Pelajaran di Balik Sepasang Sepatu Kayu

0 141

KIBLATMUSLIMAH.COM – Nama beliau Nu’man bin Tsabit, atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Hanifah, salah satu dari empat imam madzab. Suatu hari, beliau pernah berpapasan dengan anak kecil yang berjalan mengenakan sepatu kayu. Melihat anak kecil tersebut sang imam berkata, “Hati-hati, Nak!  Dengan sepatu kayumu itu, jangan sampai kamu tergelincir.”

Anak kecil itu mengiyakan sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada imam Abu Hanifah atas nasehatnya. Penasaran dengan orang baik di hadapannya, anak itu bertanya kepada beliau, “Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?”

“Namaku Nu’man,” jawab sang imam. Dengan sedikit terperanjat ia kembali bertanya, “Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar Al-Imam Al-A’dham (Imam Agung) itu..?”

“Bukan aku yang memberi gelar itu, masyarakatlah yang berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku,” sahut beliau.

Mengetahui bahwa orang di depannya adalah seorang imam yang agung, anak kecil itu tanpa rasa takut berkata kepada beliau, “Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka karena gelar itu!” “Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke dalam api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya,” lanjutnya dengan nada serius.

Subhanallah… Mendengar perkataan anak kecil tersebut, ulama besar yang diikuti banyak umat Islam itupun langsung tersungkur, menangis mengingat tanggung jawab yang diembannya. Imam Abu Hanifah bersyukur, tak disangka sebuah nasehat indah tertuju kepadanya melalui lisan seorang anak kecil.

Sekelumit cerita di atas menyisakan banyak pelajaran. Pertama, betapa banyak manusia tertipu karena jabatan, tertipu karena kedudukan, tertipu karena gelar, tertipu karena harta yang berlimpah, ataupun tertipu karena status sosial. Jangan sampai kita tergelincir menjadi angkuh dan sombong karena gelar, jabatan, status sosial dan kebesaran di dunia.

Kedua, ketika sebuah nasehat itu baik, ambillah. Jangan sekedar melihat kepada si pemberi nasehat, tetapi lihatlah tentang apa yang dinasehatkan.

Semoga, kita menjadi pribadi yang lapang dada menerima masukan atas kekurangan kita dan berhati-hati atas apa yang Alloh amanahkan kepada kita. Amin.

Oleh : Sofiyah Al Wardah

Leave A Reply

Your email address will not be published.