Pandangan Islam tentang Bersatu dalam ke-Bhineka-an

0 32

Kiblatmuslimah.com – Pada tanggal 28 Oktober, Indonesia memeringati sebuah peristiwa penting dalam sejarah, Sumpah Pemuda. Saat pemuda Indonesia dari berbagai suku bertemu dan berembuk untuk menindaklanjuti status kemerdekaan negara.

Bersatu itu satu tanah air, bangsa, dan bahasa. Latar belakang peristiwa 28 Oktober 1928 itu jelas. Untuk merumuskan “apa dan seperti apakah” Indonesia. Namun oleh M. Yamin yang merupakan peserta kongres 28 Oktober, ikrar Sumpah Pemuda baru dirumuskan pada tahun 60-an. Meski pada tahun itu Indonesia telah diproklamasikan merdeka dan dirumuskan sebagai suatu tanah air-bangsa-bahasa, masih saja diincar oleh negara-negara haus kuasa.

“Satu” adalah tentang bilangan. Tunggal, tanpa sekutu. Meski realita menunjukkan keberagaman yang beraneka, kata “bersatu” merangkul semuanya dalam kesepakatan dan keyakinan.

Ikrar Sumpah Pemuda berusaha merumuskan bahwa “Indonesia” adalah tanah kelahiran sekaligus tempat berkarya bagi masyarakat yang lahir di atasnya. “Indonesia” adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi oleh penduduknya. “Indonesia” adalah budaya yang bermacam-macam dari warganya. Semua diterima dan diakui sebagai ciri khas dan kultur yang melandasi kehidupan sosial di dalamnya.

Dengan semangat persatuan itu, segala lini masyarakat berjuang hingga Indonesia lantas mendapat pengakuan kemerdekaan di mata internasional, secara de facto maupun de jure.

Kemudian di masa kini, Islam dituding melanggar hak ber-bhineka. Umat yang berusaha menjalankan syari’at dipandang anti-Nasionalisme. Bagaimana bisa? Sedangkan Islam memiliki rumusan yang lebih sederhana dan mendasar tentang persatuan. Sehingga pihak-pihak yang anti-Islam mestinya tidak khawatir jika umat Islam memiliki sikap intoleran atau pemecah belah persatuan.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat: 13, Allah berfirman tentang keberagaman yang Dia ciptakan dan tujuan di balik keberagaman itu. Maka, apakah menyatukan keberagaman berarti meniadakan fitrah perbedaan? Tentu tidak!

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Bagi seorang Muslim, cukup syahadat sebagai rukun Islam pertama; menjadi landasan persatuan yang mesti diusahakannya. Ya, setiap Muslim bersaksi tiada Ilahi yang berhak disembah selain Allah dan Muhamad Shalallaahu ‘alayhi wa Salam sebagai Nabi dan utusan Allah; risalahnya benar dan selayaknya dibenarkan.

Bersatu bukan tentang menghilangkan keberagaman. Bukan pula tentang menyamakan teks lafadz suatu ikrar. Namun bersatunya kaum Muslimin adalah upaya iqamatuddin. Bertujuan agar hanya Allah saja yang diibadahi di muka bumi ini. Sehingga, perbedaan tempat tinggal, bahasa dan kebudayaan; tidak akan dipermasalahkan oleh Islam. Selama tidak ada praktik kemusyrikan terhadap Allah.

Lantas, bagaimana dengan pihak-pihak yang enggan tunduk pada ketentuan Allah? Mungkinkah ada hunian lain di mana mereka bisa berlepas diri dari kuasa Allah?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 22)

Semoga kita tetap bersatu dalam ikatan Islam walaupun berbeda-beda suku, warna kulit, bahasa, juga bangsa.

MuHa

Leave A Reply

Your email address will not be published.