laki dan perempuan.

 

Lebih baik pemuda dan pemudi tersebut menikah daripada berpacaran yang membawa kepada laknat Allah dan menjerumuskan ke dalam jurang neraka yang dahsyat. Pernikahan mengikuti sunnah para Nabi dan Rasul serta sahabatnya yang mulia.

 

Hendaklah kita mulai sejak dini menjauhi mode orang kafir dalam media TV, radio, pakaian, musik, dll. Seharusnya para pemuda dan pemudi pelajari ilmu Islam dengan benar dan mengikut kajian/taklim yang di dalamnya mengajak. Agar umat Islam mendapatkan negara dan bangsa yang baldatun thayibatun wa Rabbun Ghafur.

 

Pacaran adalah pergaulan lawan jenis yang campur baur, budaya barat (kafir) dan tidak dikenal dalam Al-Islam. Din Islam yang sempurna telah mengatur dengan jelas dan gamblang tentang rambu-rambu pergaulan dengan lawan jenis, mencegah berbagai kekejian (zina, perkosaan, homoseks, lesbian, dan pelecehan seksual).

 

Dalam memilih pasangan hidup, marilah kita senantiasa berhusnudzan pada Allah Tabarakta wa Ta’ala Rabb semesta alam. Allah akan memberikan pasangan yang baik apabila kita juga harus berusaha memperbaiki diri.

 

Allah Tabarakta wa Ta’ala berfirman, “Wanita keji untuk laki-laki keji; dan laki-laki keji hanya untuk wanita keji (pula). Dan wanita baik untuk laki-laki baik; dan laki-laki baik untuk wanita baik. Mereka yang dituduh itu bersih dari yang dituduhkan, itulah ampunan dan rezeki yang mulia (baik)”. (QS. An-Nuur: 26).

 

Langkah pertama dan utama yang harus kita kerjakan sekarang ialah ibda’ binafsika (mulailah dari dirimu sendiri). Bukannya sibuk menengok kanan-kiri mencari pasangan (pacar).

 

 

Daftar Pustaka/Maraji:

 

  1. Al-Quran dan terjemahan dari DEPAG RI
  2. Kumpulan Kitab-Kitab Ulama tentang Hadist-Hadist Shahih & Maudhu serta Dhaif
  3. Tafsir Ibnu Katsir
  4. Al-Mukaffi. 1997. Pacaran dalam Kaca Mata Islam. Media Dakwah.
  5. Abu Al-Ghifari. Kudung Gaul. Mujahid Press.
  6. Abu Al-Ghifari. Remaja & Cinta. Mujahid Press.
  7. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syaikh Abdurrahman Al-Jibrin. Fatwa-fatwa. 2000. Memandang, Khalwat dan Berbaurnya Pria & Wanita (Ikhtilat).Solo: At-Tibyan. Cetakan III, November.
  8. Majalah Remaja Islam Elfata
  9. Majalah Islam Internasional Qiblati
  10. Haya binti Mubarok al-Barik. Ensiklopedi Wanita Muslimah. Darul Falah.
  11. Asy-Syaikh Abdul Hamid al-Hilaly. Saudariku, Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab?Darul Falah.
  12. Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Jarullah. Menjadi Mutiara Terindah. Solo: Pustaka Arafah.
  13. Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Jarullah. Wanita Muslimah, Inilah Surgamu. Pustaka At-Tazkia.
  14. Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu. Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka. Cahaya Tauhid Press.
  15. Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin. Penyimpangan Kaum Wanita. Darul Haq.
  16. Khaulah binti Abdul Kadir Darwis. Istri yang Ideal.Darul Falah.
  17. Asy-Syaikh Shaleh bin Ibrahim Syaibani. 7 Kunci Keluarga Sakinah. Darul Falah.
  18. Abu Bakar Al-Asy’ari. Tugas Wanita dalam Islam. Media Dakwah.
  19. Asy-Syaikh Faishal bin Sa’id Az-Zahrani. Ketika Kehormatan Dicampakkan. Solo: Pustaka At-Tibyan.
  20. Asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad bin Hasan Abu Thalib. Akibat Salah Pergaulan. Solo: Pustaka At-Tibyan.
  21. Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd. Bila Hati Dimabuk Cinta. Solo: Pustaka At-Tibyan.

 

Disampaikan pada acara Pesantren Ramadhan MTS dan SMP Muhammadiyah, Kota Bekasi-Jawa Barat 2010.

 

Ditulis ulang sebagai peringatan kepada para pemuda Islam pada 28 November 2019 di Jakarta oeh penulis (Abu Fayadh Muhammad Faisal, S.Pd, M.Pd, I) dan diedit oleh istri, Ummu Fayadh Indah Sari, S.Pd.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.